Ada apa dengan kita?

Di sebuah perempatan jalan, ada 2 orang kakak beradik anak jalanan yang sering mengemis. Tingkah mereka menarik perhatian kakak beradik yang setiap hari melewati jalan itu. Anak jalanan yang usianya sepantaran dengan mereka, anak jalanan yang setiap hari ada di bawah lampu lalu lintas.

‘Ma, bolehkan aku beramal buat mereka? bukan uang ma, tapi sepatu’
‘Sepatu yang mana dek?’
‘Yang sudah kekecilan itu lo ma’
‘Ya, tentu saja boleh sayang’

Keesokan harinya, mereka senang sekali saat melihat sepatu itu dipakai oleh anak jalanan.
Mereka jadi bersemangat menyiapkan segala sesuatu yang bisa mereka berikan. Buku bacaan, mainan, juga makanan.

Suatu saat, anak terkecil terlihat bersiap membawa boneka kesayangannya.

‘Dek, mau dbawa ke mana bonekanya?’
‘Mau kukasih anak itu, ma’
‘Adek yakin? itu kan boneka kesayangan adek’
‘Emangnya kenapa ma?’
‘Adek ga akan cari-cari boneka itu nanti?’

Bimbang melanda hati si kecil.

***
Cerita yang menyentuh hatiku, diceritakan dengan sesal yang mendalam dari seorang ibu.
Berkaca-kaca menceritakan, betapa dia menyesal sudah mengucapkan kalimat seperti itu kepada anaknya.
Berkaca-kaca bertanya padaku, kenapa ya kita kok malah begitu…harusnya kan kita malah seneng anak kita begitu…kenapa ya, malah kita yang perhitungan?

Arrgghhhh….jadi ikut bertanya pada diri sendiri? Ada apa dengan kita ?

***
Terimakasih ya kawan atas ceritanya. Semoga menjadi pelajaran buat kita, orang dewasa.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Anak-anak, Mama, Umum. Tandai permalink.

19 Balasan ke Ada apa dengan kita?

  1. Wah, akhirnya ndak jadi diberikan ya? Besoknya saja diberikan. Hehehe…

  2. gaya hidup berkata:

    kita suka banyak pertimbangan jika ingin memberikan sesuatu pd seseorang ya Devi 😦
    sementara anak2 memberikan langsung , ketika mereka ingin memberi 🙂
    ini benar2 pelajaran bagi kita ,orang tua, kita sesungguhnya bisa banyak belajar spontanitas pd anak2 .
    salam

  3. apiqquantum berkata:

    Kisah inspiratif Mbak Dev!

    Ndak apa-apa… sudah terlanjur.
    Sekalian melatih sikecil agar mengambil keputusan dengan yakin.

    Mbak Dev sedikit saran ya…
    Tulisan sudah banyak dan bagus-bagus.
    Tolong dibikinin halaman dan sub-halaman agar kami bisa baca-baca lagi sewaktu-waktu gitu… apalagi kalau ada halaman tentang APIQ…pasti aku dukung hahaha….

    Suwun nggih…

  4. jumialely berkata:

    Itulah buktinya kita sudah terkontaminasi usia mbak e, sudah mulai memperhitungkan sesuatu, Suatu Virus penggunaan pikiran yang terkadang ikut menyebar ke dalam sebuah keikhlasan dan ketulusan. Mempertimbangkan ini dan itu, takut terjadi begini dan begitu.

    hihihihhihi

    Sok Tau,

    love you mbak dev.. kangen uey

  5. mandor tempe berkata:

    Keputusan adek sudah tulus kenapa masih dikasih virus faktor U (usia, untung) ? Ada apa dengan saya

  6. nh18 berkata:

    MMm …
    Menurut saya …
    Saya rasa tidak ada yang salah dengan pertanyaan sang Mama …

    Ini juga sekaligus melatih anak-anak untuk bisa mempertimbangkan segala sesuatunya …
    Dan saya yakin … anak-anak itu akan mengerti

    (ini menurut saya lho …)

    Salam saya Bu

    • Devi Yudhistira berkata:

      iya ya om, kita harus belajar memandang dari berbagai sisi…

      makasih ya om (semoga kawan saya baca komen om)

    • chocoVanilla berkata:

      Setuju ama Si Om. Kalo dari pihak Ibu sih kuatir kalo kelak si anak akan mempertanyakan kembali si boneka kesayangan itu. Kalo mantep sih pasti langung kasih. Mungkin si anak juga sebetulnya masih sayang, terbukit gak dikasih kan?

      Bagaimanapun ortu tetap bertugas mengarahkan 😀

      • Nchie berkata:

        Setuju banget sama OOm..
        Belajar mempertimbangakan segala sesuatu,lebih di pikirkan dalam memberikan barang apalagi yang kita sayangi,takutnya kan ada penyesalan si anak,ga baik juga kan..

  7. Prima berkata:

    Jrep!… (-_-‘) polosnya anak ekcil kadang ada bagusnya juga… gak kaya kita yang dipenuhi dengan prasangka ini itu…

  8. mamaray berkata:

    tentu melihat yang duduk beralas koran di trotoar lampu merah Wahidin, dengan tiga anak (salah satunya masih bayi banget)…

  9. Ikkyu_san berkata:

    aku pasti akan tanya begitu
    apa sudah yakin?
    sama alasannya dgn mas trainer
    melatih anak berpikir positif negatifnya
    hidup itu keras nak

    EM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s