Senyum Licik

cTiba-tiba saja Kakak mengencangkan pegangan tangannya, tubuhnya pun semakin mendekat ke tubuhku. Hm, ada apa denganya ya??? Kulirik perlahan, dia sedang menatapku dengan cemas sambil bolak-balik melihat ke arah belakang kami.

‘Kenapa kak?’

Mama, kakak nggak nyaman, kakak takut!!! <mulai meneteskan airmatanya>

‘Ada apa kak? ‘ <kupeluk untuk memberikan sedikit ketenangan padanya>

Aku nggak mau nanti lewat sini lagi, aku takut, nggak mau lewat ssiiinnniiii!!! <sambil terus berteriak histeris, tangisnya makin kenceng>

‘Maaf kak, ada apa sih, ada yang menganggu kakak?’ <Ayah yang berjalan di belakang kami juga heran melihat kakak yang menangis histeris>

Aku takut..pokoknya nggak mau lewat sini, aku takut, ada orang yang ngeliatain aku terus tadi, aku nggak mau!!! <ekspresinya ditambah sambil menghentak-hentakkan kakinya, masih saja berteriak histeris, mulai minta gendong ayah>

‘Oh, kakak takut banget ya??? Nggak nyaman banget ada orang mengerikan yang liat kakak ya? Apa dia menyentuh kakak???’ <pelukannya semakin mengencang>

Iya, aku takut…dia ngeliatin doang ma, nggak pegang aku, kita lewat sana saja ya ma, yah??? <emosinya mulai mereda dan bisa berbicara dengan baik, di sisi lain, kami sedih, kenapa dia masih merasa tidak nyaman padahal di situ ada saya dan ayahnya?>

Akhirnya kami memilih jalan yang dipilihnya itu. Selama perjalanan dia sibuk bercerita apa yang membuatnya sangat tidak nyaman dan ketakutan. Menurutnya ada seseorang yang berpenampilan seperti penjahat di film2 (gondrong dan bertato) sedang duduk di pinggiran trotoar, pas kita lewat di depannya, orang itu terus memandang Rahma sambil tersenyum. (sementara kami tidak melihatnya).

‘Oh, rupanya kakak takut sama orang tersenyum ??? Senyum kan ibadah kak’

Iya aku tahu ma, tapi mama nggak liat sih, senyumnya itu bukan senyum biasa ma…

‘Lo bukan senyum biasa, maksud kakak?’

Senyumnya itu ya ma, SENYUM LICIK, seperti penjahat di TV. Gini nih ma senyumnya…pasti lah aku jadi nggak nyaman, hi takut.<sambil mencontohkan senyum licik versinya>

Hm, anakku sudah bisa merasakan senyum yang membuatnya nggak nyaman. Tapi sesungguhnya, kami bingung harus berkata apa jika kejadian seperti ini terulang lagi.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Kakak Rahma. Tandai permalink.

2 Balasan ke Senyum Licik

  1. rully berkata:

    mungkin itu naluri mbak… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s