Behind the poetry

Hari Guru kemaren, beberapa anak mengumpulkan hasil karya baik berupa gambar, puisi, surat, tulisan buat para guru di MI Istiqlal. Hasil karya mereka selanjutnya di-scan untuk dibuat banner dan dibaca oleh beberapa teman yang tidak mengumpulkan hasil karya.

Untuk menghitung durasi, Rahma dan Rafif dapet tugas baca semua hasil karya sambil direkam. Alhamdulillah, keseluruhannya ga lebih dari 30 menit.

***

Selanjutnya, mereka juga ingin berpartisipasi membuat puisi untuk hari guru. Bagi Rafif yang masih kelas 1 dan sebelumnya ga pernah buat puisi, nggak masalah.

Tapi buat Rahma, yang udah sering bikin puisi, menjadikannya ‘pusing’ . Tiap kali mencoba membuat rangkaian kata, kata-kata itu ternyata sudah digunakan oleh ke-12 temannya. Hm…apa ya istilahnya…terpengaruh sama apa yang sudah dibacanya. Kelihatan sekali Rahma berusaha keras…sampe terlihat ‘kusut’

Saatnya turun tangan dengan masalah Rahma kali ini…takut jadi  frustasi (lebay ga sih). Ayah bercerita bahwa kondisi seperti yang dialami Rahma adalah kondisi yang wajar dan pernah dialami oleh semua orang ‘yang berkarya’ termasuk oleh ayah saat kehilangan ide bikin alat peraga gara-gara kebanyakan cari ide di internet. Solusinya, sementara waktu harus keluar dari masalah ini, istirahat, baca-baca buku yang lain lagi, atau boleh juga baca di Kamus Besar Bahasa Indonesia, di Alquran, akan banyak kata-kata yang mungkin bisa digunakan untuk membuat tulisan atau puisi.

***

Rupanya Rahma memilih menggambar (bekerjasama dengan Rafif-hasilnya gambar menghias postingan ini) dan membuat rangkuman. Bolak-balik melihat tafsir AlQuran. Seminggu sebelumnya, sudah mulai belajar mencari kosakata di Alquran (sebelumnya di buku ensiklopedia).

‘Aku mau bikin rangkuman tentang angin, gimana nih ma cara nyarinya ya?’

Berdua asyik deh nyari di buku tafsir tentang angin. Rahma bikin resumenya,  mencatat kata penting (menurut Rahma) sambil digambar.

‘Ma…Subhanallah…semuanya sama dengan teori di buku IPA, malah lebih lengkap ma!’

Setelah puas membuat rangkuman, Rahma sibuk mempresentasikan kepada Rafif, sambil berulang-ulang bilang Rafif bisa melihat versi lengkapnya di buku tafsir.

***

Malam harinya, Rahma membuat puisi buat guru.

Judulnya “Guruku Angin yang baik”

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Kakak Rahma. Tandai permalink.

3 Balasan ke Behind the poetry

  1. hafid junaidi berkata:

    isi pusinya juga gimana?

  2. bundadontworry berkata:

    Rahma ini berbakat sekali ya Devi,
    puisinya indah, dan ketika gurunya membacanya pasti deh terharu sekaligus bangga 🙂
    salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s