Saya Dipaksa

Minggu lalu, saya dikejutkan oleh postingan Om Trainer NH18 tentang lagu anak-anak.

Membaca tulisan beliau, membuat pikiran ini melayang ke masa SD, masa-masa yang lucu ternyata. Karena setelah kupikir-pikir seraya mengingat, lagu andalan yang dinyanyikan saat giliran maju ke depan kelas pas pelajaran seni suara adalah lagu “Pemandangan”, jadi terimakasih banget ya dapet kiriman lagu ini, dan lagu-lagu lainnya.

Alesannya sih sederhana banget, gara-gara bu guru pernah bilang, kalo nyanyi pakai gerakan, nanti nilainya pasti ibu tambahin. Itu saja sih. Bukan karena pengen unjuk kebolehan, buukkkaaannnn banget, karena gerakan yang saya lakukan ini justru untuk menutup kualitas vokal saya yang amburadul bin nggak enak banget kalo didenger. Cuman, daripada nilainya jelek, ya saya tambahin gaya sedikit lah 🙂 sedikit banget sih gayanya. Nggak tau kenapa, lagu Pemandangan ini benar-benar memudahkan saya ngarang gerakannya, tentu saja tertolong dari liriknya yang sangat oke itu.

Masalah yang paling mengganggu pikiran saya kala itu adalah, saya dipaksa ikutan tim paduan suara!!! Bayangin, saya bener-bener nggak bisa nyanyi, fals, kenapa malah dipilih ikutan paduan suara? Peristiwa itu benar-benar membuat saya down, nggak pede habis. Ngebayangin ditest satu-satu jangkauan vokal kita, dengan menyenandungkan “la..la..la..la..la…la…la……jreng…naik nadanya….lalalalalalala…jreng …naik lagi…….lalaalalalala…..” duh gusti…

Kala test itu tiba, hiks…saya bener-bener gemetaran, di hadapan kakak-kakak kelas yang emang suaranya bagus-bagus semua karena mereka tim paduan suara di gereja. Sementara saya? Nyanyi disertai gerakan saja karena untuk menutupi suara saya yang sembeeerrr.

Akhirnya kemampuan menyanyi saya terbukti sudah.

Dimasukin ke suara 1, aneh

Dimasukin ke suara 2, juga aneh

Dimasukin ke suara 3, apalagi….

Nah lo…tau rasa juga kan yang maksain saya ikutan paduan suara, bingung mau nempatin saya di kelompok mana. Akhirnya…saya mendapat tempat yang layak dengan kemampuan saya bergerak (catat, menggerakkan tangan, bukan mengeluarkan suara), hehehe jadi “dirijen” hooolaaa tulisane piye sih ya???<cadangan tapinya ya>

Ah, namun peristiwa semacam itu gak cuma sekali saya alami, acara pemaksaan itu kembali saya alami…untuk kegiatan yang lain, Pramuka, murid teladan, cerdas cermat, olahraga yang semuanya notabenenya sebagai wakil sekolah. Dah gitu, selalu saya ini wakil terkecil yang dipilih, dalam satu regu semua kakak kelas, angkatan saya ya cuman saya sendiri.

Perasaan saya itu biasa-biasa saja deh, si kelas juga nggak pernah aktif bertanya ataupun menjawab, lebih sering diem aja bahkan kalo ditanya 😦 . Kenapa saya yang dipaksa ya???

Jangan-jangan saya ini seperti tokoh Dicky, muridnya Bu Al yang diceritain di blognya.,

Nah, sementara guru-guru SD saya akhirnya memilih melakukan cara seperti bu Al, kudu dipaksa-paksa kali ya….entahlah, sampe sekarang saya nggak tau kenapa. N then, cerita itu terus berlanjut ke SMP, SMA…oalaahhhh, nasib.

Berarti sayanya yang bermasalah!!!! Krisis PD kali ya???

Kalo krisis PD kayaknya sih nggak juga deh, saya orangnya lumayan PD kok… 🙂

Satu hal yang saya yakin bener, saya punya banyak teman, cepat kenal dengan orang lain…(GR)

Jadi kudu koreksi diri, apa saya sekarang masih seperti itu…hehehe, jangan-jangan iya 😦

Yang jelas, kalau saya terpilih, sampai sekarang masih saja terus bertanya, “kenapa nggak yang lainnya saja sihhh????” ujungnya berakhir dengan pemaksaan.

Orang yang anehkah saya???? Bagaimana menurut teman-teman???

(Eh, teman-teman, Om Trainer ini beramal lo ke kita-kita, berbagi lagu anak-anak dan lagu daerah…kalo mau download, silakan berkunjung ke blognya ya…)

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Mama. Tandai permalink.

8 Balasan ke Saya Dipaksa

  1. nh18 berkata:

    Senyum-senyum Blognya di promosikan …

    Terima kasih Bu Devi

    Salam saya

  2. nh18 berkata:

    Menjawab Pertanyaan Bu Devi ?
    Tidak … ini tidak aneh …

    Diperlukan seseorang dengan kemampuan kharismatis untuk menjadi Dirigen …

    Dan itu dinilai oleh Guru ibu Devi … Kompetensi itu ada pada Ibu Devi

    🙂

    Salam saya

    • Devi Yudhistira berkata:

      hahaha…..bukan karena daripada saya ikutan kelompok paduan suara tp bikin kacau ya om???

      Syukurlah kalo memang karena itu…berarti saya dinilai kharismatik 🙂 (GRnya lebay niiihhh)

  3. rully berkata:

    mungkin guru mbak devi melihat mbak pede dengan penampilan mbak. dan bukankah percaya diri itu modal pertama dan utama.. cuman pas setelah ditunjuk, mbak devi sempet maju mundur gak pede tuuh… hehe…

  4. Prima berkata:

    Hahahahahahah…. mbak devi tuh keliatan bakat tengil dan gampangan, gampang di ajak, gampang dilatih! 😀

    dan kadang bener kata om, kharisma gak bisa diilangin, ada yang mereka lihat kali mbak devi, ntah apa… 😛
    kalo saya sih, kharisma sih gak, cuma katanya asik aja orangnya… dan samakita, sama2 gampangan, wkakakaaka…. gampang “katut”!

    wkakakaakkaaka

  5. Ping balik: Sekolah Dasar… | Belajar dari anak-anak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s