Penumpang infant

Panggilan yang ditujukan kepadaku membuatku lari pontang-panting berusaha secepat mungkin masuk pesawat. Ups… kenapa juga aku pake lari segala…hehehe…apakah sekedar menghapus perasaan bersalah karena hanya kami berdua yang dipanggil melalui corong? *masih bertanya dalam hati juga, kenapa otomatisnya kok lari yak?*

***

Sampai di atas, di kursi kami berdiri seorang anak kecil, di sebelahnya ada sang ibu yang menggendong adik bayi. Dia mulai gelisah saat tau bahwa kami-lah si empunya kursi tempatnya berdiri. Mulai menangis kenceng, tak mau dipisahkan dari sang ibu. Sang ibu juga panik mendengar anaknya menangis. Dimintanya sang bibi menggendong paksa, semakin berontaklah dia.

Sebagai sesama ibu, kami tahu persis apa perasaan ibu tsb. Kemrungsung pastinya. Dengan berat hati, mencoba memberikan masukan. Bagaimana kalau si bayi saja yang dioper ke si mbak di kursi seberang. Hiks, maafkan saya ya bu, semoga ga termasuk kategori ikut campur, saya tau pasti, ibu pasti ingin mendekap bayi yang masih mungil itu. Tapi tangis si abang membuat saya tidak tega, soalnya si adek masih tidur pules. Setengah terpaksa, ibu memberikan bayi kepada si embak, tangis si abang terhenti dan mendekap ibu. Berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak!

Sang ibu menasehati si abang, intinya menegur. Abang hanya bisa menunduk sambil meletakkan kepalanya di pundak ibu.

Saya? diam, semakin merasa tertohok merasa bersalah, amat sangat, pada si abang!

Otomatis semua nasehat dan teguran buat si abang terdengar oleh telinga ini. Sambil mikir, musti berbuat apa saya ini. Tiba-tiba si abang menegakkan kepalanya, lalu menatap mata sang ibu sambil berkata “Ibu, maapin aku bu, maapin aku!”

Whaaaa, saya yang bukan ibunya, tak terasa meneteskan air mata. Haru!

Kalimat itu cukup sakti menghentikan perkataan sang ibu yang hampir 15 menit tiada henti, menerjang titik koma yang harusnya terselip dalam semua kalimat yang diucapkannya.

Sang ibu memeluk erat anaknya, tak berkata suatu apa.

“Ibu belum maapin aku ya bu? Maapin aku bu!”

*saya yakin kalimat kedua ini lebih sakti dari yang tadi diucapkan si abang, karena kali ini air mata sang ibu deras sekali meluncurnya*

Apa doa saya saat itu? *dan mungkin juga sama dengan doa sang ibu*

“Semoga adek bayi tidak bangun sampai pesawat mendarat di Jakarta”

Alhamdulillah, adek masih tidur pules, kami semua tersenyum lega.

***

Dulu pas pertama naek pesawat bawa anak-anak, agak kaget juga pas tahu kalau kami nggak boleh duduk satu deret, dan saya mengalami hal yg sama persis dengan cerita di atas.

Pos ini dipublikasikan di Anak-anak, belajar dari anak-anak. Tandai permalink.

12 Balasan ke Penumpang infant

  1. LIdya berkata:

    knapa gak boleh duduk satu deret ya mbak? aku baru tau hal ini loh.
    kemarin sih Allhamdulillah aku duduk satu deret

  2. monda berkata:

    Aku baru tau juga aturan balita duduk sederetan di penerbangan terakhir juli lalu. Rombongan keluarga yang saling tukar tempat duduk sehingga dua bayi duduk sejejer. Ditegur sAma pramugari untuk pindah. Alasannya mungkin supaya tak heboh kalau sama2 nangis Atau alasan keselamatan?

  3. kakaakin berkata:

    oo… ternyata gak boleh ya..
    Selama ini saya belum pernah berangkat bareng keponakn2 sih…

  4. zee berkata:

    Ah terharu membayangkan kejadian itu. Aku sering melihat deretan anak lebih dari satu dan ortu, memang ga boleh sederet. Aku juga pernah dulu disuruh pindah waktu pergi rame2 dgn ortuku dan ponakan. Jadi selang seling deh..

  5. Asop berkata:

    Walah, tak boleh kumpul keluarga di pesawat?šŸ˜†

  6. mandor berkata:

    kalau anak nangis di tempat umum, sudah pasti kelimpungan ibunya.

  7. Devi Yudhistira berkata:

    Nanti saya lapor ke mamih lily dulu ah…..mau nanya jelasnya bagaimanašŸ™‚

  8. bundadontworry berkata:

    Devi ini sependek pengetahuan bunda ya,
    bahwa penumpang yg dinamakan infant itu adalah dibawah 2tahun, dan masih boleh dipangku oleh orang tuanya, diberikan tambahan pelampung utk si anak oleh pramugarinya.
    tentang aturan tidak boleh duduk berbarengan sekeluarga, bunda belum pernah tahu, malah baru dengar.
    sebenarnya tidak ada masalah kok, khan bisa dipesan jauh hari ketika kita booking seat ya.
    Seat yang tidak dibolehkan di pesawat untuk bayi atau anak2 adalah utk menempati kursi yg dekat pintu darurat/ jendela darurat.
    semoga ini cukup membantu ya DevišŸ™‚
    ( hihihi…komennya kok kayak postingan yaaaak…..panjang amat…šŸ˜³ )
    salam

  9. Imelda berkata:

    sepertinya yang si abang di bawah 2 th ya? Kalau lebih dr 2 th kan otomatis beli kursi jadi seandainya dia punya seat tapi tidak berderet berarti masalah di cek in counter atau wkt pemesanan. Kalau belinya mepet, ada kalanya tidak bisa duduk berderet. Karena itu jika bawa 2 anak yang tidak dapat seat, lebih baik beli seat satu (aku pernah membeli seat utk bayiku krn tidak mau menderita, dan duduknya bisa lega) . Jangan mau hemat tapi menderitašŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s