Didudukan

Jika saya melanggar peraturan, atau berbuat kesalahan, ibu akan memanggil saya ke dalam kamarnya.

‘Didudukkan’ itulah istilah yang sering kami gunakan untuk mengistilahkan situasi dipanggil ibu ke dalam kamar untuk mendapat nasehat. Ibu duduk tepat di hadapan saya, kami duduk berdua saja, pintu kamar ditutup. Mulailah ibu berbicara tentang apa yang saya lakukan. Bertanya tentang perasaan saya, lalu mengemukakan perasaan ibu saat saya berbuat demikian. Lalu ibu membuka Al-Quran, mulailah ibu membacakan ayat-ayat yang berkenaan dengan apa yang telah saya perbuat. Dari situ, lambat laun saya menjadi paham, bukan ibu yang melarang atau tidak suka, tetapi Allah. Dan apa yang sudah menjadi ketentuan, tidak terbantahkan. Demikian juga jika adik-adik saya lupa peraturan, kami semua didudukan oleh ibu. Suara ibu tak pernah terdengar sampe keluar kamar, sekalipun kami sering menempelkan telinga ke pintu saat ada salah satu dari kami didudukan dalam kamar itu.

Tak pernah terjadi acara ledek-meledek seperti yang sering saya lihat di film, antara kakak-adik yang saling meledek jika salah satunya dimarahin oleh orangtuanya.

Ibu sangat menjaga harga diri kami masing-masing, membuat kami merasa sangat dihargai karenanya. Semua itu sangat mengena di hati kami, terutama saya. Kenangan itu sangat membekas, sosok ibu yang luar biasa.

Ibu tak pernah marah sambil berdiri,

Ibu tak pernah berkata keras saat kesal,

Ibu bisa menunjukkan kami apa yang harus kami perbuat sesuai dengan Al-Quran.

Saya ingin bisa seperti beliau….
meski saya ini bukan darah dagingnya, ….tak seperti adik-adik saya
dia hanya ibu sambung saya, ya…beliau bukan ibu kandung saya…..melainkan ibu kandung adik-adik saya.

***Kisah ini begitu menyentak batin saya saat mendengarnya. Saya, ibu dengan 3 orang anak kandung…hiks…

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Kisah APIK, Mama. Tandai permalink.

7 Balasan ke Didudukan

  1. nh18 berkata:

    dia hanya ibu sambung saya, ya…beliau bukan ibu kandung saya…..melainkan ibu kandung adik-adik saya.

    Kalimat ini sungguh menyentak …

    Cerita yang bagus …
    dan saya pikir sangat layak untuk dilakukan oleh Para Ayah Juga …
    sangat layak …

    salam saya Ibu
    Thanks for Sharing …

    • Devi Yudhistira berkata:

      Makasih om….

      Sedih banget…sementara saya, yang notabenenya ibu kandung malah sering terlupa…bersikap seperti ibu tiri seperti di kisah cinderela….

      semoga Allah memaafkan saya….

  2. rully berkata:

    Hiks… (crying mode on)…
    Semoga aku dan para orangtua lain bisa meneladani ibu di cerita ini… demi para generasi muslim yang lebih baik… amiin..
    Ya Allah Ya Rahman Ya Rahiim, kuatkan saya, berikan saya keluasan ilmu, dan kesabaran yang lebih untuk menjadi ibu terbaik bagi anak2 saya… amiin…

  3. treezy berkata:

    aduhh…mau bilang apa lagi aku..
    speechless….lha anakku udah besar2…salah didik wis…

  4. mas stein berkata:

    bijak sekali, ijin share ya mbak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s