Pers Nasional (antara harapan dan kenyataan)

QS Al-Qalam : 1 : “Nun, demi pena dan apa  yang mereka goreskan”

Hari ini adalah Hari Pers Nasional.
Hari ini beberapa rekan-rekan akan memperoleh anugerah Adinegoro, dalam berbagai karya di bidang jurnalistik.

Pagi tadi sempat membaca sebuah tulisan bertajuk : Jurnalisme Profetik, Panggilan Pers Masa Depan yang ditulis oleh Umar Natuna (Ketua STAI Natuna, Mantan Aktivis Pers Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang) di Koran Kompas hari ini.

Karena itu, ke depan diperlukan pemberitaan atau media pers yang mampu menyuarakan masalah besar di kalangan orang kecil, bukan seperti yang diberitakan pers selama ini, cenderung memberitakan masalah besar di kalangan orang besar. Masalah besar di kalangan orang kecil, seperti kejujuran, ketidakadilan, keterbelakangan, dan ketidakberdayaan, merupakan materi yang semestinya mendapat tempat dalam pemberitaan pers nasional ke depan.

Sebab, itulah esensi pers, yakni memperjuangkan hak-hak dasar masyarakat yang terlupakan, tetapi merupakan bagian dari semua persoalan yang dihadapi suatu masyarakat atau bangsa.
Pemihakan terhadap persoalan besar di kalangan orang kecil merupakan bagian dari misi jurnalisme profetik. Jurnalisme profetik adalah satu bentuk jurnalisme yang tidak semata menulis atau melaporkan berita dan peristiwa secara lengkap, akurat, jujur dan bertanggungjawab. Tetapi, ia juga memberikan petunjuk ke arah transformasi atau perubahan berdasarkan cita-cita etik dan profetik moral dan idealisme berbasis etis.

Hal ini berarti suatu jurnalisme yang secara sadar dan bertanggungjawab memuat kandungan nilai dari cita-cita etik dan sosial yang didasarkan pada emansipasi, liberasi, dan transendensi. Melalui jurnalisme profetik, kita berharap peradaban umat akan lebih tercerahkan.

Itulah panggilan jurnalistik yang harus jadi pilihan untuk dikembangkan dalam pemberitaan media massa kita ke depan, yakni pola jurnalistik yang mampu menempatkan kekuatan etik dan moral sebagai landasan dalam menentukan tulisan atau analisis perlu diturunkan atau tidak. Bukan lagi didasari atas pertimbangan komersial atau membela pihak-pihak tertentu sebagai pemilik modal.

****
Maaf jika kutipan yang saya tampilkan cukup panjang.

Dalam kesempatan ini, saya berharap (mengajak) kepada teman-teman agar berkenan memberikan komentar yang berisi harapan, masukan atau apa saja berkenaan dengan dunia pers nasional, (antara harapan dan kenyataan).

*****

Saya punya mimpi, menyiapkan jurnalis-jurnalis cilik agar kelak mereka dapat menjadi jurnalis yang memenuhi kriteria jurnalisme Profetik seperti yang disebutkan Umar Natuna!

Bagaimana menurut anda?

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Anak-anak, jurnalistik, Mama. Tandai permalink.

6 Balasan ke Pers Nasional (antara harapan dan kenyataan)

  1. Nyontek komennya Nedy: “semoga sukses, Mbak”

  2. nh18 berkata:

    Ya …
    memang susah untuk menulis sesuatu yang tidak memihak …
    memihak rakyat kecil pun sudah memihak namanya …

    dan tulisannya pun (kadang) memihak pemikiran sang jurnalis itu sendiri …

    So …
    Mudah-mudahan saja …
    Akan ada jurnalisme yang tidak memihak …
    (eh ada nggak ya ?) 🙂

    salam saya Bu

  3. ais ariani berkata:

    hari pers nasional kah mbakdev hari ini?
    baru tahu aku
    (ketahuan banget sih kupernya dan gak update berita banget…)
    harapan aku persis kek harapan Pak Umar itu di kompas,
    mencari berita yang memuat kandungan nilai dari cita-cita etik dan sosial yang didasarkan pada emansipasi, liberasi, dan transendensi saat ini semakin sulit.

    berita (di televisi khususnya ) kok jadi seperti nonton acara reality show.
    lebay.
    blow up berlebihan terhadap suatu kasus.
    aku lebay emang mbak, tapi kalau menanggapi berita yang berlebihan jadi berkurang nilai beritanya

    tapi kan aku bukan mahasiswa komunikasi, jadi sebenernya gak paham juga jurnalisme seharusnya seperti apa..
    😀

  4. fitrimelinda berkata:

    selamat hari pers nasional.. ^^

    semoga kedepannya pers indonesia semakin baik,,

  5. puteri amirillis berkata:

    sepertinya akan sulit jika pers tidak memihak, karena isi pikiran setiap media pers tentu tidak bisa disamakan … tinggal kita sebagai pembaca pers yang harus mampu memilah2nya mbak,,,tentu kita memihak pada yang benar ya mbak,,,salam saya mbak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s