Nonton Bioskop

Minggu kemaren, kesampaian juga acara nonton bioskop bersama anak-anak.

Rafif dan ayah pengen nonton Tendangan Dari Langit, sementara Rahma dan mama pengen nonton Lima Elang.

Bagaimana dengan Syafa? ‘Aku mau sama ayah…’

****

Film Lima Elang, film yang super layak dan bagus buat ditonton anak-anak, TOP BGT deh!!!.

Di era digital sekarang ini, nak-anak sibuk berinteraksi dengan komputer/iPad/HP/PS/mainan-mainan canggih lainnya. Minat anak-anak terhadap kegiatan seperti Pramuka tidak seperti jaman saya kecil dulu. Semoga film bertemakan Pramuka ini bisa memberikan gambaran tentang siapa  dan apa Pramuka itu hingga membuat anak-anak berpikir kembali dan tergerak untuk menjadi seorang Pramuka.

Dulu, ikut Pramuka adalah sebuah hal yang sungguh membanggakan.

Bangga sekali rasanya terpilih untuk menjadi salah satu anggota regu yang mewakili sekolah.

Bangga sekali jika di baju seragam penuh dengan berbagai simbol kecakapan, apalagi kalau sampai simbolnya ditempel di selempang coklat (macam yang dipakai Rusdi di film 5 Elang)…rasanya bangggaaaaaa bangeeeettt!

Meski karier Pramuka saya tidak bagus-bagus amat, tidak sampai kepilih ikut Jambore Nasional, tapi saya merasa bangga bahwa saya pernah ikut Pramuka. Terakhir kalinya, saya tergabung dalam Saka Bhayangkara.

Balik ke film lagi ya…

Tentang film ini sudah pernah ditulis oleh mas Alamendah dengan judul 5 Elang Film Keluarga Petualangan Pramuka dan Uda Vizon berjudul 5 Elang.

Saya hanya akan menambahkan ada adegan yang sungguh menarik, soal perbedaan pendapat yang akhirnya memisahkan regu itu menjadi 2.

Adalah Rusdi, seorang pramuka penggalang yang selalu membawa buku saku Pramuka dan agenda yang berisi macam-macam pengetahuan, tips2 dan petunjuk2 yang biasanya dibutuhkan oleh anggota Pramuka. Saat terjadi perbedaan pendapat, Baron mengatakan ‘tidak semua hal ada di buku kamu itu’.

Ini mengingatkan pada fenomena yang sering terjadi dalam kehidupan kita. Ada segolongan orang yang taat dengan aturan tapi menerapkan dengan ‘kaku’ hingga dalam keadaan tertentu, di mana keadaan itu tidak disebutkan dalam aturan, bakal menjadi hal yang tak akan pernah terselesaikan dan terus menjadi perbedaan bahkan  tak jarang terjadi perdebatan/permusuhan.

Konflik yang terjadi di film ini berakhir indah, pada akhirnya masing-masing menyadari bahwa tak perlu saling menyalahkan, pihak Rusdi menyadari bahwa tidak boleh sepenuhnya tergantung pada apa-apa yang disebut di buku, karena banyak hal yang masih bisa dipelajari di luar buku tsb, sementara pihak Baron juga menyadari bahwa informasi buku itu juga  ternyata banyak membantu saat mereka kesulitan di hutan.

Okelah, mungkin kita bisa bilang, itu kan dalam film…???

Bagaimana dalam kehidupan sehari-hari?

Menariknya, dalam kenyataannya, anak-anak memang lebih bisa menyikapi berbagai perbedaan yang timbul di antara mereka, kadang mereka justru lebih bijaksana menyikapinya.Mereka juga tak pernah malu untuk ‘saling mengakui’ dan dengan ‘legowo’  melakukan ‘penyelarasan’ demi mencapai tujuan bersama dengan tetap bahagia.

Kenapa kita orang dewasa susah sekali menerima perbedaan seperti mereka yaaaa?

***

Untuk review film Tendangan Dari Langit, sudah dibuat oleh Rafif di sini

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Abang Rafif, Anak-anak, belajar dari anak-anak, film, Kakak Rahma, kunjungan, Mama, Syafa, Umum. Tandai permalink.

13 Balasan ke Nonton Bioskop

  1. vizon berkata:

    Orang dewasa lebih sering terlihat tidak bisa berdamai dengan sekitarnya, barangkali karena pertimbangan kepentingan.. Kalau anak-anak, kepentingan mereka hanya bermain.. So, mereka bisa dengan mudah beradaptasi, asal ruang bermain mereka tersedia dengan cukup.. 🙂

    semoga semakin banyak yg memproduksi film sejenis 5 Elang ini ya..

  2. Lidya berkata:

    saat ini masih sedikit film2 khusus untuk anak-anak ya

    • devi yudhistira berkata:

      sebenarnya dah mulai banyak mbak…sinetron2 juga banyak kan…
      hanya saja pesan2 moral dan percakapan serta adegan2nya yang harus disesuaikan benar-benar untuk konsumsi anak-anak dan mengajarkan kepada kebaikan tentunya…ini yang susah….

      kita berdoa bersama ya mbak….

  3. nh18 berkata:

    Saya bersyukur …
    di era saya muda dulu (halah) … Pramuka masih sangat ngetrend
    saya ikut di gugus depan SMP saya … walaupun saya sudah kuliah tingkat awal
    memang rasanya membanggakan dan sekaligus mengasikkan kegiatan pramuka itu

    Salam saya

  4. Imelda berkata:

    pramuka dong, deh, loh!
    aku bisa seperti sekarang juga karena ikut pramuka dulu. Jika tidak? waaah ngga bakal betah tinggal di Jepang juga 🙂

    EM

  5. edratna berkata:

    Mungkin perlu banyak film anak-anak yang mendorong mereka untuk keluar dari sarang dan melakukan kegiatan alam. Anak-anak saya dulu masih ikut pramuka, karate, silat, selain piano. Juga masih main panjat-panjat an…..

    Jakarta yang suka macet menghabiskan energi anak-anak untuk kegiatan diluar sekolah….sampai rumah udah capek sekali.

    • devi yudhistira berkata:

      Bu Enny…sebenarnya anak sekarang agak susah bergerak, terutama di Jakarta ini.
      Kadang ortu juga lebay, banyak khawatir yg berlebihan *termasuk saya ini*, jd anak2 cenderung kurang mandiri.
      Waktu mereka bermain keluar rumah terlalu lama dikit saja, saya udah cemas…gimana mereka mau maen panjat2an…

      Soal kemacetan di jkt, yaaah demikian adanya…mmg tdk kondusif banget ya buat anak-anak…

  6. maminx berkata:

    saya cuman sempet liat trailer nya pas nonton film apa gitu ya lupa. Di trailernya nampak seru sih mbak. ternyata emang rame ya. harusnya nonton ma ponakan nih. tapi masih tayang gak ya di bioskop? saya juga pas SD bangga tuh ikutan pramuka, apalagi kalau outbond gitu 😀

  7. rully berkata:

    kalau dulu panjat pohon, sekarang panjat tangga dan lift di mall.
    kalau dulu berenang di arus kali pinggir hutan, sekarang sudah ada arus buatan di waterboom.
    kalau dulu butuh berbagai simpul dan pasak untuk tempat tidur saat berkemah, sekarang sudah ada tenda instan yang tinggal set set set langsung jadi.
    kalau dulu perlu hiking atau cycling untuk tahu dan teliti tempat wisata, sekarang cukup googling dan browsing sudah dapat informasi lengkap…
    kalau dulu masih ada lahan di sekolah untuk berlatih baris berbaris, sekarang baru berapa langkah sudha kepentok tembok beton kelas.
    jadi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s