Lelaki Dua Generasi

Laki-laki itu berjemur, berharap ada tambahan vitamin yang bisa menambah kekuatan tulang di rentang usianya yang semakin renta, sambil terus berusaha mengatur napas yang sudah mulai sering sesak

Dalam kesendirian dia termenung….

dari sorot matanya, terlihat hatinya remuk redam,

di mana semua orang yang pernah aku sayang?
ke mana semua orang yang pernah aku sayang?

Tangis tergugu mengingat beberapa tahun silam…

dia sungguh menyesali tingkah kekanak-kanakannya,
dia baru menyadari tingkahnya itu menebar luka dimana-mana.

Laki-laki itu berupaya keras, mulai mencoba kesibukan baru….

dia mencoba memungut kasih sayang yang tercecer dimana-mana,
dia mencoba memunculkan kembali rasa yang sempat dia tinggalkan.

Akhirnya, laki-laki itu harus menerima kenyataan, bahwa kesempatan tak akan datang dua kali.


Masa tak bisa dikembalikan.

*****

Mengeringkan luka harus melewati fase merasakan perih terlebih dahulu bukan?
Entah mana yang lebih perih, penyayat atau yang tersayat. Nyatanya, keduanya sama-sama perih.

*****

Laki-laki muda itu….cuma bisa meneteskan airmata.

Mengingat pada masa lalu…

pernah kesal melemparnya parang,
pernah jengkel mencaci makinya,

pernah memukulnya geram sampe lebam-lebam,

katanya : ‘saat itu aku dan adik-adikku belum cukup menjadi alasannya untuk bersikap layaknya orang dewasa, hingga tingkah kekanakannya itu menyakiti kami’

selalu terlintas harap dan asa….

andai ada yang bisa kulakukan untuk mengembalikan dia seperti dulu

andai ada yang bisa kulakukan untuk membuatnya bahagia
andai ada yang bisa kulakukan untuk menyadarkannya bahwa kebersamaan itu indah tak terkira, kebersamaan itu mahal harganya

Laki-laki muda itu…selalu ingin melihatnya tersenyum,
terlepas dari kebencian yang mengelilinginya,
selalu ada keinginan di hatinya,

"selama raga ini masih mampu membahagiakannya, mumpung masih muda dan masih diberi kesempatan, akan kulakukan, itu juga belum seberapa dibandingkan cucuran keringatnya menjadikan aku seperti sekarang ini, akan kubantu dia mengumpulkan kepingan-kepingan kasih sayang yang pernah diserakporandakannya, aku janji".

****

Pos ini dipublikasikan di Fiksi-fiksi-an. Tandai permalink.

3 Balasan ke Lelaki Dua Generasi

  1. vizon berkata:

    Sebuah pepatah mengatakan: “hati itu bagaikan kaca, jika pecah takkan bisa menjadikannya utuh seperti semula”. Maka, hati-hatilah menjaga hati, terutama hati anak-anak kita, agar mereka tak tumbuh dalam dendam dan kepedihan berkepanjangan..

  2. mamaray berkata:

    Hebat ya Si Anak…. Dia tidak dendam, dia justru ingin membantu bapaknya memahami arti kebersamaan/keluarga.

    Kadang orang berlaku kurang baik, bukan karena dia tidak mau berubah (menjadi baik), melainkan dia belum tahu ilmu/caranya.

  3. Imelda berkata:

    asal keduanya mau melepaskan segala kesombongan diri, pasti kebahagiaan itu bisa diwujudkan kembali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s