Hadapi dengan Senyuman (yang berbeda)

Tadi malam, saya baca buku berjudul “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” karya Tere-Liye. Buku-buku karyanya memang selalu mampu menguras airmataku (itung-itung sambil berharap makin tambah sehat aja nih mata, karena ada teman yang pernah bilang kalo sering nangis itu bagus buat kecantikan…looo…nyambung ga ya???).

Tere sangat pandai menuliskan kisah-kisah yang sangat menyentuh hatiku, dan hati siapa saja yang membacanya. Meski salah satu pesan moral yang disampaikan dalam buku ini yaitu ” Kau tak boleh menangis demi siapa pun” tetep saja pada akhirnya aku menangis karena buku karyanya itu (eh berarti itu jawaban dari demi apa kan? bukan demi siapa kan?).

***meski harus kuakui, aku memang cengeng & gampang terharu (sekilas info)***

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin… Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya. Tania, kau lebih dari dewasa untuk memahami kalimat itu…Tidak sekarang, esok lusa kau akan tahu artinya… Dan saat kau tahu apa artinya, semua ini akan terlihat berbeda.

Hiks…benar sekali….setuju, sepakat, sepaham, apa lagi ya….

Pernahkan teman-teman mendengar perkataan ini…

” Nak, nanti kalau kau sudah menjadi seorang ibu, baru kau merasakan apa yang ibu rasa sekarang!”

yang lebih ekstrim….

“Dev, ayolah, berdamailah dengan orangtuamu, jangan sampe kamu menyesal seperti aku, yang selalu melawan papa ketika papa masih hidup dan belum sempat minta maaf “

Kenapa sebagian besar orang harus mengalami banyak hal untuk membuat dia menyadari akan sesuatu? Dan mengapa juga, sebagian besar perasaan yang ditimbulkannya adalah ‘sesal’ ? Setelah itu akan timbul pertanyaan-pertanyaan semacam : mengapa dulu aku begitu ya…mengapa dulu aku begini ya…

Belajar dari kesalahan!!! Ya, andai saja semua orang bisa belajar dari kesalahan,  lalu berusaha tidak mengulanginya lagi, mencoba menjadi lebih baik lagi….betapa damainya hidup ini.

Konteks cerita dalam buku itu, “dan saat kau tahu apa artinya, semua ini akan terlihat berbeda” adalah sesuatu dalam pengartian yang positif…seperti semacam timbul sikap dapat merelakan, mengikhlaskan, tulus menerima semuanya dengan lapang dada. Meski dengan lugas pula Tere menyatakan, “tidak sekarang”…tapi “esok lusa”.

Ahhhh memang butuh waktu untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, lalu kemudian kita bisa menerima segala ketentuan-Nya dengan ikhlas….menghadapi semua dengan senyuman, tentunya senyuman yang terlihat berbeda pula (mulai senyum kecut, nelongso, simpul ampe lega n bahagia). Semoga, semakin dewasa, ‘saat’ yang kubutuhkan untuk bisa memahami segala sesuatu dari berbagai sudut pandang semakin ‘sebentar’…. agar hati ini selalu bisa tersenyum ‘lega’

Terimakasih Allah…

*** Terimakasih  Tantri, buat pinjeman bukunya 🙂

*** buat Tere-Liye jangan khawatir, saya akan segera membelinya!

Info buku, Judul Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2010.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Buku, Umum. Tandai permalink.

8 Balasan ke Hadapi dengan Senyuman (yang berbeda)

  1. Kak Zen berkata:

    Daun yang jatuh tak pernah membenci angin… Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya. Tania, kau lebih dari dewasa untuk memahami kalimat itu…Tidak sekarang, esok lusa kau akan tahu artinya… Dan saat kau tahu apa artinya, semua ini akan terlihat berbeda.
    Setuju..

  2. rangtalu berkata:

    tapi ini cukup sulit.. meski pada akhirnya kita mesti sadar bahwa, apapun yang menimpa kita adalah yang terbaik untuk kita..
    albaqarah :216

  3. nh18 berkata:

    Terimakasih Tantri, buat pinjeman bukunya …
    (saya tersenyum kecut)

    jangan khawatir, saya akan segera membelinya
    (saya tersenyum agak lega)

    Salam saya
    (saya tersenyum … sebenar-benarnya tersenyum)

    Buku yang bagus nih …!

  4. jeepiid berkata:

    haeeezzz… klo buku2 gini seneng denger org ceritain drpd baca aku ini, :hammer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s