Dear Diary

‘Aku nggak mau ayah meninggal! Itu bukan kuburan ayah. Mana buktinya!’

‘Kalo besar nanti, aku mau jadi polisi, nanti akan kutembak semua dokter di RS itu. Kenapa aku dilarang ketemu ayah, mereka membunuh ayahku!’

‘Aku maunya sama Bunda…pokoknya sama Bunda terus, dimanapun, kapanpun, kemanapun!’

***

4 November 2009

Diary, hari ini kudengar lagi teriakan Hasan yang sedang mengamuk karena ingin tidur dengan Bunda. Sedih sekali aku mendengarnya. Dari kamar kudengar Bunda mengucapkan istighfar sambil terisak. Ah…Bunda pasti sedang bingung, malam ini Bunda harus memasak lemper pesanan temannya, sementara tangis Hasan tak juga kunjung henti.

Ya Allah…berikanlah kesabaran untuk Bundaku…berikanlah hidayahmu kepada adikku Hasan.

Rasanya sungguh tidak adil…hiks…ayah, dalam keadaan seperti ini aku kangen ayah.Ya Allah, aku bertanya kepada-Mu…

Kenapa  ayah harus meninggal,saat Hasan masih sangat kecil?

kenapa  dulu saat ayah tergolek lemah di ICU tak ada yang membolehkan Hasan menemuinya, bahkan di saat kritis terakhirnya?

kenapa dulu saat mobil jenazah mengantar ayah pulang ke rumah untuk dimandikan dan disholatkan, tak ada seorangpun yang berani memberitahu Hasan yang sebenarnya…hanya kalimat ‘ayah pulang’ yang berkali-kali diucapkan saat Hasan sibuk menanyakan ‘apa ayah sudah sembuh? ayah pulang ya?’

kenapa juga saat proses memandikan jenasah, semua orang dewasa melarang Hasan melihat jasad ayahnya untuk terakhir kalinya?

kenapa juga saat memasukkan jenazah ayah ke dalam kubur, Hasan tak dibolehkan melihatnya?

***

Ayah, sejak ayah pergi 4 tahun yang lalu, Hasan berlaku tak seperti sebelumnya. Hasan jadi pemurung, pemarah, ke mana-mana maunya sama Bunda, ngapa-ngapain juga sama Bunda. Sedikit sekali bicara, tidak mau bicara selain dengan bunda. Dia sering mengamuk di sekolah. Oya, sekarang Hasan sudah kelas 2 SD yah. Aku 3 SMA.

Ayah, Bunda membuka usaha catering dan menjahit. Untung dulu Bunda rajin ikut kursus ketrampilan, yang sekarang bisa menjadi sumber penghasilan keluarga, Bunda selalu memberikan yang terbaik buat kami. Meski kutahu itu amat berat buat bunda.

Ayah…Hasan masih menyimpan bendera kuning yang dipasang di ujung gang saat kepergian ayah, bendera itu selalu dipeluknya dan dibawanya kemanapun.

Ayah…Hasan selalu meminta semua orang untuk membongkar makam agar dia yakin bahwa ayah sudah meninggal.

Ayah, aku sedih sekali…Bunda bolak-balik mencari sekolah yang tepat untuk Hasan, karena hampir semua sekolah menolaknya. Bunda rajin membawa ke psikolog dan psikiater, tapi sampai sekarang belum ada hasil yang terlihat. Sementara biaya untuk ke sana sangat mahal. Saat ini Bunda memutuskan untuk menghentikan pengobatan, karena Bunda ingin fokus pada biaya ujian-ujianku dan biaya calon sekolah baruku nanti. Dosakah aku pada Hasan, ayah?

Andai aku bisa membantu bunda menjaga Hasan, pasti keadaan bisa lebih baik. Aku hanya bisa membantu bunda mengantarkan pesanan makanan dan mengantarkan jahitan. BUnda melarangku membantu di malam hari, karena aku harus belajar, agar kelak aku bisa jadi dokter. Ingatkah ayah, dulu kau sering memanggilku dengan sebutan dokter saat dengan cerewetnya aku mengingatkan perihal kesehatan. Aku  berpikir (dan sepertinya Bunda juga sepakat) bahwa itu adalah harapan ayah, dan aku akan berusaha semampuku mewujudkannya.

Ya Allah…berikan kesabaran untuk bundaku. Kembalikan Hasan seperti dulu.

***

25 Juni 2010

Diary, entah kesedihan apa lagi yang bakal menimpa keluargaku. Semoga kehidupan kami ke depan berputar ke arah yang lebih baik, sudah cukup rasanya Bunda bersedih.

Baru sempet berkeluh kesah lagi denganmu diary., bukan berarti aku melupakanmu lo yaaa.

Bunda kecelakaan sebulan yang lalu. tangan kanannya patah. Taukah kau diary,betapa aku sangat bersedih, sedih sesedih sedihnya. BUnda tidak bisa bekerja, hanya bisa tergolek di tempat tidur. Tapi aku tetap beruntung, Bunda masih hidup!

Hari ini Bunda agak membaik, sudah bisa berjalan sendiri, aku sangat senang. Oya, ada satu lagi, sejak Bunda sakit, Hasan mau melakukan kegiatan dengan orang lain. Pergi sekolah,makan, belajar, tidak ditemani Bunda. Peringainyapun berubah. Di tengah kesedihan itu, aku dan Bunda mulai merasakan tanda-tanda kebahagiaan. Betapa tidak, Hasan berubah 180 derajat. Ah, rupanya ini hikmah di balik kecelakaan itu. Sering kulihat Bunda terisak begitu Hasan berangkat sekolah, tapi aku tau pasti…itu isak bahagia!

Saatnya aku bercerita dengan ayah ya diary….

Ayah, aku sedang bahagia. Hasan sudah mulai membaik. Tolong bisikkan banyak nasehat padanya saat bertemu dalam mimpi ya yah. Hasan cerita sering bertemu ayah dalam mimpi, kenapa aku tidak pernah ya yah? Aku kangen ayah.

Ayah, aku juga mau menyampaikan bahwa aku sudah diterima di Fak Kedokteran UGM karena nilai raportku dianggap memenuhi syarat tanpa tes (maafkan kalau tidak di UI seperti harapanmu, ini soal biaya yah). Meski sampai dengan hari ini, aku tau Bunda masih pusing memikirkan bagaimana biayanya…tapi aku yakin, Allah selalu memberikan yang terbaik dalam kehidupan ini, entah itu berupa sedih, bahagia, semua pasti yang terbaik.

Hikmah :

  • Katakan yang sebenarnya terjadi. Orang dewasa sering mengatakan yg tidak sebenarnya kepada anak kecil dengan alasan usia dan untukmenghibur.
  • Allah memberikan permasalahan sesuai dengan kemampuan kita mengatasinya.
  • Apa yang diberikan oleh Allah, pastilah yang “terbaik” buat umat-Nya.

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Fiksi-fiksi-an. Tandai permalink.

31 Balasan ke Dear Diary

  1. Hafid Junaidi berkata:

    Meninggalkan jejak di blog saya masak susah sih mbak? dimana sisahnya? ^_^

  2. Agung Rangga berkata:

    yang sabar ya… 😦

    Salam…
    ~PopNote~

  3. Prima berkata:

    Uhuy…ikut juga akhirnya… 😀

    “Orang dewasa sering mengatakan yg tidak sebenarnya kepada anak kecil dengan alasan usia dan untuk menghibur”

    Bagus sekali mbak hikmahnya… katakalanlah meskipun itu pahit…
    waktu kecil Mamaku juga selalu jujur, kalau lagi hemat uang, ya bilang gak punya, jadi aku gak perlu berprasangka mama pelit atau ngeles…

  4. Shohibul K.U.C.B berkata:

    Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam K.U.C.B
    Artikel anda akan segera di catat
    Salam hangat dari Markas New BlogCamp di Surabaya

  5. nh18 berkata:

    Katakan yang sebenarnya terjadi …
    Dengan cara yang tepat dan sesuai tentunya

    This is very touchy Bu

    Semoga sukses …

    Salam saya

    (dan sampaikan salam untuk Rahma.
    Suratnya sudah Om Terima …
    Om senang menerimanya
    Terima kasih telah mau berkirim surat pada saya …)

  6. Hiks… sangat menyentuh…
    Keren banget deh diary-nya.
    Semoga menang ya, Mbak. Karena daku yakin pasti menang.

    GBU

  7. chocoVanilla berkata:

    Hiks…hiks… Jeng Deviiiiii, ceritamu sungguh menyentuh kalbu. Memang seringkali kita berbohong pada anak kecil dengan alasan “demi kebaikan”. Padahal yakinkah bahwa memang itu yang terbaik? Kisah ini membuka mataku untuk selalu mengatakan yang sesungguhnya, meski itu menyedihkan.

    Sukses yaaaa, smoga menang 😀

  8. Jumialely berkata:

    Ujian yang Tuhan berikan untuk kita tidak melampau kekuatan kita sendiri, karena Tuhan tau Kita masih mampu melewatinya. Atas stempel komandan blogcamp JURI datang menilai. Terima kasih atas cerita kehidupan penuh hikmah, Salam hangat

  9. Necky berkata:

    Syukur alhamdulillah adiknya sudah mulai berubah….mungkin devi bisa ngobrol lagi dari hati ke hati dengan adik….karena biar bagaimanapun Hasan sungguh beruntung masih sempat mengenal ayah…sebab banyak sekali orang-orang yang tidak mengenal ayahnya sama sekali karena sudah meninggal waktu masih bayi atau ditinggalkan begitu saja oleh ayahnya…

  10. ahsanfile berkata:

    Aku jadi sedih mbacanya… nggak tega…
    aku teringat kedua buah hatiku yang masih kecil-kecil…

    hikss… (aku cuma baca 1/3 awal saja …

  11. gaya hidup berkata:

    sebagai ortu kita sering berkata : ”ini demi kebaikan anak kita”
    padahal belum tentu hasilnya baik utk mereka ya Devi 😦
    kejujuran akan membuat anak mengerti, tentunya dgn kata2 sederhana yg mudah mereka mengerti .

    Selamat ya Devi, semoga beruntung di acara KUCB ini .
    salam

  12. nitnot berkata:

    i like this story so much… two thumbs for you… hope you’re the winner… 🙂
    Diary will descript all the past and you can feel the clue of it…

  13. ysalma berkata:

    sangat menyentuh,,
    anak-anak juga berhak tau yang sebenarnya,, kadang perlindungan yang kita anggap baik untuk mereka tak selamanya sejalan..
    berjaya di KUCB ya mbak.. 🙂

  14. nchie berkata:

    Terkadang orang dewasa mungkin berbohong untuk kebaikan yah,karena mungkin juga bingung cara menyampaikan ke anak tentang kepergiaan ayahnya..
    Tapi sesakit apapun itu,kejujuran harus di ungkapkan,setuju banget sama hikmahnya..
    salam mba devi..

  15. fahmie berkata:

    mikum,..
    ikut ngiklan yaaaa…
    di klick disini
    http://cybercom.tk/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s