Ga boleh receh, ribuan boleh

Seorang laki-laki pantang menangis, tapi bukan berarti tak pernah bukan?

Begitu juga papa. Aku ingat betul.

***

Seorang tamu, teman dekat papa, memberiku uang 100 rupiah saat pamit. Ratusan logam yang besar. Aku bermain dengan uang itu. Dijentik dengan jari di lantai, koin berputar-putar ke sana kemari. Lelah bermain di lantai, kami (aku dan adik) mulai bermain sulap koin, saling menyembunyikan koin dan dulu-duluan menemukan.

Tak ingat apa yang terlintas di otakku saat itu, koin kusembunyikan dalam mulut, lalu aku tersedak, akhirnya koin itu masuk entah ke mana.

Sesak napas, tak bisa bicara, air liur tak henti keluar. Tangisku tak lagi bersuara, tak juga berhenti (saingan sama air liur). Semua orang panik, papa langsung membawa ke RS, di situlah kulihat dan kudengar tangis papa. Tangis kencang yang  jadi satu-satunya tangis kencang papa yang pernah kudengar selama aku tinggal bersamanya. Tak pernah kudengar papa menangis semiris itu.

Aku harus dioperasi di Yogya, dan itu operasi yang beresiko tinggi. Koin itu bersarang di leherku, masih beruntung posisi koinnya berdiri, jadi aku masih bisa bernafas, meski kadang sesak napas timbul.

Malam itu, aku tak berdaya…terkulai lemas, tak ada makanan dan minuman apapun yang bisa masuk ke mulut. Sampai mandor bangunan (saat itu rumah papa sedang direnovasi) datang, memberiku sebuah telur ayam kampung rebus. Kesal banget pas itu,…. la wong air aja nggak bisa masuk, ini malah telur rebus! Meski begitu, kuterima telur itu, kucoba memakannya (laper banget dari siang ga makan). Putih telur tak bisa masuk. Kuning telur beda lagi, mata rasanya mau copot saat mencoba memaksa menelan kuning telur yang bikin ‘seret’ itu, dan ppplluuuunnngggg….weks, koinnya ikut nyemplung…huaaaa lega banget rasanya deh…

Ga jadi deh dioperasi…horeee….

Tugas tambahannya adalah weks…tebak sendiri deh…(jijay)

***

Ternyata koin itu tak terdeteksi keluarnya….

Sampe sekarang aku sering bertanya dalam hati, jangan2 koin itu masih dalam tubuhku. Semoga tidak ah… Kalaupun masih, kira-kira dapet bunga berapa banyak ya? Atau malah jadi koin keberuntungan seperti milik Paman Gober? hehehe….

***

Pa…kutau kenapa tangis papa sedemikian dahsyatnya…papa sayang aku kan pa?

***

Sejak itu, papa melarang siapapun memberi kami uang koin. (artinya uang kertas saja ya…qiqiqi….)

 

 

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Harmony, Mama. Tandai permalink.

36 Balasan ke Ga boleh receh, ribuan boleh

  1. Ikkyu_san berkata:

    Ya papa akan menangis jika buah hatinya menderita apalagi sekarat.
    Papaku juga begitu waktu aku dioperasi usus buntu 😦

    EM

  2. Wakakaka… bukannya ikutan nangis, daku malah ketawa.
    Eh, kayaknya harus rontgen/USG. Bahaya tuh ada barang heavy-metal di dalam perut.
    Kalau lagi pup, kalau pas keluar pasti bunyinya cling, bukan plung.

    Peace ya, Mbak… Salam.

  3. masyhury berkata:

    Hahaha…
    Kok jadi ngakak yah? 😀
    Sebenernya leher aku udah gelik banget tadi waktu baca.. hihi.. 😆

  4. nh18 berkata:

    Beuh …
    serem banget Bu Devi
    Jadi sudah keluar belum ?
    kalau belum … ini bisa jadi susuk nih …
    susuk keberuntungan …
    🙂

    Eniwei semoga si dia sudah keluar
    cuma Bu Devi saja yang tidak sadar

    salam saya

  5. Mbah Jiwo berkata:

    hai yudistira salam kenal ya

  6. Prima berkata:

    jadi inget adiks aya diaksih permen relaxa sama tetangga, malah tersedak, duh same di baw ake puskesmas… maan dia blum bisa ngomong lagi, wkakakakaka….

    serem mbak, liat orang tersedak, mukanya kaya abis napas gitu.. hiiiiiiii…
    untung si koin akhirnya pindah ya mbak, dari tenggorokan ke kerongkongan… kayanya sudah digerus sama asam lambung mbak…asam lambung kan kuat banget… eh gak tau juga deh, tanya dokter aja 😛

  7. wulanmanjol berkata:

    waduuh, serem banget mbak?
    adik aku pernah mbak, nelen peniti.
    orangtuaku bingung, akhirnya bapakku menepuk leher belakang adikku, keluarlah itu peniti..
    salam kenal 🙂

  8. Necky berkata:

    mbak…coba pake magnet terus tempelin ke badan……siapa tahu bisa nempel….. hehehehe

  9. Nchie berkata:

    hehehe…ada2 aja yah..

  10. jumialely berkata:

    malam mbak dev…..

    Aku cuma sapa aja menunggu mata ini siap menutup.

    Belum baca artikelnya

  11. Bang Aswi berkata:

    Ih, cerdas sekali! Si bungsu bahkan lebih cerdas sekali, yaitu dengan meminta uang campuran. Ya, campuran uang kertas dan logam … xixixixi!

  12. jumialely berkata:

    pantes waktu balapan menuju simalem ada bunyi *crinkk..crinkkk gitu mbak dev* ternyata itu bunyi koinnya tho

    Saya juga dikasih uang kertas warna merah yang nol nya 5 itu mau kok mbak e

    *matre – pletak*

    papa pasti sayang banget dengan putri dan buah hatinya

  13. Kakaakin berkata:

    Berarti di rumah yang ada anak2nya nggak boleh sembarangan naroh koin ya…
    dan juga barang2 berbahaya lainnya…
    Hmm… saya lupa, apakah bapak saya pernah menangis atau nggak..hehe…

  14. Farijs van Java berkata:

    Kebanyakan lelaki menangis di dalam hati, Kak. 😀

    Pernah dulu waktu aku kecil ada seorang kawan bermain yang tidak sengaja menelan kelereng. Sesak-sesak juga dia. Kontan ibunya histeris, guling-guling. Ayahnya tenang sekali. Diurutnya leher dan bahu kawanku itu, lalu dipukul punggungnya menggunakan bahu tangan. Keluarlah kelereng itu. Tersenyumlah ia.

  15. chocoVanilla berkata:

    Ya ampuun, dirimu kok wis koyo celengan ngono to, Jeng? Jangan-jangan dah penuh tuh, nelen uang kertas 😀

    Tuh kan, laki-laki pun bisa menangis kalo dah menyangkut anak. Serius!

  16. Pakde Cholik berkata:

    Coba diperiksakan, jangan2 entar makin melebar tuh koin
    Salam hangat dari Surabaya

  17. rully berkata:

    wakakaka… iseeeeng amaaaat.
    eh, aku juga pernah sih, makan ceplik (kayak giwang yang di kuping itu lho)…
    hehehehe…

    • Devi Yudhistira berkata:

      wah jadi susuk kecantikan dong rul hehehe….

      pantes aura-mu kok aura logam mulia qiqiqiqi….

      • rully berkata:

        wahahahaha.. aya aya wae mbak… bilang aja wajahku keling kayak emas hitam wkwkwkwk…
        kalo aura logam mulia harusnya aku udah gak berlelah-lelah diri jadi khadimatul ummah, pns gini. di rumah aja cukup, sambil mengendalikan bisnis dengan tetap di dekat anak.. hiks, kapan ya…

  18. bundadontworry berkata:

    Papa sering menangis, karena kita , tapi air matanya lebih sering ditelan kedalam ,Devi
    aku juga mengerti ini, ketika suatu musibah menimpaku 🙂

    ngomong2 tuh koin,
    yakin udah keluar beneran Devi 😀 😀

    salam

    • Devi Yudhistira berkata:

      Iya bun…bener sekali…mungkin papa lebih sering menangis dalam hati karena ulahku…hiks…
      semoga Allah memaafkan sya….semoga papa juga menyimpan segudang maaf buat saya.

      *koin…nggak tau bun….selama hamil 3 kali sih gada tanda2 tuh koin masih ada hihihi, kan usg terus?*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s