Harmony: Purnama kali ini

Aku sedang merindukan seseorang.
Yaaa, seseorang yang sangat berarti dalam hidupku.

Hanya saja, aku selalu tak tau, bagaimana cara menyampaikan rinduku yang menggebu ini.

Ada saja yang membuat lidahku tercekat.
Ada saja yang membuat bibirku kelu.
Ada saja yang membuat suaraku hilang begitu saja sebelum sampai ke mulut.

Keinginanku, berseberangan inginnya.
Pikirku, berseberangan pikirnya.

Bagaimana dengan hatiku?

Hatiku??? Kuakui…selalu ada dia,
Hatinya??? Kuyakin, bahkan lebih dari yakin…selalu ada aku.

Waktu terus berjalan,
Masih saja semua sama.

Aku sulit paham dengannya.
Aku sulit paham dengan perbuatannya.
Aku juga sulit paham, apa yang sesungguhnya dia cari dalam hidup ini.

Kebahagiaankah ???

Yang seperti apa???

Ingin sekali mencoba paham, lalu belajar memandang dari sisi lain tanpa banyak bertanya, hingga dia tak sedih. Seiring berjalannya waktu, banyak hal yang semakin tak kupahami.

Mungkin aku terlalu sombong, sok tau, dan dengan angkuhnya merasa paham apa yang terbaik untuknya. Padahal, sesungguhnya, tak ada satu manusiapun di dunia ini yang bisa paham apa yang terbaik menurut Sang Pencipta.

Pada akhirnya…hatiku ini hanya bisa berkompromi pada satu hal.

Aku harus mendoakan.
Selalu mendoakan.

Allah selalu memberikan yang terbaik, yang terbaik, yang terbaik…

***

Purnama kali ini,
tiba-tiba saja aku merindukannya. A m a t  S a n g a t .

Purnama kali ini,

ada satu pemahaman baru, apapun pilihannya, apapun yang dilakukannya, apapun itu…apapun itu….Sesungguhnya, aku hanya ingin dia  b a h a g i a . Itu saja.

Bahagia dengan hidupnya.
Bahagia yang sesungguhnya.
Hingga bahagia abadi di surga.

Purnama kali ini,
aku belajar satu hal. Tak penting rasa janggal yang selalu hinggap di otakku. Tak penting seribu tanya soal hal-hal yang tak masuk di akalku. Ada yang lebih penting dari semua itu.

B a h a g i a n y a.

Purnama kali ini,

sungguh mengingatkanku padanya, mengingat saat dia bertanya…’kamu mau jadi apa?’ Lalu kujawab…‘aku mau jadi astronot agar bisa sampai ke bulan’. Keinginanku sungguh tak masuk akal, karena keterbatasan umurku, tapi selalu dia yang jadi orang pertama bisa menerima, mendukung, paham, tanpa pernah mengecilkanku. Lalu sambil menggendongku ke atas pundaknya…dia selalu berkata.…’suatu saat nanti mbak sampai ke bulan, jangan lupa ada papa di sini sedang memandang dari atas rumah ini, …kalau mbak ada di bulan, papalah orang yang paling bahagia untuk mbak’….

Meski aku tak pernah benar-benar menjadi astronot, kuyakin, dia tetap jadi orang yang paling bahagia saat aku bahagia. seperti apapun jenis bahagiaku, (bahkan di saat bahagiaku tidak sama dengan standar bahagia yang banyak dbuat oleh manusia), tanpa banyak meminta penjelasan
.

Meski mungkin dia tak lagi sibuk memandang bulan dari atas rumah saat purnama datang, bukan berarti dia melupakanku.

Aku yakin selalu ada rindunya untukku.
Demikian juga denganku, selalu ada rinduku padanya, meski masih dalam diam.

****
Purnama Merindu @ Pondok Bambu, 11 November 2011

Miss u, dad…..

***

Terkait :

Harmony: Lukisan Bunga

Pos ini dipublikasikan di Harmony, Mama, Puisi. Tandai permalink.

19 Balasan ke Harmony: Purnama kali ini

  1. sidkon berkata:

    Dia itu maksudnya bapak ya? memang klo beda generasi agak susah menyamakan ide mengenai kebahagiaan, tapi ada standar bahagia yang sama, yaitu merasa senang ketika melakukan kebaikan, tanyakan saja kepada hati kita yang lebih paham arti bahagia

  2. ~Amela~ berkata:

    aaah. romantisnya. *melting*
    Eh, kok malah saya yang melting? hihihi

  3. jumialely berkata:

    dari awal sudah nyangka pasti buat ayah.. ya tetap ayah yang selalu sulit bagi mbak devi untuk mengungkapkan sesuatu, pasti dia selalu merasakan apa yang ada di hati mbak devi, kasih sayang yang selalu sulit dinyatakan secara langsung.

    peluk sayang……

  4. Prima berkata:

    Huuuffff…. semakin menyedihkan sepertinya… MBak, bersyukur lha, beliau masih dekat, gak perlu beli tiket mahal buat ketemu, dan beliau masih bisa mendengar dan melihat… Kesempatan tidak selamanya datang, waktu dan umur manusia berbatas, jadi kenapa harus menunggu???🙂

  5. Nchie berkata:

    Ah aku tebak pasti ayahnya..
    Seperti waktu kita kopdar..
    Sempet kan kita curhat2an..
    Aku tentang ibuku..
    http://nchiehanie.blogdetik.com/index.php/2011/11/dear-pahlawan-surat-buat-iburahayu/

    Ah baca postingannya hiks2…
    di tambah lagu yang mendayu-dayu..
    berusaha menahan air mata

    hanya bisa mendoakan,semoga orang tua kita selalu dalam lindunganNya..

  6. Nchie berkata:

    Mba devi pernah bilang padaku..
    Selama di hati kita masih menyimpan dendam,angkuh..pada ortu
    Sulit kita memaafkan,..

    Sedih banget baca komennya Prima hiks..

  7. Imelda berkata:

    aduuuuuh baca tulisan ini sambil dengar lagu latarnya…. sukses membuatku sesegukan sendiri di dini hari yang dingin dan sepi.

  8. bundadontworry berkata:

    membaca judulnya saja bunda dah tau
    ini pasti tentang Papa
    yang selalu menjadi sesuatu yang masih belum bisa menetramkan Devi🙂
    insyaAllah dengan sabar, memaafkan dan menerima Papa apa ada nya
    juga melembutkan hati sendiri ,
    Devi pasti bisa …………..
    dan, kerinduan mu sama persis dgn kerinduan Papa juga pd Devi🙂
    (peluk2)
    salam

  9. rully berkata:

    jangan sampai yang mbak rasakan hanya merupakan persepsi mbak devi, dan bukan apa yang sebenarnya terjadi (halah, aku kok muleek ae…)

  10. Ping balik: Harmony : 21 Agustus 2013 | Belajar dari anak-anak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s