Melompat

‘Ayo cepat melompat’  seru seorang anak kecil (hmmm…mungkin usianya sekitar 5 tahun) kepada teman yang sedang bermain bersamanya di taman bermain.

‘Ayo…pelan-pelan saja…lompat!’ masih terus menyemangati teman yang tiba-tiba menghentikan lari karena ragu untuk melompati sebuah kubangan kecil.

‘Ayo…kamu pasti bisa, boleh manfaatkan waktunya, teman-teman sudah berkumpul di sana’ mulai terdengar nada sedikit tidak sabar karena temannya masih saja diam di tempat, masih ragu, tidak berani melompat, satu persatu teman lain sudah mendahului mereka. Beberapa masih peduli dengan mengajak melompat sambil terus berlalu, beberapa terlihat tidak peduli.

‘Ayoo….aku tinggal ya, nanti aku panggilkan bu guru saja’ setengah menyerah, dia mulai berlari kecil meninggalkan temannya. Namun baru 5 langkah, dia kembali berlari menuju temannya yang masih saja terus terdiam, dan kini justru telihat sedih menahan tangis.

‘Ayooo….hitungan ke-5 kamu lompat ya? Aku bersabar menunggumu’ ajakannya dijawab dengan gelengan lemah dan air mata yang mulai menetes perlahan di pipi temannya. Melihat itu, dia melompati kubangan kecil untuk kedua kalinya, mencoba mendekati temannya.

‘Looo, kamu menangis? takut banget ya untuk melompat?’ dia memegang pundak temannya sambil terus menatap mata temannya itu, hingga kepalanya diputar ke arah bawah agar bisa tetap kontak mata dengan temannya yang semakin menunduk.

‘Hiks…iya….aku takut jatuh, dulu waktu kelompok bermain, aku pernah jatuh’

‘Tak perlu takut, dulu kamu masih kecil, sekarang usiamu sudah bertambah! kepandaianmu juga sudah bertambah.  Lihat, badan kita sama tinggi, kaki kita sama panjang, pasti kamu bisa melompat sepertiku, dicoba yuk, aku melompat dulu, kamu lihat, terus kamu lompat deh’ gerak-gerik, bahasa tubuh, dan ekspresinya sungguh lucu saat meyakinkan temannya, kali ini sang teman berhasil mengangguk pelan, pertanda setuju untuk mencoba melompat. Dengan semangat dia melompat. Sebelumnya dia mundur 3 langkah lalu berlari kecil dan melompat memberikan contoh kepada temannya.

‘Hap….ayo giliran kamu…boleh mundur dulu biar lompatnya sampai’ dengan penuh semangat dia membagi sedikit kiat agar bisa melompat lebih jauh. Kali ini temannya mundur 3 langkah dan bersiap berlari, namuuuunnn…kembali menghentikan langkahnya sebelum melompat. Dia kembali melompat ke arah temannya.

‘Belum yakin ya?’

‘Iya, boleh melompat bareng nggak?’ sambil mengangguk pelan, temannnya mencoba menawarkan solusi mengatasi ketakutannya.

‘Ya sudah kita lompat bersama aja ya, pegang tanganku, kita hitung sama-sama, 1,2,3, terus lompat bareng. Yuk…aku mulai hitung ya…..mundur dulu yuuk….mulai satu….dua…..tiga….lari…’ sambil bergandengan mereka melompat bersama. Dan mereka berhasil melompati kubangan itu. Terpancar rasa senang tak terkira, mereka saling berpelukan dan berlari kecil bergabung dengan teman-teman yang lain.

*****

Subhanallah…

*****

Melompat!!!

Kejadian sederhana dari anak TK yang membuat saya banyak berpikir pagi ini, soal melompat, lompatan, dan juga  hukum aksi reaksi dan proses yang ada di dalamnya.

Bagaimana dengan kita (orang dewasa-red) kawan???

Miss u all😉

Pos ini dipublikasikan di Anak-anak, belajar dari anak-anak, inspirasi, Kisah APIK, Mama. Tandai permalink.

2 Balasan ke Melompat

  1. Lidya berkata:

    kadang orang dewasa juga masih aja ada yang takut loh mbak

  2. ~Amela~ berkata:

    entah kenapa kok aku jadi berkaca2 ya bacanya,.
    malu rasanya,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s