Gara-gara Sepatu Roda

Suatu saat aku bermain dengan adikku, waktu itu kami masih TK, seorang laki-laki yang tak asing mendatangi, sambil berkata “Ayo ikut denganku, nanti kubelikan sepatu roda”. Dia paham benar soal keinginan kami akan sepatu roda. Setelah berdiskusi sebentar, kami memutuskan ikut!

Bertiga berjalan menuju pangkalan mini bus antar kota dalam propinsi. Dalam mobil itu, kami bertemu dengan bu guru sekolah, yang sempat menanyakan ke mana kami akan pergi, dengan suka cita kujawab bahwa kami akan beli sepatu roda.

Perjalanan sore itu menjadi sangat lama seolah tiada akhir, kami tertidur saat mulut lelah menanyakan berkali-kali kapan kami akan sampai di toko sepatu roda. Akhirnya sampailah di sebuah terminal. Kami diajak berganti bus yang lebih besar. Katanya, kami akan menuju kota besar karena di sanalah ada toko sepatu roda. Hanya bisa menurut, lalu kembali tertidur.

Akhirnya sampailah kami di sebuah rumah. Malam sudah tiba, tak ada toko itu. Hiks, kamu mulai menangis, mencari mama. Lapar, cemas, dan tak karuan. Laki-laki itu mulai membentak agar kami diam, nyatanya adikku justru semakin kencang tangisnya.

Tak lama berselang, datanglah seorang wanita, yang kami kenal sebagai tetangga yang sering momong kami berdua saat mama pergi. Wanita itu mulai merayu kami agar kami makan. Suap demi suap masuk mulut kami, tiap kami terisak, wanita itu ikut terisak.

Pagi menjelang, masih berharap sepatu roda itu benar-benar ada. Esok hari, keesokannya lagi, bahkan keesokannya lagi, sepatu roda itu hanyalah janji palsu.

Arrgghhhh…setelah 3 hari, barulah kami sadar, ternyata kami sedang diculik!

*****

Sampai sekarang kami tak pernah punya sepatu roda, tak pernah pengen punya juga.

 

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Harmony, Mama. Tandai permalink.

17 Balasan ke Gara-gara Sepatu Roda

  1. mamaray berkata:

    waks, beneran ini…??

  2. nh18 berkata:

    Hhhmmm …
    Sama dengan mamaray …
    Serius loh ???

    Salam saya

  3. bundadontworry berkata:

    ya ampuuuun…………………….. Devi?
    beneran inih? sumprit? suwer ?
    trus? trus ? gimanaaaa…………………. 😦
    *ngeriiiiiiiii*
    salam

  4. Prima berkata:

    Parah! mana lanjutanyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…..

    kok berakhir dengan pernyataan menggantung yang gak menajwab akhirnya… 😦

  5. masyhury berkata:

    Wahh.. masi TK di culik??? serem ah! 😀
    Trus kelanjutannya gimana mbak?
    hmmm….

  6. Lha piye ini endingnya?
    Tidak bertanggung jawab karena telah menculik perhatianku utk membaca cerita ini.

  7. Ikkyu_san berkata:

    di sini sellau ditekankan tidak boleh sama sekali ikut orang lain meskipun kenalan, tanpa ortu tau. Ortu memang harus antar jemput anaknya sendiri, bahkan opa/omanya tidak bisa bawa pulang cucunya tanpa ada telepon/atau gurunya telepon ke ibunya.

    Pernah ada kejadian bapk ibu yang bercerai, tapi tidak kasih tau gurunya. Jadi gurunya mengijinkan si bapak utk bawa pulang anaknya. Dan menjadi masalah besar, sama dengan penculikan.

    Cerai memang menjadi masalah pada anak 🙂

    EM

  8. chocoVanilla berkata:

    Jeeeeenngg??? Ini benar menimpa dirimu??? Aawww….. medeni…..

    Jangan mau diajak siapapun tanpa ijin. Sekalipun itu Om, Tante, tetangga, dll. Sereeeemmm…….

    (cukup 3 hari saja diculik, bar kuwi cepet2 dibalekno, soale makanya banyak ya? :mrgreen: )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s