aku, bidadari, mbak

Masuk rumah tergopoh-gopoh membawa tas-tas belanjaan. Rasa pegel di kaki belum juga ilang, akibat macet sepanjang perjalanan, melengkapi kepenatanku hari ini. Siang tadi data yang telah sebulan ku-entri tiba-tiba saja lenyap akibat keteledoranku.

‘Mama….hiks….hiks….kakiku sakit banget nih ma…. !’

Meringis kesakitan, bidadariku berlari kecil menyongsong kedatanganku yang telah dinantikannya sedari tadi. Biasanya aku sudah sampai di rumah jam 6 sore, tapi hari ini bukan hari biasa, rasa cemas akibat data hilang membawa kakiku menuju sebuah mall, tanpa sadar kuhabiskan uang jutaan rupiah belanja berbagai barang (yang sebenarnya tak penting).

‘Nak, maaf ya…mama capeeeekkkk banget! Jangan ganggu mama dulu ya, mbaaakkkkk, ini adek temani dulu mbak, saya capek banget. Tuh kaki adek kenapa mbak? Kamu ga hati-hati ya jagaian adek? Gimana sih kamu mbak? Jam berapa jatuhnya? Tadi adek makannya gimana? Susunya? Belajar apa saja? Duh kan saya dah bilang, adek tuh diajarin bikin prakarya, dibacain cerita? Kan dah ada jadwalnya mbak!’

‘……’ (hanya bisa mengangguk dan menggeleng)

‘Udah sana, bawa adek ke kamarmu’

Hanya kalimat itu yang spontan keluar dari mulutku saat lirikan mataku terpaku ke angka 23:00 yang ditunjukkan oleh jam digital di atas meja.

‘Tapi ma, aku mau tidur sama mama, kenapa aku nggak boleh? Aku sudah menunggu mama sejak jam 6 sore…’

Sesenggukan bidadariku bicara memprotesku. Kudengar tangisnya mulai meledak saat sampai  kamar si mbak.

Kubaringkan tubuhku di bathtub. Kunyalakan kran air sekenceng-kencengnya agar tak kudengar tangisan dari kamar si mbak yang tepat di sebelah kamar mandi. Kala air sudah penuh, kumatikan kran perlahan, akhirnya tangis itu sudah tak kudengar lagi. Sayup-sayup kudengar suara si mbak.

Muslimah cantik sholehah, kalau mama pulang kantor, biarkan mama istirahat dulu ya, apalagi hari ini mama lembur, pasti mama capek banget. Adek ga boleh begitu ya, mama sayang banget kok sama adek, maafin mbak ya dek, tadi adek sakit ya pas jatuh? Tapi kan sakitnya udah ilang, kan jatuhnya dah tadi siang? Besok kita buat rumah kardus yang dibeliin mama ya dek, biar mama ga sedih. Besok kita buat juga sup jagung yang kayak tadi siang, kita kasih mama ya, jadi mama tau kalau hari ini adek ga jadi bikin rumah karna adek pengen belajar masak. Besok adek bacain cerita buat mama. Pasti mama senang melihat adek lancar membaca hingga adek ga mau lagi dibacain cerita sama mbak…..dst…dst….

Arrgghhhh….terlintas lagi ekspresi bidadariku saat menyongsongku, …dia rela mengulang ekspresi sakit setelah jatuh tadi siang hanya agar aku mengerti apa yang terjadi padanya, …menatapku penuh luka saat aku mengusirnya dari kamarku… ekspresi mbak yang kebingungan. Tangannya memeluk bidadariku yang meronta tidak mau digendong, sementara telinganya harus mendengarkan pertanyaanku, pada saat yang sama dia juga harus menjawab pertanyaanku sekaligus mendengar kemarahanku jika jawabannya tidak memuaskanku….

***

(tadinya fiksi ini mau diikutkan kontes cermin berhikmah…tapi ga jadi, karena aku milih Dear Diary)

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Fiksi-fiksi-an. Tandai permalink.

20 Balasan ke aku, bidadari, mbak

  1. Hafid Junaidi berkata:

    oh, gitu toh mbak, ^_^

  2. nh18 berkata:

    hhhhmmm …
    membaca tulisan ini …
    mendengarkan “Harmony”

    klop banget

    nglangut !

    salam saya Bu Devi

  3. Necky berkata:

    dilema ibu yang bekerja….semoga data2nya bisa di recover, selama udh di save..insya Allah bisa dapat lagi tuh

  4. BunDit berkata:

    Fiksi yang menyentuh mbak. Kadang kalau sikap kita sama anak spt itu, ujung2 nya nyesel yach? hehehe 😀

  5. mamaray berkata:

    Alhamdulillaah ga sampe kayak gitu… 😦

  6. Prima berkata:

    aku pikir mbak devi itu si mama….wkakakakakakakak…

    kayanya kalo aku jadi bidadarinya, aku bakal nulis judulnya: saat-saat aku membenci mama…

    wkakakakkaak…

  7. chocoVanilla berkata:

    Aku terkejut! Ah, untunglah itu bukan kau, Jeng 😀

    Kadang masalah di kantor terbawa sampe rumah ya, jadi kasihan ma anak dan kekasih 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s