Belajar Tak Mengenal Usia

Alhamdulillah, beberapa ortu di MI Istiqlal sepakat mengadakan sharing tentang cara mengajarkan matematika kepada anak dengan cara kreatif dan menyenangkan.

Kegiatan tersebut sudah berjalan 2 kali, semoga ke depan bisa menjadi kegiatan rutin dan peserta sharing tetap komit dengan program ini, hingga diharapkan dapat memberi pengaruh yang positif kepada anak-anak.

Awalnya, saat lagi kumpul-kumpul, satu dua orang mengeluh soal matematika yang sungguh ‘luar biasa’ untuk anak terutama antara kelas 1 s.d. 3. Kenapa dikatakan luar biasa? Ya memang karena tidak seperti biasanya, dalam artian beda jauh sama jaman kita sekolah dulu (era 80-an).

Banyak sekali soal-soal yang membuat anak semakin minder n jiper sama yang namanya matematika, apalagi kalo mindset yang tertanam pada ortu ‘matematika itu sulit dan rumit’.

Oleh karena itu, PR besar bagi kita semua, bagaimana anak menyukai matematika, dengan demikian anak-anak tetap happy dan semangat belajar matematika.

Pada kesempatan lain, 11 Januari 2011 yang lalu, Ibu Wapres Herawati juga mencanangkan Gerakan Ibu-ibu Pintar Matematika (Gipika) yang dimotori oleh Prof. Yohanes Surya, berikut kutipan yang saya ambil dari web Gipika Surya Institute:

Mengapa sasaran GIPIKA adalah para ibu? Mampukah para ibu untuk belajar matematika?

Lebih dari 50% penduduk Indonesia yang 237 juta adalah perempuan. Lebih dari 25 juta adalah ibu-ibu yang mempunyai anak, suatu jumlah yang sangat besar! Para ibu ini adalah aset bangsa, yang bila diberdayagunakan akan menjadi suatu kekuatan yang sangat besar.

Para ibu ini mempunyai anak, sekaligus memiliki pengaruh besar pada anak dalam menentukan masa depan anak. Hubungan yang semakin baik yang terjalin antara ibu dan anak akan lebih memudahkan para ibu dalam mengarahkan anak-anaknya. Lewat GIPIKA, para ibu akan mengajar anak-anaknya Matematika—pelajaran yang ditakuti oleh begitu banyak anak—sehingga dengan sendirinya, hubungan antara ibu dan anak akan menjadi jauh lebih baik.

Apakah semua ibu mampu belajar dan mengajar Matematika? Jawabnya ya!

Pengaruh lain, dari sisi psikologis, tentu saja akan berpengaruh terhadap semangat anak-anak saat mereka melihat dan tahu bahwa mama dan papanya juga masih belajar matematika.

Meski di pertemuan pertama, masih pada ngeheng dan puyeng serta nggak nyambung, kita kudu tetap semangat, kita pasti bisa!!!

Cayoooo!!!

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Istiqlal, Mama, RA Istiqlal. Tandai permalink.

16 Balasan ke Belajar Tak Mengenal Usia

  1. dina.thea berkata:

    Kata temen saya, kadang pelajaran sd sekarang adalah pelajaran smp jaman dahulu, yah apapun deh bentuknya yg penting orang tua bisa mendampingi anak belajar, dan anak bisa jadi pinter 🙂

  2. gerhanacoklat berkata:

    setuju kak, kalo ibu nya pinter dan pinter ngajar pula kan otomatis anaknya ikutan mudah memahami dan jadi pinter pula 😀

  3. Prima berkata:

    Biasanya kalo di rumah sampe kelas 3, matematika masih tanya mama, sudah kelas 4, tanya papa… hahahahahah…

    Pertanyaannya: Kenapa sebagian besar, matematika lebih dikuasai oleh ayah???

    • Devi Yudhistira berkata:

      mencoba jawab : enggaaa juga kaleee…
      Hehehe,tp emang iya sih…kenapa ya?ibu2 ngajarinnya pake perasaan prim, alias kl anak ga mudeng2 jadinya kesel…kl para ayah emang hebat, bs sabar…dan juga kenapa mereka lbh oke ya matematikanya?
      aku cuma kenal penjumlahan,perkalian…ga kenal pengurangan n pembagian prim…

  4. Pake kalkulator boleh?

    (*hihihi… maklum, ndak bisa matematika*)

  5. nh18 berkata:

    Saya juga setuju …
    Semua orang … kalau mau … bisa belajar matematika …
    kita dikaruniai Logika oleh Yang Maha Kuasa

    Salam saya Bu

  6. chocoVanilla berkata:

    Woiiii Jeng…..

    Semoga berkenan menerima award dari saya ini yaaa….

    Thanks en segera dikumpulkan PR nya yaa… :mrgreen:

    • Devi Yudhistira berkata:

      Maktrataaaap…..kaget aku yu!
      kiyeh nagih pr sing endi yu?
      Haadduuhhh ngweih pr akeh banget sih rika…sing leganu ben durung digarap kooohhhh,kiye wis nambah siji mening.
      Jam pira dikumpulna? 🙂

  7. adityakuza berkata:

    Wahahahaha… berarti skrg jangan dulu PD yah klo suruh ngajar math ama anak SD.
    Hihi…
    Salam kenal mbak.. ^^

  8. Yossi Srianita berkata:

    Mbak ku yang baik…aku seneng baca tulisan-2mu. kapan2 info aku ya kalo ada Gipika lagi hehehe, kayaknya menarik tuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s