Ketika merasa tak berdaya

Kalau sudah berkali-kali diingatkan tetep aja dia memukul kamu, hindari dia, kalau tiba-tiba kamu dipukul lagi, balas aja biar dia tau bagaimana rasanya dipukul, baru kamu bilang ke bu guru untuk dibantu menyelesaikan masalah. Kalau kamu ga berani sama dia, bilang sama bu guru kalo kamu pengen bales mukul temanmu itu!

Geram sekali rasanya… emosi tak rela dan sedih tak terkira mendengar buah hati dipukul, diperlakukan semena-mena oleh teman mainnya. Dipukul di kepala pula.

Saran pertama yang keluar dari mulutku adalah ‘aksi balas mukul’. Wis, saran yang ngasal …tapi sepertinya cara itu juga sering dilakukan oleh teman-teman saya. Dan entah kenapa, kadang cara itu memang berhasil, tapi apa efek samping yang mengerikan di balik aksi balas pukul itu? (…cara seperti inikah yang akhirnya menyebabkan generasi muda kita hoby tawuran?…)

Lupa sudah soal masalah siapa, lupa sudah soal cara berkomunikasi, lupa sudah cara menyelesaikan masalah tanpa main fisik, alih-alih menasehati jangan main fisik, ini malah ngajarin mukul ganti…

hiks…astaghfirullah….semoga Allah mengampuni saya.

Sulit sekali mengorek informasi dari mulut Rafif jika dia punya masalah yang menurutnya sudah selesai di sekolah, dia merasa tak perlu dibahas kembali dengan mama, meski karena masalah itu dia muntah, demam, bahkan pusing seharian.

Sedih banget… kenapa dia tidak mau cerita…ada apa dengan saya? Mendengar cerita itu dari orang lain, saya hanya bisa menangis…hancur rasanya hati ini.

Apakah Rafif merasa takut dan tidak nyaman menceritakan hal yang sesungguhnya kepada saya? Jika memang ini sebabnya…artinya masih banyak yang harus dibenahi dari cara komunikasi saya. Maafkan mama ya Nak.

atau,

menurut Rafif itu adalah permasalahan yang sudah selesai, alias mereka sudah saling minta maaf, jadi tidak ada perlunya menceritakan kepada siapapun. Just cool… Jika yang ini sebabnya, Rafif harus paham ‘batasan’ mana yang akan menjadi masalah dia dan mana yang akan menjadi masalah mama.

Tangis mama yang membuat Rafif akhirnya bercerita satu persatu soal dia dipukul oleh temannya. Hancur hati ini terlebih-lebih mendengar jawaban Rafif soal berapa kali dia dipukul…’sebelumnya pernah…sebelumnya juga pernah….sebelumnya lagi juga pernah…’ hiks…anak laki-lakiku…

(mengingatkan soal tali rasa antara mama dan anak yang dimulai sejak dalam rahim -lah, yang akhirnya membuat Rafif menceritakan semuanya)

Dalam hatiku, hanya terlintas…Rafif harus belajar ilmu bela diri! Rafif harus berani membalas memukul!

Tapi apa itu saja menyelesaikan masalah? Bagaimana dengan ‘rasa tak berdaya’ yang menderanya saat tiba-tiba dia dipukul, saat tiba-tiba uang yang dia pegang direbut paksa?

Dalam kekalutanku, ku-sms beberapa teman dekatku. Kuakui kejahatan macam apa yang telah kuperbuat, kuakui bahwa saat itu aku galau bertanya pada diri sendiri ‘mama macam apa aku ini’  yang menyarankan hal demikian.

Pada akhirnya, saya memutuskan untuk menuliskan masalah ini di sini,  dengan harapan tak ada orang yang merasa tersinggung atau menganggap saya lebay…saya hanya ingin share kepada teman-teman yang mungkin mengalami hal serupa, hingga tidak melakukan ‘kelalaian’ yang telah saya lakukan ini. Karena, saran dari sahabat-sahabat saya sangat sayang jika tidak diinformasikan dan mungkin bisa menjadi ajang diskusi untuk upaya yang lebih baik lagi.

  • Menginformasikan soal betapa bahayanya organ tubuh jika terbentur keras, baik dipukul ataupun jatuh, terutama kepala.
  • Menamai perasaan yang dirasakan saat tidak berani melakukan tindakan apapun selain menangis (ini artinya ‘tidak berdaya’)
  • Berdiskusi apa yang perlu dilakukan ketika merasa tidak berdaya, mulai dari berani mengingatkan, berani mendiskusikan dengan teman sebelum mulai bermain, termasuk jika anak memutuskan untuk membalas sebagai upaya pembelaan diri (saat merasa sangat sakit).
  • Menginformasikan batasan seperti apa yang  perlu bantuan mama atau orang dewasa lainnya dalam menyelesaikan masalah.
  • Menawarkan bantuan dalam upaya yang akan dilakukannya untuk lebih berdaya.

‘Nak, mama sangat khawatir, kalau Rafif tidak bilang sama mama masalah pusing gara-gara dipukul teman atau gara-gara jatuh main bola, karena menurut mama itu sangat berbahaya. Bagaimana menurut Rafif?’

‘Hm…hm….harus menjaga tubuh kita. Bilang sama mama atau bu guru kalau ada yang sakit.’

‘Alhamdulillah…Rafif sudah mengerti. Rafif, kalau Rafif dipukul teman, terus ada teman Rafif yang main paksa ambil uang Rafif, apa yang harus Rafif lakukan?’

‘..mengingatkan…tapi aku sudah mengingatkan ma, tetep aja dia pukul aku, padahal bukan aku yang dorong dia, kebetulan aja ada aku di situ…jadi aku deh yang dipukul. Aku juga udah ingetin kalo uang itu jangan diambil’

‘Kira-kira kenapa ya, kok dia tetep pukul Rafif…kok dia tetep ambil uang Rafif?’

‘nggak tau ma’

‘Apa perasaan Rafif?’

‘sakit…sedih…kesal…’

‘Menurut Rafif, teman itu tau nggak kalo Rafif sakit, sedih dan kesal?’

‘nggak tau lah…..buktinya dia tetep pukul aku..uangku juga tetep diambil’

‘Oke, kira-kira bagaimana ya biar dia tau?’

‘….hm…aku harus bicara…bicara kasih tau perasaanku’

‘Bagaimana cara kasih taunya?’

‘Aku bicara dengan lantang “Maaf, aku sakit jika kamu pukul, aku nggak nyaman…Maaf, aku kesal jika kamu ambil uangku, haram kamu memakainya untuk jajan, itu bukan uangmu’

‘oke…terus…kalau kamu tidak berdaya…mereka tetep memukul? tetap memaksa merebut uang, bagaimana? ‘

‘…aku harus berdaya!!! akan kuingatkan temanku, kalo 3 kali masih terus begitu, aku mau bilang ‘Aku mau bermain denganmu, tapi jangan pukul aku karena sakit dan berbahaya, kalau ada masalah tidak selesaikan dengan fisik. Kalo dia  masih  mukul dan aku sakiiittt banget, aku pukul aja biar dia tau kalo dipukul itu sakit. Kalau aku nggak berdaya, aku perlu bantuan bu guru atau mama’

‘Alhamdulillah, mama yakin kamu pasti bisa! ‘

‘Ma…minta bantuannya kalo berbahaya aja kan? kalo nggak berdaya aja kan’

‘Ya Nak…Rafif sendirilah yang tau kapan Rafif merasa tidak berdaya’

***Bagaimana dengan teman-teman? Pernah punya pengalaman serupa? Terimakasih untuk mau berbagi ide solusinya di sini…

*** special thank to Riri, Yossy, Yuli, Geulis… jangan bosan2 ya kalo dicurhatin 🙂

To Rafif, my dear…

Maafkan mama ya kalau mama keliru…maafkan mama kalau mama banyak salah sama Rafif.

Terimakasih dan syukur tak terhenti, Rafif,  adek dan juga kakak terus membuat mama belajar dan belajar lagi menjadi mama yang baik buat Rafif. Mama memang bukan mama yang sempurna, tapi mama akan terus berusaha semampu mama…doakan mama ya Nak.

 

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Abang Rafif, Anak-anak, Mama. Tandai permalink.

11 Balasan ke Ketika merasa tak berdaya

  1. nh18 berkata:

    Saya ikut geram membaca ini Bu …
    Been there juga …
    (anak saya semua laki-laki kan ?)

    dan entah mengapa … anak-anak sekarang kok ringan banget ya mintain uang temennya … minta bekal temennya … ?
    Kalo ndak dikasih … mukul … !
    Heran apa ndak diajarkan oleh orang tuanya ya ?
    (saya sering membathin begitu Bu …)

    Dan ingin juga rasanya … saya tanya sama anak saya … siapa nama temannya ? alamatnya dimana … Siapa Bapaknya … biar saya tempeleng sekalian … selesaikan secara “adat” … (hehehe)(panas bener soalnya …)

    Tetapi Alhamdulillah … hal itu tidak sampai terjadi … dan jangan sampai terjadi …
    Solusinya … saya tekankan kepada anak saya …
    – Kamu harus tegas menolak …
    – jika dia mukul … lapor bu guru … (sebenarnya tidak perlu melapor sih …)(sebab anak yang “bermasalah” itu ya biasanya cuma dia-dia aja … )(dan bu guru pasti tau itu … karena korbannya bukan hanya anak saya …)
    – Berteman dengan anak-anak baik yang lain … yakin kamu pasti akan banyak yang belain dan bantuin dan dia akan takut sendiri …

    Salam saya Bu …
    Rafif … young man … be strong ya … !

  2. Pakde Cholik berkata:

    Selamat pagi sahabatku
    Saya datang lagi untuk mengokoh-kuatkan tali silaturahmi sambil menyerap ilmu yang bermanfaat. Teriring doa semoga kesehatan,kesejahteraan,kesuksesan dan kebahagiaan senantiasa tercurahkan kepada anda .
    Semoga pula hari ini lebih baik dari kemarin.Amin

    Saya juga menyampaikan kabar gembira bahwa putri anda (Rahma) mendapatkan tali asih dari manajamen BlogCamp karena artikel Rahma termasuk sebagai Pemenang Kategori Khusus dalam Kontes Iklan Indonesia Bersatu.
    Silahkan cek di :
    http://abdulcholik.com/2010/11/12/pemenang-kategori-khusus-kontes-iklan-indonesia-bersatu/

    Terima kasih atas bantuan sahabat untuk menyampaikan informasi ini kepada nak Rahma.
    Salam hangat dari Markas BlogCamp di Surabaya

  3. jumialely berkata:

    saya rasa saran yang diatas tidak lah benar….. tak perlu ada aksi pukul memukul…..

    mama yang baik, saya merasakan kesedihan mama, meski saya belum menikah dan memiliki seorang anak, tetapi saya memiliki ratusan bahkan ribuan anak didik…., melihat salah seorang anak didik saya mimisan saja..saya merasa terluka.. apalagi sampai sakit begitu.

    1. Keluwesan dan keterbukaan antara mama dan rafif lebih dieratkan lagi ma, terkadang ada sesuatu yang takut diungkapkan anak, karna takut disalahkan atau dimarahi, atau di ancam oleh temannya, menurut saya tunjukkan satu contoh bahwa mama tak pernah marah untuk satu kesalahan atau sharing, melainkan meluruskan dengan kata-kata yang bijak, sehingga dia tidak merasa tersudutkan dari segi psikologis, untuk terbuka menceritakan mulai dari masalah sekolah, ancaman, kegiatan sekolah bahkan perasaan cinta sekalipun, karena saya alami dalam keluarga, masalah suka sama lelaki waktu saya SD ditanggapi dengan tawa, canda dan kata-kat yang bijak, sehingga antara kami dan keluarga seperti antara temen/sahabat.

    2. Bicarakan hal ini dengan pihak sekolah, karena ini bukan masalah kecil ma, sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu dan menambah pengetahuan, tetapi untuk membina karakter dan moral. Di sekolah tempat saya mengajar, keterlambatan siswa, ketidakhadiran siswa akan secara langsung dilaporkan kepada orang tua untuk dibicarakan,s ehingga orang tua tau perkembangan si anak.

    saya yakin mama adalah mama yang terbaik yang sudah memberikan sesuatu kepada si anak….Dewasakan rafif dengan komunikasi yang baik dan memberi contoh yang baik dari rumah terlebih dahulu.

    Kalau masalah beladiri.. itu tidak salah ma, tapi bela diri itu bukan untuk membalas kejahatan, tetapi untuk mempertahankan diri dan mencegah hal yang tak diinginkan, karena saya juga seorang Karateka.

    salam saya Ma.

    maaf.. bukan bermaksud menggurui.. hanya mencoba berbagi berdasarkan pengalaman sebagai pendidik yang hidup dilingkungan berbagai karakter anak.

    • Devi Yudhistira berkata:

      Terimakasih banyak mbak….semoga dapat menjadi masukan bagi siapa saja….termasuk saya…

      Semakin banyak share, tentunya semakin baik untuk kita bukan?

      Sekali lagi terimakasih ya…saya senang mbak mau berdiskusi di sini…

  4. jumialely berkata:

    Rafif… kamu itu memang anak yang bijak tapi belum bijaksana menghadapi masalah…. make a good communication with your mommy…. give her smile….

  5. jumialely berkata:

    mama.. jangan pernah merasa tak berdaya ya… justru itu mengajarkan kita untuk lebih jeli dan lebih sensitif melihat perubahan terkecilpun dalam diri seorang anak.

    i believe you’re strong mom…. Keep smile mom

  6. ardi berkata:

    ibu’e maju no….
    anakku wedok mba…. diwanti2 bisa jaga diri..golek’o konco sa’akehe
    tp nek ada anak laki yg ngganggu/mukul…pukul balik….
    alhasil…gurune laporan ono cah lanang nangis ditabok anakku…
    intinya…tettep komunikasikan dgn guru di sekolah…..klo ada permasalahan
    di sekolah…

    • Devi Yudhistira berkata:

      hihihi…lah iku sih aku bangeeettt 🙂

      (sampe pernah tuh, anak2 kelas 6 cowok2 yg suka ngisengin adikku sing cengeng ditantang…sok-sok-an banget jaaannn. Btw satu dari mereka aku mesih kelingan lo wajahe :P)

  7. rully berkata:

    aku dulu mengalami hal yang hampir sama Mbak, saat fani di TPA. fani terbiasa untuk tidak main fisik. sedangkan di TPA temennya banyak dengan berbagai macam karakter. awal2 di TPA dia gak mau berangkat. setelah kukorek2, ternyata dia gak mau di TPA karena ada temennya yang suka mukul. Fani kesel karena pesenku agar gak main fisik. akhirnya kukoreksi pesen2ku hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s