Harmony(3) : Aku dan Papa

Pernah ga seneng sama lagu yang ‘pas’ dengan kehidupan yang sedang terjadi?
Pasti pernah (nuduh aja deh), biasanya, lagu itu juga yang bakal mengingatkan kita pada satu kejadian saat kita lagi demen-demennya ama tuh lagu. Terkadang, perasaan kitapun ikut larut saat mendengar lagu.

Wis, bingung mencari kata yang pas untuk kalimat pembuka soal satu lagu yang sering membuat menangis. Judul lagu itu adalah Harmony, dinyanyikan oleh Padi. Mendengar lirik lagu, membuat teringat papa. Maka, saat kangen papa, selalu mendengarkan lagu itu menjelang tidur.

Mungkin satu sebabnya, hm…apa ya…..bingung juga menggambarkan hubungan antara papa dan saya. Selalu saja ada salah paham diantara kami. Sebabnya ya macam-macam. Dan biasanya, akan berakhir dengan nada yang tinggi. Dan mama hanya bisa menangis 😦
(pasti posisi mama sangat sulit…hiks, maafkan saya ma)

Hiks….saya ini…….anak yang paling berani bicara melawan papa….anak yang paling berani mengkritik papa…anak yang paling berani mengingatkan papa…anak yang paling berani marah sama papa.

Ada satu masalah yang benar-benar fatal (menurut papa dan aku)….kami sama-sama ngotot dengan keyakinan masing-masing. Sejak itu, saya memilih untuk lebih banyak diam, sambil terus mendoakan papa dan mohon ampun pada Allah atas dosa saya perihal tindakan saya yang membuat papa amat sangat kecewa. Mama yang juga pasti sedih dan berada dalam posisi yang sangat sulit saat nada kami saling meninggi.

Sepertinya kami masing-masing saling mengubah cara komunikasi kami. Tak ada nada tinggi lagi. Tak ada lagi argumen. Apa itu pertanda lebih baik? Tidak juga. Semua itu karena saya lebih sering menghindari pembicaraan dengan papa. Hiks….sedih banget kan?
Saya yakin, papa dan juga mama pasti tak kalah sedihnya dengan saya. Hanya anak-anak lah yang menjadi pencair suasana dan jadi topik obrolan kami.

Ingin sekali saya bicara pada papa, betapa saya sangat bahagia menjadi bagian dari hidupnya.
Ingin sekali saya bicara pada papa, meski kami berbeda argumen, keyakinan dan pendapat, bukan berarti saya tak sayang padanya.
Ingin sekali saya bicara pada papa, bahwa diam-diam saya meniru hal baik yang sering dilakukan saat membentuk hingga saya menjadi seperti sekarang ini.

Kenapa semua kata-kata itu hilang saat sampai di depan gerbang rumah kala mengunjungi papa?
Kenapa semua kata-kata itu berganti dengan isak dan isak lagi, saat ingin saya sampaikan lewat telepon, bahkan dengan angkuhnya saya malu mengakui bahwa saya terisak…lalu saya akan memberikan hp kepada anak-anak agar papa tidak mendengar isak itu?

Papa senang sekali menyanyi. Saya juga senang menyanyi, meski kata papa, suara saya sering fals. Papa yang selalu menemani saya berlatih menyanyi untuk persiapan lomba. Padahal saya sama sekali tak pernah menang. Papa juga yang sering memaksa saya menyanyikan lagu keroncong kesukaannya saat grup keroncong berlatih di rumah. Hanya sekali saya juara menyanyi, itupun hanya juara 2 lomba karaoke di kantor papa.

Keinginan bicara selalu mentok dan batal. Akhirnya, saya memutuskan pengen kirim lagu dan suara saya. Tentu saja dilengkapi semua tulisan saya tentang papa yang sudah banyyaaakkkkk banget di blog ini.

Ga ada angin ga ada hujan, saya dengan pedenya pesan lagu ke mas dewo yang jago gitar, rencananya saya akan mengisi dengan suara saya, diselipin puisi. (dapet ide dari surprised hari guru di sekolah Rahma). Ga nyangka juga, mas dewo menanggapi dengan baik, di tengah kesibukannya mas dewo mempelajari lagu tsb, karena dia ngakunya ga ngerti blas lagu itu (dan saya percaya, karena aliran musiknya kan ‘metal’ ). Sampai akhirnya lagu itu masuk dalam inbox dan sekarang jadi backsound blog ini. (makasih ya…)

Sampai dengan hari ini, saya belum berhasil merekamnya dengan sukses…..saya benar-benar tak sanggup menyanyikannya tanpa isak!

*****
‘Kenapa sih setiap mama nyanyi lagu itu, pasti nangis?’

‘Ya Nak, mama kangen kakek’

‘Ya udah telpon aja sana’

‘Oke, kita telpon kakek yuukkkk’
………
………
…….
(saat mulai akan terisak) ‘Nih kak, gantian bicara sama kakek’

…(kakak dan abang mulai laporan pandangan mata soal nilai, berharap dibelikan sesuatu dan mainan apa yang lagi diinginkan)…

‘Kakek-kakek…kakek tau nggak, mama kan kanggeeeennnn banget sama kakek. Ada lo lagu yang selalu bikin mama nangis, soalnya jadi inget kakek! Judulnya Harmony kek, yang gini nih kek lagunya, …..(nyanyi dikit : kau membuat ku mengerti hidup ini) ….tuh kek aku aja sampe hapal, nih bicara sama mama lagi’

‘……hiks…hiks…..’

‘Mbak, papa bangga sekali sama kamu, anak-anak kamu hebat-hebat! Papa bangga kamu bisa jadi ibu dan istri yang hebat!’

‘Ya pa…..makasih’ …….aku juga bangga sama papa…. (hiks…sayangnya dalam hati saja)

‘huuuuwwwaaaaaa………ngabur ke toilet meneruskan tangisan’

*****

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Harmony, Mama. Tandai permalink.

40 Balasan ke Harmony(3) : Aku dan Papa

  1. Hiks…
    Semoga jembatannya segera selesai dibangun.

    GBU

  2. mamah Aline berkata:

    ikut merasakan kesenjangan itu mbak… kehadiran anak-anak bisa menjembatani hubungan anak dan ayah lewat cucunya, semoga tidak ada isak lagi saat bertemu di ujung telpon ya 🙂

  3. Dewi berkata:

    Same things here…but with my mom.. 😦

  4. julianusginting berkata:

    mmhh…lagu yang pas dengan kehidupan yg terjadi apaa ya… 🙂

  5. chocoVanilla berkata:

    Tinggalkan gengsimu, Jeng. Kan untuk papa sendiri kenapa mesti enggan? Ingat, kita takkan pernah tau sampai kapan kita bisa mendampingi ortu di dunia fana ini. Jangan sampai menyesal di kemudian hari. Tak ada salahnya kita yang muda mengalah dan mengerti.

    Gih, bawakan makanan kesukaan papa, dan manjakan beliau. Be a good girl 😀

    (Maap, sok teu, tapi aku paling sedih klo ada kerenggangan antara ortu dan anak. Beneran deh! 😦 )

  6. nh18 berkata:

    Ah …
    Sedih bener ini bu …

    Saya berharap …
    It’s gonna be OK …
    Smooth …
    Mengalir … lancar … ringan … tak ada lagi ganjalan

    Salam saya Bu

  7. Masbro berkata:

    Aransemen musiknya terasa damai, beneran Mbak;

  8. Prima berkata:

    T_T ikut mewek dulu mbak…. HUAAAAAAAAAAaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….

    *ini kok ya satu bukannya kasih semangat, malah mewek bareng, wkakakakkka…

  9. Nchie berkata:

    Hiks..Sedih banget Mba..
    Jujur aku merasakan hal yang sama,cuma aku sama mamaku..
    Aku dan Mama yang tak pernah sejalan,ya sering debat,ujung2nya nada tinggi aja..
    Baca ini jadi pengen nangis juga,..
    Semoga hubungan antara kita dan orang tua masing2 semakin membaik ..amin.

    Eh Mba katanya mo ke Bandung,kemana aku harus menghubungimu Mba..piye tho,mencari-cari info nih..

  10. gaya hidup berkata:

    Devi sayang, cobalah utk melunakkan hati sendiri dulu ya 🙂
    semoga Allah swt akan memberikan kemudahan jalan utkmu dan Papa ,amin
    (peluksayang)
    salam

  11. nuning berkata:

    sperti bca kisah sendiri mbk. hooh emang, diam tak berarti hubungan lbh baik. smoga ada jalan crita yg terbaik untuk kita smua k depannya

  12. jumialely berkata:

    hikssssss.. jangan gengsi akhhhhh

    ungkapkan ekspresimu, hilangkan egomu dan say.. Papa I love You…

    atau gini nih mbak dev….

    Papa ku sayangggggg. I love you .. pake nada canda…….

    jadi ingat bilang itu ke papa lho mbak…

    tapi papa tau aku mengatakannya dari hati

  13. tutinonka berkata:

    Kadang-kadang kita memang sulit mengungkapkan perasaan kita dengan kata-kata. Bagaimana kalau Mbak Devi menggantinya dengan memberikan sesuatu yang spesial untuk papa? Bisa membuat masakan khusus kesukaan papa, atau cd musik kesukaannya, atau apalah …
    Semoga ‘es’nya segera cair ya Mbak … 🙂

  14. Kakaakin berkata:

    Hwaaa… 😥
    Semoga nantinya hubungan itu bisa menghangat… 😀

  15. serlion berkata:

    lagunya pelaaan banget nih mbak…jd bikin tambah sedih..

  16. arman berkata:

    jadi terharu…

  17. mamaray berkata:

    aku berpikir… mengunjungi papa seorang diri (tanpa suami dan anak-anak) akan membebaskan hatimu, Mbak… kalo Rahma punya “Harinya Rahma” di blog ini, mungkin saja akan ada judul “Harinya Papa”…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s