LIVE IN FATHERLESS COUNTRY ??

Sekilas info, oleh-oleh dari seminar “Menjadi Ayah Idola, siapa Takut?” yang dilaksanakan pada hari sabtu 24 Juli 2010 atas prakarsa Yayasan Amanah Sumarno Halimah bekerjasama dengan Yaysan Langkah Kita dan Kelompok Melati Harum dengan pembicara Bpk Bendri Jaysurahman.

Semua orang tua pasti memiliki harapan pada sang buah hati, seperti menjadi anak sholeh, cerdas, punya kepekaan sosial, menjadi pribadi yang bertanggung jawab, punya jiwa kepemimpinan, mandiri dan pekerja keras dll. Namun pada kenyataannya, sekarang banyak terjadi ketimpangan peran pengasuhan dalam keluarga. Telah terjadi penyempitan peran Ayah dikarenakan banyak Ayah yang menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pengasuhan kepada ibu. (Ayah mencari nafkah di luar, ibu ngurus anak di rumah saja). Sehingga terasa memiliki ayah, tapi seperti anak yatim. Ada fisik sang Ayah, tapi tidak dekat dengan jiwa ananda. Tidak dekat secara psikologis.

Ada istilah lain seperti, Father Hunger” yang merupakan kerusakan psikologis yang diderita anak-anak dikarenakan tidak mengenal Ayahnya. Dimana hal tersebut dapat berakibat:
1. Rendahnya harga diri anak
2. Caildist ( kekanak-kanakan)
3. Terlalu tergantung, tidak mandiri
4. Kesulitan menetapkan identitas seksual ( cenderung feminin atau hipermaskulin)
5. Kesulitan dalam belajar
6. Kurang bisa mengambil keputusan
7. Bagi anak perempuan, tanpa model peran Ayah setelah dewasa sulit menentukan pasangan yang tepat untuknya, salah memilih pria yang layak/salah pilih jodoh.

Kapan sebenarnya peran Ayah dibutuhkan? Sejak dini..bahkan sebelum ananda lahir, sang calon Ayah sudah memilihkan calon Ibu terbaik bagi anaknya. Dan ketika ibu hamil, Ayah berperan memberi ketenangan pada sang Bunda, menjaga suasana hatinya supaya gembira sebab ibu hamil wajib senang selama masa pembentukan otak, yang membentuk kecerdasan sang jabang bayi, buah cinta Ayah Bunda.

Pada masa usia 0-8 thn tampilkan peran Ayah secara utuh. Karena masa tersebut adalah Golden Age, masa otak anak menyerap dan merekam segala sesuatu dengan cepat dalam kehidupannya. Dan bermain adalah cara belajar ilmiah yang sesuai dengan cara kerja otak. Ayah berperan melalui bermain dengan anak dikarenakan anak belajar banyak hal melalui permainan dengan cara yang menyenangkan.

Bagaimana Ayah memainkan peran di sela kesibukannya? Yaitu dengan memanfaatkan 5 waktu bersama anak. Waktu yang berkualitas bersama anak, bila kuantitas belum bisa dipenuhi.
1. Pagi hari sebelum berangkat kerja (Menyapa,mendoakan, bermain tebak-tebakan dll)
2. 5 menit bertegur sapa di siang/sore hari.
3. Menjelang tidur ( saat Ayah Bicara menguatkan nilai moralitas yang baik dan menghapus yang buruk)
4. Waktu libur (liburan versi Ayah: cuci mobil, nguras kolam dsb)
5. Waktu berharga versi anak ( pementasa, ambil raport, musibah dll)
Ayah harus pandai memanfaatkan “Golden Moment, dapat memotivasi anak agar selalu bersemangat dan berpikir positif.

Apalagi kontribusi unik sang Ayah? Dalam permainan keras, Ayah melatih anak untuk meningkatkan kemampuan motorik. Selain itu, figur Ayah sebagai perwakilan “dunia Luar” merangsang keingin-tahuan anak sehingga meningkatkan kemampuan kognitif. di sisi lain, tubuh Ayah adalah permainan paling menyenangkan bagi anak. Sehingga melalui bermain bersama Ayah, anak belajar cara pria berinteraksi (sifat maskulin), perbedaan fisik, batasan dan kepemimpinan..

Yuuk para Ayah, lakukan dual parenting sehingga pengasuhan merupakan seni terindah dalam perjalanan batin yang diarungi bersama pasangan. Dan jangan terima bila negara kita dijuluki Fatherless Country karena sang Ayah tidak memainkan perannya dalam pengasuhan…Asah terus ketrampilan dalam mengasuh ananda..hingga hadirnya generasi yang lebih berkualitas di hadapaNya dan tangguh menghadapi jamannya.

Salam sukses pengasuhan,

— Nenden Esty & Rani W–

(Sumber : Catatan FB Rumah Parenting YKBH)
Iklan
Pos ini dipublikasikan di Anak-anak, Umum. Tandai permalink.

14 Balasan ke LIVE IN FATHERLESS COUNTRY ??

  1. dwi berkata:

    setuju banget mba!!! aku forward artikel ini ke suamiku yaaa….terima kasih udah sharing sesuatu hari ini

  2. pras berkata:

    …ngambil tag aja ” Sejak dini..bahkan sebelum ananda lahir, sang calon Ayah sudah memilihkan calon Ibu terbaik bagi anaknya”wow …..semoga kita semua ayah/calon ayah sdh memilih ibu/calon ibu yang terbaik buat anak2 kelak.
    dan ..khususnya buat mba devi…sepertinya sang ayah sdh memilihkan ibu yg baik buat anak2…siip…

  3. nh18 berkata:

    Terima kasih atas tulisan inspiratif ini Bu Devi …

    Sudah saatnya Ayah berperan dalam pola pengasuhan anak-anak juga …
    Tidak bisa hanya Ibunya saja …

    Jika boleh saya melinkan salah satu tulisan sahabat blog saya yang menulis masalah serupa … kebetulan saja baru diposting juga …
    Dia adalah Uda Vizon …
    Beliau … yang saya tau … selalu mendengung-dengungkan peran Ayah dalam keluarga …

    ini tulisan Uda Bu … saya pikir ini pas banget dengan judul postingan ibu ini …

    http://hardivizon.com/2010/07/28/ayah-adi-dan-dika/

  4. KutuBacaBuku berkata:

    Kalau ‘Father’-nya malah milih pergi jauh dan mengabaikan anak2nya gmana tuh mbak ??

  5. jeepiid berkata:

    heeemm..nice inpoh, tak jenguk ahh calon anakku sering2, mumpung blm terlalu terlambat br 4 bln
    :timpukbotol

  6. yanrmhd berkata:

    siiip! makasih udah mengingatkan tugas dan tanggung jawab seorang ayah šŸ˜€
    pendidikan anak tak hanya oleh seorang ibu juga harus ada peran dari ayah, merekalah madrasah pertama dalam pendidikan anak.

    okey, semangat! do the best… šŸ˜‰

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s