Semangat Berbagi : Upaya Meraih Mimpi

Berhasil menjadi dirinya sendiri, bisa sukses menjadi seperti apa yang dia inginkan, apa adanya dirinya, bisa sukses membuktikan bahwa idealismenya tentang sesuatu hal tertentu juga bisa membuat dirinya dianggap keberadaannya oleh masyarakat, bisa sukses membuktikan bahwa hobynyalah yang mengantarkannya menjadi seorang pengusaha sukses, atau mungkin penulis yang sukses, berhasil memanfaatkan kekuatan yang ada dalam diri nya untuk mewujudkan impiannya, dengan cara yang disukainya, dengan segenap hatinya, atas ijin Allah.

Salut banget rasanya buat teman yang bisa memenuhi kriteria yang saya pikirkan  tentang “berhasil menjadi dirinya sendiri”. Sesuatu yang sangat luar biasa di mata saya.

Mengapa menjadi sesuatu yang sangat luar biasa?

Saya tidak bisa seperti mereka, yang sukses menjadi dirinya sendiri, sukses membuktikan bahwa dirinya bisa berhasil dengan daya upaya yang sangat ekstra, kebanyakan orang menyebutnya ‘jadi orang’.

***

Saya…adalah orang biasa yang pernah merasa ‘terjebak’ oleh keadaan sehingga mengantarkan saya menjadi seorang pegawai biasa…bukan mengantarkan saya menjadi dosen atau guru sebagaimana apa yang saya inginkan….saya ‘kadang’ merasa tak berdaya dengan situasi dan kondisi yang tak menyenangkan, ‘kadang’ merasa bahwa pekerjaan saat ini adalah pekerjaan yang tidak sesuai dengan apa yang ada dalam hati kecil saya, tidak sesuai dengan keahlian yang saya miliki, saya tidak punya celah untuk menerapkan apa yang saya minati, keberadaan saya ‘kadang’ dianggap antara ada dan tiada…

Apakah saya bersedih? Ya, ‘kadang’ bersedih…dalam kesedihan, merasa kenapa saya harus bertahan dan menjalani pekerjaan ini. Rasanya ingin segera lari saja sekenceng-kencengnya untuk mencari pekerjaan lain yang sesuai dengan minat dan hoby, dengan harapan suatu saat nanti bisa menjadi wanita karir yang sukses  menjadi diri saya sendiri…

Di saat kawan lain enggan mengikuti pelatihan…saya malah rajin mengikuti berbagai macam pelatihan yang ditawarkan kantor, selain dapat banyak teman, suasana pelatihan juga sangat saya sukai, sayapun mendapat ilmu dan keahlian baru.

***

Lalu….apakah impian saya? Menjadi seorang ibu?

Tidak juga ternyata……dulu, tak pernah saya punya impian menjadi seorang ibu dengan segala pernak-pernik kerepotannya. Rasanya kesel banget kalo melihat senior di kantor yang tiap hari bolak-balik telpon ke rumah untuk mengecek anak-anaknya, lalu bolak-balik ijin karena anaknya sakit, belum lagi ijin karena asisten RT-nya ga balik atau berhenti mendadak. Oh…No…menjadi ibu adalah pekerjaan yang amat sangat rumit dan sangat tidak profesional di mata saya.

***

Alhamdulillah…Allah berkehendak lain. Saat ini ada 3 amanahnya yang dipercayakan pada saya. Saat anak pertama lahir…semua asumsi tentang ketidakprofesionalan seorang ibu gugur seketika.

Ternyata….menjadi seorang ibu…tidak seperti yang saya bayangkan….sangat membahagiakan…tak kalah rumitnya dengan pekerjaan kantor yang membutuhkan banyak keahlian…butuh lebih banyak keahlian yang bahkan tak pernah dipelajari di jenjang sekolah yang telah saya lalui…sayapun bangga terpilih menjadi ibu.

intinya….menjadi seorang ibu juga dituntut keprofesionalannya…dunia dan akhirat…menjadi ibu berarti menjadi guru kehidupan buat anak yang diamanahkan kepadanya.

Pengetahuan bagaimana menjadi seorang ibu yang baik hanya didapat dari mama, dari buku, dan internet. Tapi apakah itu saja cukup?

Pertama kali ‘terjebak’ dalam sesi Parenting Class, saya menyadari bahwa ilmu saya sangat minim. Kemudian bertekad ‘untuk rajin belajar bagaimana menjadi seorang ibu yang baik’.  Sadar sesadar-sadarnya bahwa saya harus terus meningkatkan kualitas pengasuhan.

Seiring bertambah besarnya usia anak, semakin beragam pula masalah dan cara mengasuhnya. Hoby mengikuti sesi pelatihan semakin tersalurkan. Bahkan rasanya saya menemukan ‘feel-nya’ .

Menikmati setiap materi dan sesi pelatihan… menikmati momen-momen mengamati dan menganalisa berbagai masalah dalam pengasuhan dan tumbuh kembang anak-anak, mulai membandingkan antara teori dan kenyataan yang terjadi. Bukan hanya kepada anak sendiri, tapi tanpa disadari, mulai punya beberapa teman tetap (kerennya disebut ‘komunitas kecil’) dalam sharing dan diskusi berbagai permasalahan seputar pengasuhan. Perlahan tapi pasti, jumlah anggota komunitas kecil kami semakin bertambah.

Bahagia sekali rasanya saat solusi yang kami diskusikan ternyata berhasil menyelesaikan permasalahan salah satu dari kami. Saat ini, kami terus berbagi  (lingkup komunitas kecil) tentang ilmu baru yang diperoleh dari berbagai pelatihan ‘pengasuhan’ dalam forum non formal alias sambil ngobrol biasa antar ibu-ibu. Dalam forum yang lebih formal belum pernah mencoba, karena saya sendiri punya kendala gabisa bicara di depan forum resmi, ….ndredeg….grogi….

Mulai timbul pertanyaan dalam hati ini…banyak inspirasi perubahan pola pengasuhan diperoleh dari berbagai ‘parenting class ‘, namun demikian, berapa banyak para ibu yang ingin mengikuti sesi ‘parenting class’ terbentur oleh biaya yang mahal ? tak bisa dipungkiri, parenting class saat ini masih masuk dalam jajaran ‘pelatihan ekslusif’.

saya memang bukan ahli….tapi sedikit demi sedikit, keinginan untuk berbagi ilmu dan pengetahuan yang dimiliki kepada ibu-ibu yang lain semakin kuat...

saya juga bukan ibu yang sempurna…tapi apakah untuk berbagi  pengalaman harus menunggu sempurna? bukankah kesempurnaan hanya milik-Nya?

saya bukan orang terkenal, bukan orang penting…tapi saya yakin semakin banyak orang yang menilai bukan dari siapa yang bicara, tapi dari apa yang dibicarakan!

***
Jadi hoby saya sebenernya apa sih? Dari dulu, saya suka banget membaca kolom konsultasi psikologi di media apapun. Lalu sejak kuliah, mulai mengenal berbagai buku kisah inspiratif tentang ayah, ibu, anak, cinta kasih, kehidupan, guru. Pola pikir saya susah tergoyahkan…namun jika saya sudah terinspirasi oleh sesuatu yang menurut logika saya yakini itu memang perlu dan harus saya lakukan demi kebaikan…saya akan melakukan sebuah perubahan besar dalam hidup saya. Tanpa disadari, justru “perubahan” itulah yang sering menginspirasi orang lain, bahwa segala sesuatu itu bisa berubah dan berpikir “Dia saja bisa…Insya Allah, aku pasti juga bisa!”

Satu lagi…setelah diingat-ingat…hoby saya yang lain adalah rajin ikut pelatihan, seminar, workshop pengembangan diri dan parenting, termasuk pelatihan menjadi ‘trainer’ juga kerap saya ikuti.

***

Hm…kira-kira…apa ya benang merahnya? Berbagi Ilmu!!!

…apakah ada kaitannya dengan keinginan yang pernah hinggap di benak saya untuk menjadi menjadi guru?

Inikah saatnya? Ya…saya harus mencoba…menjadi ‘guru’ ….eh…guru apa trainer apa narasumber atau apa ya….wis, apa saja sebutannya judulnya menularkan n berbagi ilmu deh…!

So…harus melatih kemampuan bicara di depan orang, yang kata om Trainer NH18, sangat dipengaruhi oleh jam terbang.

Sedangkan bagi anak-anak…saya harus menjadi guru yang penuh dengan keteladanan dalam kebaikan.

***

Setiap orang harus punya mimpi…bahkan bisa lebih dari satu…

“mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukkan dunia, berlarilah tanpa lelah, sampai engkau meraihnya…”

Dalam setiap pilihan selalu ada pengorbanan. Mencoba meraih mimpi satu persatu (atau bahkan berusaha mengkombinasikan dua mimpi sekaligus jika memang memungkinkan , menjadi sebuah komposisi yang pas, kenapa tidak?) sambil terus mencari mimpi mana yang membuat kita merasa nyaman, membuat kita merasa ‘jadi orang’  dan membuat kita selalu merasa “dekat dengan tujuan hidup yang hakiki”.

Dalam setiap pengorbanan, selalu ada hikmah yang bisa dipetik. Hikmah yang akan membuat segalanya menjadi lebih baik lagi. Hikmah yang membuat kita mengukir sebuah prestasi, karena hari ini lebih baik dari kemaren, dan hari esok harus lebih baik lagi.

Lalu bagaimana dengan perasaan ‘terjebak’ yang kadang muncul dalam benak kita? Kadang susah bangkit dari keadaan tak berdaya semacam itu, namun ketika nasi sudah menjadi bubur, selalu ada kesempatan untuk membuat bubur itu menjadi bubur ayam special!

Ketika kita melihat seseorang bisa berubah menjadi lebih baik lagi…yakinlah dalam diri bahwa atas ijin Allah, kita juga bisa berubah menjadi lebih baik! Allah selalu melindungi umatnya yang berlomba dalam kebaikan kan?

***

Ya Allah memudahkan lisan saya, memudahkan urusan saya…jadikanlah hambamu ini orang yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain…

***

Jadi, siapa yang mau menjadi murid perdana saya??? 🙂

***

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Muhasabah Akhir Tahun di BlogCamp

Terimakasih ya pakdhe dengan diselenggarakannya kontes ini, (terlepas dari diterimanya atau tidak menjadi peserta kontes.)…awalnya saya hanya sekedar ingin mencoba ikutan memeriahkan, tapi Subhanallah…saya jadi menemukan sesuatu 🙂 setidaknya, saya berhasil menuliskan apa yg ada dalam benak saya saat ini (ternyata susah banget loooo…perlu waktu berhari-hari dan edit berkali-kali). Sebuah prestasi pribadi buat saya 🙂

***Alhamdulillah…terimakasih Allah atas nikmat yang tak pernah henti dari Mu…

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Mama. Tandai permalink.

17 Balasan ke Semangat Berbagi : Upaya Meraih Mimpi

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam K.U.M.A.T – Kontes Unggulan Muhasabah Akhir Tahun di BlogCamp.
    Akan dicatat sebagai peserta

    Salam hangat dari Markas BlogCamp di Surabaya

  2. nh18 berkata:

    Bu Devi …
    gabisa bicara di depan forum resmi, ….ndredeg….grogi….

    Ini sih gampang mengatasinya …
    Anggap saja forum resmi itu kumpulan dari komunitas …
    Ok – Ok … jumlah pesertanya pasti lebih banyak.
    So … Audience Forum Resmi itu … anggap saja … dalam benak ibu … dibagi-bagi menjadi sekelompok orang setara komunitas kecil … (comfortable size in your mind)
    sesaat bicara kelompok kelompok komunitas depan kiri … sesaat lagi bicara di kelompok depan kanan, pindah tengah kiri, lalu ke tengah kanan, terus belakang … dst …

    So by the end of the day …
    Bu Devi tidak merasa kalau sebetulnya sedang bicara di depan forum resmi yang besar.
    Once again Anggap saja sedang bicara di komunitas kecil … sesuatu yang ibu anggap sudah comfortable …

    Salam saya
    (halah malah nyerocos saya …)(maap bu)

    • Devi Yudhistira berkata:

      wedew om…makasih yaaaaaa

      (akan saya cobah deh…)

      Btw, maaf ya kalo bacaannya panjang banget, susah bener meringkas tulisan…
      qiqiqi…4 lembar folio 🙂

      Kok para laki-laki bisa nulis dikit banget tapi ngena ya….? (tanya kenapa)

      hufh…(pembenarannya emang beda laki2 ama perempuan deh…)

      • Abi Sabila berkata:

        saya rasa tidak semua laki-laki kok Bu. hehehehe…bukan tersinggung tapi saya juga kerap kesulitan meringkas tulisan.
        Sebagai sebuah ikhtiar, semoga kita bisa sama-sama menang dalam kontes ini. amin.

  3. Prima berkata:

    Mbak Devi, thanks ya dah mampir ke blog saya. salam kenal.

    Saya suka sekali artikel ini, saya mengerti isinya tanpa harus mengulang membacanya. Mengasuh anak memang rasanya pendidikan yg tidak pernah diberikan di sekolah, dari situlah bisa dilihat apakah lahir anak-anak yang sukses atau tidak. Saya sendiri merasa tidak punya bekal apa-apa jika dihadapkan sebagai orang tua kelak. Semoga saya bisa banyak belajar dari tulisan sahabat2 blogger di sini yang sudah berpengalaman mengasuh putera-puterinya dengan baik. Really appreciate this post… salam

  4. genksukasuka berkata:

    semoga menang bu semangat

  5. bundadontworry berkata:

    siapa bilang dirimu bukan orang penting,Devi?
    Seorang Devi adalah orang yg sangat penting bagi kelanjutan generasi muda negeri ini, dengan membesarkan dan mendidik serta mengurus ketiga titipanNYA, dengan kasih sayang dan perhatian akan segala kebutuhan mereka , baik lahir maupun bathin.

    Dan, tdk setiap orang bisa melakukan hal tsb, krn memang tdk ada sekolahnya.

    Namun, dgn hati yg ikhlas dan penuh syukur , juga keahlian memberikan yg terbaik bagi mereka , maka inilah yg menjadikan dirimu , seseorang yg unik, penting dan istimewa.
    titip sayang bunda utk ketiga titipan Allah swt yg sehat2 dan cakep2 ya Devi 🙂
    love u.
    salam

    semoga sukses di acara KUMAT nya PakDhe ,amin

    • Devi Yudhistira berkata:

      whaaa…jadi malu nih……

      tapi saya mau nurut bunda, “nggak mau dibilang baik”…

      (jadi waspada n membuat batasa…hehehe)

      Salamnya nanti saya sampaikan ya bun…dari nenek pramugari? atau budhe cantik?

      makasih ya bund…

  6. ciwir berkata:

    sangat suka kalimat ini
    “intinya….menjadi seorang ibu juga dituntut keprofesionalannya…dunia dan akhirat…menjadi ibu berarti menjadi guru kehidupan buat anak yang diamanahkan kepadanya…”

    ibu adalah sosok yg sangat penting bagi kehidupan dunia dan akhirat setiap manusia. maka menjadi ibu itu sebenarnya sangat susah namun jangan pernah merasa susah menjadi seorang ibu.

  7. ~jayaros berkata:

    ~bu Devi saya mau jadi murid pertamamu … :D]
    kapan dimulai kuliahnya?
    btw ttg kalimat ini … “mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukkan dunia, berlarilah tanpa lelah, sampai engkau meraihnya…”

  8. Tugas telah mengantar saya kesini sekaligus melakukan penilaian artikel KUMAT.

    Artikelnya sudah dicatat di Buku Besar Yuri KUMAT
    Salam hangat dan sukses selalu.

  9. irfan berkata:

    perasaan khawatir tentu semua manusia memiliki disaat melakukan hal yg baru. tetapi semua kekhawatiran akan bisa diatasi dengan pengulangan (kebiasaan). seseorang yg mahir bukan orang yg sudah dibekali dengan kepintaran tetapi orang yg selalu melakukan pengulangan

  10. hafid junaidi berkata:

    Wah, peran ibu emang mulia bgt, TeOPe BeGeTe deh for all mother ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s