30 Menit Yang Mendebarkan

Sebulan sekali, di sekolah adek ada Program Pengenalan Makanan Sehat kepada anak-anak. Program ini ‘wajib’ dihadiri oleh orangtua secara bergiliran. Pada hari itu, orangtua bertugas mengenalkan makanan sehat di kelas anak masing-masing, saat jam makan bekal (kurang lebih sekitar 09.15). Menu sudah ditentukan dari sekolah, disesuaikan dengan tema pembelajaran pada bulan berjalan.

Bulan lalu, saya menggantikan tugas pengenalan makanan sehat di sekolah adek. Menunya adalah Bubur Kacang Hijau. Sebelum memulai acara, kami dikumpulkan terlebih dahulu untuk mendapat petunjuk teknis pelaksanaan kegiatan ini. Kami belajar singkat, bagaimana cara membeikan informasi kepada anak-anak, bagamana kalau ada anak yang bertanya tiada henti, bagaimana kalau ada yang bilang tidak suka/nggak doyan, dll….hhhhmmm, sepertinya mudah!

Saya pun dengan pedenya menuju ke sentra Ibadah, karena saya menggantikan tugas ibu yang berhalangan hadir, jadi saya dapatnya ga di kelas adek. Tugas-pun dimulai setelah bu guru memperkenalkan sambil bertanya pada anak-anak, siapa saya. Senang sekali rasanya mendengar anak-anak serempak menjawab “Mama Syafaaa” (aih…aih…GR banget loohh).

Mulailah saya menerangkan dengan semenarik mungkin….uuuppsss, masalah dimulai!

Ternyata tidak semudah yang saya kira, ga sesederhana apa yang dipaparkan bu guru saat kami berkumpul sebelum acara dimulai. Kenapa otak ini tiba-tiba ‘nge-heng‘. Susahnyaaaa nyari kosa kata buat bicara di depan anak-anak. Saya mulai panik saat anak-anak mulai banyak bertanya. Bu guru senyum-senyum di pojokan…saya memandang bu guru dengan pandangan memelas pertanda saya butuh bantuan bicara….qiqiqi….sempet diem sejenak, mikir kudu ngapain…hingga akhirnya saya dapet ide jitu untuk mengatasi panik itu.

‘Bubur kacang hijau itu mengandung banyak vitamin looo teman-teman, ada yang tau?’

‘A, B, C, D, E…..’ (anak-anak berebut menjawab dengan jenis-jenis vitamin yang pernah mereka dengar)

‘Aku suka kacang hijau’

‘Aku pernah makan kacang hijau’

“Aku dong pernah beli kacang hijau di depan rumah’

‘Aku ga suka….nggak doyan…mau muntah…’

DST….DST….DST….anak-anak sibuk menceritakan pengalamannya soal kacang hijau, semuanya pengen bicara, semuanya ga mau kalah seru…

Hadeewww…mendengar antusiasme anak, kok saya jadi lupa ya jenis vitamin apa aja tadi ya di kertas contekan yang disediakan bu guru…beneran loo, saya mendadak lupa dan terserang rasa takut ‘salah menjawab’. Dah gitu, saya bingung mengatasi anak-anak yang berebut menceritakan pengalamannya….

whhhuuuaaaa….ternyata ga gampang jadi guru…*mulai berasa gerah banget, padahal ruangan ber-AC*

Setelah sempet terhenyak beberapa detik….saya segera nyadar sikon…buru-buru bertanya pada bu guru…(minta tolong yang elegan…qiqiqi)

‘Vitamin apa aja ya bu guru???’ (whooaaa…bener-bener SOS deh, Alhamdulillah bu guru menjawab menggunakan kalimat-kalimat yang mudah dimengerti anak-anak, —*saya sendiri ga pernah kepikir melontarkan kalimat itu, harus banyak belajar sama bu guru deh*–)

Tiba-tiba saya dikejutkan oleh pertanyaan seorang anak…..

‘Mama Syafa punya pengalaman apa sama kacang hijau?’

Pas kulirik-lirik…, whaaaa….. bu guru lagi ngambilin lap buat membersihkan tumpahan bubur kacang ijo….bingung deh kudu jawab apa….

‘Hmmm…apa yaaa….dulu waktu kecil, mama Syafa pernah ikut panen kacang hijau di kebun’

Tak dinyana, semua anak langsung terdiam, memandang takjub dan terlihat sangat penasaran. Ini membuat saya meneruskan cerita masa kecil saya. Saya ga sampe kebingungan mau bicara apa, karena mereka sungguh tertib bertanya satu persatu….(beda banget sama tadi pas berebutan bicara)

‘Terus pohonnya seperti apa mama Syafa?’

‘Buahnya seperti kacang panjang? Terus diapain kok jadi kecil gituuu’

‘Mama Syafa ga takut ada ulatnya?’

Alhamdulillah, ternyata saya terselamatkan oleh cerita masa kecil, dan sepertinya anak-anak cukup senang mendengar cerita saya (lebay yaaaakkk)…..tapiiiii, saya juga merasa bersalah, karena saya ga sempat menjelaskan cara membuat bubur kacang hijau itu sendiri….maafkan saya ya naaakk….

***

Sepulang sekolah, saya bertemu dengan salah satu anak di kelas tadi…dia memberi salam dan memberi kode untuk membungkukkan badan, ternyata dia berbisik ‘Mama Syafa lihat deh, kulit aku haluuuss deh (sambil mengelus kulit tangannya), soalnya udah makan kacang ijo tadi, terus mama Syafa punya pohon apa lagi waktu kecil? besok ceritain lagi ya’

***

 

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Mama, RA Istiqlal, Syafa. Tandai permalink.

5 Balasan ke 30 Menit Yang Mendebarkan

  1. ~Amela~ berkata:

    waah.. seru mbak seru.. kreatif banget ya program2 di sekolahnya dek syafa

    • Devi Yudhistira berkata:

      Iya mel….
      Sayangnya, aku juga baru mulai tahun ini bisa berpartisipasi,
      sebelumnya ……sampe Syafa protes ‘tiap ada acara mama-mama di sekolah, kok mama ga pernah datang siiihh’ sedih banget deh meeelll

      Semoga tahun ini bs rapelan hadir…hehehe

  2. Aninda berkata:

    Mama Syafa jadi idola baru ya di sekolah.. 🙂
    Bagus banget acara di sekolah Dek Syafa, TK saya dulu ga pernah ada begini. Palingan cuma ada makan bersama aja..

  3. Lidya berkata:

    harus punya extra sabar ya mbak jadi guru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s