Di Batas Senja 3 : Patah Tumbuh Berganti

Index Trilogi:
1. Di Batas Senja 1 :  Tlah Lekang oleh Usia , ditulis oleh nDaru
2. Di Batas Senja 2 : Generasi Muda, ditulis oleh Dewo
3. Di Batas Senja 3 : Patah Tumbuh Berganti, ditulis oleh Devi

Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Jika ada kesamaan cerita dan nama pemeran, maka itu adalah kebetulan semata.

Mbah Broto sedang thenguk-thenguk di teras rumahnya yang asri, ditemani harum bunga melati kesayangannya.  Disposisi telah diberikan kepada Bu Yahmi agar  menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan cucunya.

‘Hm, wis sepiro genduk iku saiki, mesti wis gede, ayu koyok mamahe, opo yo isih pethakilan koyok ndek mbiyen kae yo?’ ingatannya melayang ke beberapa tahun yang lalu,  saat bertemu pertama kalinya dengan Ndaru di  Jerman.  Meski gendut, pipinya cempluk, tapi polahnya kayak anak cowok yang suka panjat-panjat apa aja. Untunglah tempat tinggal mereka di Jerman sana jauh dari pohon kelapa, kalo iya pastilah nDaru kecil bakal sering menghilang dan ditemukan di atas pohon karena bisa naiknya tapi nggak bisa turunnya.

La, ponakannya itu, ya papahnya si nDaru dalam telegramnya cuman bilang mau nitip anak bungsunya yang katanya special itu. Ga ada petunjuk apapun.

‘Numpang nanya mbah, apa bener ini rumah Mbah Broto?’ seorang pemuda berkacamata, bergigi gingsul bertanya dengan sopan.

‘Iya nak…hm, apa ini nDaru? Loh…nDaru kan perempuan to?’ mbah Broto sedikit bingung, namun karena si penanya menunjuk ke arah mobil, barulah mbah Broto mudeng, kalo perempuan yang sedang manyun di mobil itu pasti nDaru.

Manyun suranyun, nDaru turun dari mobil tak banyak bicara. Lalu Dewo pun segera pamit, soalnya Dewo khawatir, kalau kelamaan di situ bakal iba melihat sahabatnya yang terus manyun, nanti malah pengen ngajak pulang.

‘Nduk, sini-sini, masuk…kok kamu beda tenan sama waktu kecil dulu, apa kamu diet to nduk…kok jadi kurus begini. Dah sana istirahat dulu saja, mbah mau siap-siap nulis lagu dulu’

nDaru berlalu menuju kamar, rasanya pengen tambah marah pas nyadar tempat tidurnya tak berkasur.  Tapi karena capek banget, direbahkan juga tubuhnya ke amben itu.

‘Tang..ting..tang…ting…tong….jrang jreng jrang jreng…’ mbah Broto sedang nyetem gitar dan mencoba piano yang sudah lama tak pernah disentuhnya. Lalu mulai memainkan lagu-lagu keroncong kesukaannya, seingetnya, la wong buku lagu juga sudah ga punya.

Mendengar permainan piano mbah Broto, nDaru merasakan sebuah getaran hebat. Lama sekali dia tak memainkan musik sejak papa mama marah besar, gara-gara dia kecanduan narkoba, papa mama melarangnya main musik. Musik yang dimainkan mbah Broto membuat rindu bermusiknya muncul kembali, tak tertahankan. Tiba-tiba saja, nDaru merasakan damai yang luar biasa. Entah kenapa. Senyumnya mulai mengembang. Dilangkahkan kakinya ke ruang makan, menghampiri mbah Broto.

‘Maafkan aku mbah, mrengut wae dari tadi, habis aku masih kesel sama papa mama, mosok malah si Dewo yang suruh njemput terus ngantar aku ke sini sih. Mbah lagi ngapain’

‘Mbah pengen ngajak anak-anak kampung sini pentas 17-an, makanya mbah jadi main music lagi. Kamu bisa main gitar? Atau piano?’

nDaru mendekati piano dan mulai memainkannya, tanpa sadar yang dimainkan ya musik yang tadi sempat didengarnya tentu saja dengan versinya sendiri, yang cukup membuat mbah Broto berdecak kagum.

‘Nah, ini dia yang aku cari….you bring it down, keroncong … right kembali ke the town, you can … musiknya anak muda, tapi tetep kedengeran keroncong di telingaku…hebat kamu nduk! Yowis, bantu simbah menuliskannya di buku yo, kita buat lagu-lagu macam itu, biar keroncong juga tapi tetep digemari anak muda.

‘Tenang aja mbah, serahkan pada nDaru!!! ‘ dengan gaya khas dan senyum mengembang (senyum inilah yang selalu bikin Dewo dag-dig-dug-der ga karuan), nDaru meyakinkan mbah Broto.

Hari-hari mereka sibuk bikin lagu, bahkan Bu Yahmi selalu sibuk mengingatkan saatnya makan, saking asiknya bermusik, mereka berdua sampai lupa makan. nDaru semakin mengenal mbah Broto dengan baik, demikian pula mbah Broto, semangat bermusiknya muncul kembali tak terbendung, ditambah lagi dia tak perlu repot menggugah lagu karena nDaru yang bekas anak band itu sungguh luar biasa sanggup menandingi selera musiknya.

Kadang muncul protes nDaru, dengan cool mbah Broto hanya  menanggapi “ Nikmati aja, protesnya disimpen dulu, yo Nduk”

nDaru senang sekali, bisa membahagiakan mbah Broto, apalagi cita-citanya sungguh mulia, ingin mengenalkan keroncong kepada anak-anak muda.

Ru, kamu baik-baik aja kan di situ?’ sms Dewo yang  agak cemas karena nDaru ternyata ga pernah ngasih kabar kepadanya. Meski cemas, tetep aja Dewo bertahan sms tak lebih dari 10 kata. Ini gara-gara Dewo udah nggak pake BB lagi. HP-nya yang kudu ditunyuk-tunyuk  layarnya bikin repot nulis sms.

Hayah…yo aku apik2 ae kok Wo, wis betah aku saiki, lagi sibuk aku nggugah lagu, lumayan gawe kesibukan, don’t worry. Nih aku kirimkan 2 lagu hasil gubahanku, keren lo, wo. O,ya, di sini gada pohon kelapa, tapi adanya menara yang buat provider telpon apa gitu, jadi lumayan lah bisa buat manjat-manjat’ balas nDaru.

Pentas 17-an tiba. Segala sesuatunya sudah dipersiapkan oleh nDaru, yang ternyata jago juga bikin acara. Kolaborasi mbah Broto dan nDaru cukup heboh dan disukai orang-orang di kampung. Pejabat kecamatan yang hadir-pun mulailah bertanya, ‘Siapakah Mereka’. Hadirin minta untuk menambah lagu yang mereka mainkan. Tak hanya orang tua, tapi juga pemuda pemudi berteriak ‘we want more’ berulang-ulang.

Turun dari panggung keduanya disambut oleh Dewo yang datang tak sendiri. Ups, ada dokter Devi juga yang terlihat sangat cantik malam itu menggunakan baju merah dan putih, dokter cantik itu langsung memeluk nDaru penuh haru…’kamu berhasil ru…kamu berhasil…kami bangga kepadamu, tak percuma papa mama mengirimkanmu ke kampung, kolaborasi hebat…, keroncong rap rock boleh diadu…top deh….tapi ada kejutan untukmu, lihat siapa saja yang datang bersama kami..’

Papa, mama….hiks…’ seketika nDaru lupa kalo dia sedang kesal dengan mereka, tangis mama bahkan masih bersisa, mama bilang ‘ru, kali ini tangis mama tangis bahagia buatmu Nduk…!’

Bersamaan kedatangan papa mama, datang  juga Om Nanang, produser rekaman ternama yang tertarik dengan kolaborasi itu. Rupanya Dewo diam-diam mengupload video latihan ke youtobe.

Tak terkira rasa gembira mbah Broto, membayangkan anak-anak muda bakal mengenal keroncong gubahan nDaru. Sayangnya kegembiraan yang bertubi-tubi itu membuat jantungnya lebih cepat berdetak, dan membuatnya pingsan. Tak sempat lagi nDaru mengucapkan terima kasih, tak sempat lagi nDaru berkata banyak…mbah Broto meninggal dalam perjalanan ke RS.

***

Album kolaborasi yang berjudul ‘Lagu di Batas Senja’ meledak di pasaran, nDaru kembali menjadi artis dan mendapat berbagai macam penghargaan di bidang musik.

Namun….meskipun anak-anak se-antero negeri ini mengaguminya …bahkan banyak yang bilang lagu nDaru super keren! (Di berbagai penjuru tempat terdengar lagu kita diputar, TV, radio, angkot, bis, pengamen , café, mal,warnet dan tempat wisata), dalam lubuk hati  yang terdalam terlukis keprihatinan nDaru terhadap perkembangan lagu anak di negeri ini, nDaru membuat keputusan penting dalam hidupnya, mengabdikan diri dalam Komunitas Pecinta Lagu Anak dan Daerah yang dimotori oleh om Nanang. nDaru bahkan rela pindah menetap di Salatiga, rumahnya (dengan dinding panjat bertengger di halaman depan) tak pernah sepi oleh kehadiran anak-anak yang ingin belajar musik keren ciptaan nDaru.

‘Keroncong ini boy….keroncong!!!’ salah satu anak yang belajar musik bergurau dengan temannya.

Arrgghh….kalimat itu sering sekali diucapkan mbah Broto seusai latihan dulu. Hingga kini nDaru memang tak pernah paham kenapa ada kata ‘boy’dalam kalimat itu.

***

Senja bagaimanapun juga tetap akan datang, tapi setelah senja dan gelap sebentar…fajar baru pasti menyingsing…jadi don wori bi hepi n heng taigh bro and sist!

cintai budaya negeri kita sendiri yuk!

***

Lagu inspirasi : Kroncong Protol (Bondan Prakoso feat fade to black)

Artikel ini diikutsertakan dalam Pagelaran Kecubung 3 Warna di newblogcamp.com.

***

To : Dewo n nDaru…huaaaa….pingsan sik aku yo …kekeselen dioyak-oyak  Dewo  kiy, hahaha…beruntung hari ini ga mati lampu, tur internet pas lancar, jadi bisa upload…makasih buat semangatnya!!! 🙂

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Fiksi-fiksi-an. Tandai permalink.

17 Balasan ke Di Batas Senja 3 : Patah Tumbuh Berganti

  1. Ping balik: Di Batas Senja 2 : Generasi Muda « ♫ Dewo ♪

  2. Kereeeen. Dukung TRIDI…

    *sambil tersipu-sipu*


    Lha iyo, kalo ga dukung tak balang bata
    Semoga lolos ya kali ini, kalo nggak lolos aku bisa sutris

  3. segokrawu berkata:

    semoga sukses ikut acara kecubung3warna, nggak sempet ikutan nih saya 😦

    ***hehehe, saya sempet banget ini, sampe 2 kali bikin cerita loh 🙂 ***

  4. Pakde Cholik berkata:

    Terima kasih atas partisipasi sahabat
    3 artikel telah saya baca dengan tuntas.
    Grup anda akan segera di daftar sebagai peserta
    Silahkan cek di page Daftar Peserta Kecubung 3 Warna
    newblogcamp.com
    Salam hangat dari Markas BlogCamp Group – Surabaya

    ***Alhamdulillah….akhirnya…sip deh pakdhe, ga jadi pingsan ini saya…hehehe

  5. bundadontworry berkata:

    alhamdulillah, terapi musik untuk Ndaru lewat Mbah Broto , akhirnya bisa membawa kesembuhan sekaligus tenaga baru utk kembali berkarya bagi Ndaru 🙂

    Semoga sukses dlm kontes K3W ini , Devi
    salam

  6. ndaru berkata:

    nganu…kalok aku boleh menambahken moral ceritanya….senja bagaimanapun juga tetap akan datang, tapi setelah senja dan gelap sebentar…fajar baru pasti menyingsing…jadi don wori bi hepi n heng taigh bro and sist!

  7. puteri amirillis berkata:

    alhamdullillah semoga daru terus sembuh dari ketergantungannya ya mbak devi,,,

  8. nia/mama ina berkata:

    wah akhir ceritanya keren mbak….rada2 konyol gitu hihihihi…….btw Ndaru itu cewek apa cowok?? akhirnya lolos juga ya mbak……smoga sukses yachhh di kontesnya pakdhe…..

    ***nDaru di cerita cewek mbak, kalo nDaru rekan satu grup di Tridi itu wanita 🙂

  9. Juri kecub 2 berkata:

    Kegiatan yang menyibukkan, itu intinya bagi mereka-mereka yang sudah keluar dari rehabilitasi, manjat tower provider operator misalnya. Sebuah gabungan kecintaan musik keroncong dengan darah muda menghasilkan perpaduan yang sangat bagus. Sukses dengan album barunya Ndaru yaa hahahaha
    Cerita sudah dicatat dalam buku besar juri, terima kasih

  10. gusngger berkata:

    Waooow keren…!
    Harus diproduksi massal nih.

    Salam…

    ***hehehe….lg belajar ini….rajin ikutan kuis. Siap menunggu penerbit yg mau….bagamana dengan APIQMedia? mau? hahaha***

  11. JURI KECUP 1 berkata:

    Kolaborasi istimewa antar generasi, menghasilkan karya nyata yang tidak meninggalkan cirikhas budaya negeri sendiri, cerita ringan dan penuh semangat.. 🙂

    walaupun agak terlambat, Juri Kecub datang,, untuk mengecup karya para peserta,, mencatat di buku besar,, semoga dapat mengambil hikmah setiap karya dan menyebarkannya pada semua

    sukses peserta kecubung 3 warna.. 🙂


    ***Mbak Juri…hehehe…makasih atas kecupannya, smg dpt nilai A***

  12. Juri Kecub 3 berkata:

    Keroncong, sesungguhnya hanya kurang dipopulerkan di kalangan anak muda. Musik import ini memang hanya lekat di telinga para orang tua. Saatnya yang muda menggubah keroncong menjadi musik dinamis. Tidak hanya mendengar lagu-lagu cengeng dan mendayu-dayu yang melemahkan daya juang.

    Kisah telah disimpam dalam memori untuk dinilai.
    Salam hangat selalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s