Kelulusan Moral

Teman-temannya biasa memanggilnya dengan “Aini”. Sebenarnya dia mempunyai nama yang cukup panjang, Nur’aini Fatmasari Kinasih. Sebuah nama yang sangat menjelaskan tentang visi dan misi orangtuanya yang tinggi.

Dibdandingkan dengan teman-temannya ia mempunyai prestasi yang pas-pasan, bahkan cenderung kurang. Tetapi keterbatasan tersebut tidak membuatnya rendah hati. Ia mampu menutupinya dengan usaha yang lebih keras dan waktu belajar lebih panjang dari teman-temannya. Kebaikan hatinya yang mudah menolong dan ikhlas mendengarkan jeritan orang lain, menjadikan Aini sangat disukai oleh teman-temannya.

Ujian Akhir Nasional (UAN) adalah peristiwa yang besar bagi Aini dan teman-temannya. Mereka mempersiapkan diri untuk setiap materi dengan sungguh-sungguh dan tekun. Sekolah mereka juga memberi fasilitas untuk melakukan pesantren kilat selama 1 pekan khusus untuk mempersiapkan ujian tersebut. Semenjak bangun tidur hingga menjelang tidur kembali mereka disibukkan dengan membaca buku dan mencoba soal-soal ujian tahun lalu. Secara sunnatullah semua dilakukan dan diusahakan dengan baik, tinggal doa dan konsentrasi saat mengerjakan ujian.

Hari ujian telah tiba, seluruh siswa mengerjakan soal-soal ujian dengan konsentrasi penuh, begitu pula Aini. Namun ia tidak menyengka bahwa soal-soal itu begitu sulit untuk dikerjakan. Ia memang merasakan kesulitan mengerjakan soal Matematika. Soal-soal yang sangat rumit ini menjadikan bebannya kian bertambah berat. Sementara teman samping kanan-kirinya dengan tenang mengerjakan soal-soal tersebut.

Gejolak hatinya dirasakan juga oleh teman-temannya yang memang akrab dengannya. Satu persatu mereka menawarkan bantuan untuk menjawab soal dengan cara menunjukkan lembar jawaban mereka. Satu teman mampu ia tolak dan tidak perhatikan. Teman yang lainnya mencoba untuk membantu, iapun dapat menahannya. Waktupun semakin lama semakin sempit dan beban hatinya semakin meningkat dengan kegundahan akan ketidaklulusannya jika ia menolak bantuan=bantuan tersebut.

Bergemuruhlah di dalam hatinya pilihan antara menerima dan menolak bantuan, waktupun semakin sempit. Dalam kondisi yang sangat terjepit, Aini memutuskan untuk menolak semua bantuan, persetan dengan segala nilai dan kelulusan yang palsu. Luar biasa seluruh beban yang menghimpit seakan-akan hilang dan ia bisa merasakan betapa tenang hatinya. Kekhawatiran akan tidak lulus yang semula menghantui akhirnya hilang sama sekali. Ia pasrahkan semua kepada Allah.

Hari pengumuman tiba, Aini termasuk anak yang tidak lulus karena nilai matematikanya tidak sampai standar minimal kelulusan. Tidak ada reaksi emosional dari Aini, ia sangat tenang menghadapinya dan bahkan menyalami teman-temannya yang telah berhasil. Kondidi inilah yang membuat teman-temannya mencucurkan airmata untuk Aini. Mereka tidak tega melihat kondisi Aini.

Dengan didampingi oleh ibunya Aini menghadap kepala sekolah sekaligus mohon pamit dan berterimakasih atas segala pendidikan yang selama ini telah diberikan sekolah. Ketika hendak meninggalkan ruang kepala sekolah, Bapak kepala sekolah menceritakan keteguhan Aini saat ujian kepada ibunya, dengan pesan terakhir “Ibu tolong jaga malaikat kecil kami ini”

Apakah Aini telah gagal??? Saya yakin kita akan mengatakan bahwa ia memang kurang berhasil pada materi soal matematika. Ini adalah hal kecil di dalam konstelasi hidupnya. Akan tetapi ia telah mendapat kesuksesan yang jauh lebih besar. Kesuksesan yang akan menjadi pondasi kuat bagi kesuksesan-kesuksesan pada masa yang akan dating. Kesuksesan tersebut adalah kesuksesan moral, integritas.

Sumber : Buku Aku Wariskan Moral Bagi Anakku, Miftahul Jinan (Panduan Membentuk Moral Anak Bagi Orangtua dan Guru)

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Buku, Kisah APIK. Tandai permalink.

7 Balasan ke Kelulusan Moral

  1. Ms. Resty berkata:

    Keteguhan Aini membuat saya menitikkan air mata. Betapa berat rasanya memilih antara moral, logika dan realita. Saya bangga dengan Aini seperti juga Aini-alini lain yang teguh dalam amar ma’ruf nahi munkar.

    Salam kenal mbak. Thanks sudah mampir di blog saya. Jangan bosan-bosan berkunjung ya…

  2. rully berkata:

    semoga ada cerita serupa Aini di UAN kemaren…
    Walaupun ada cerita ketidaklulusan siswa salah satunya konon adalah karena contekannya yang salah.. tragis sekali…

  3. yoko berkata:

    Subhannallah, Alhamdulillah cerita Aini masih ada di MI Istiqlal kemarin pada saat ujian USBN anak-anak istiqlal satu ruang dengan MI sebut saja MI “X” hari I Bahasa Indonesia aman tidak ada yang mengasih jawaban kepada anak-anak tetapi di hari II Masya Allah, anak-anak mendapatkan jawanan dari anak sekolah lain, tapi subhannallah anak-anak MI Istiqlal tidak mengambil jawaban tersebut bahkan salah satu siswa langsung membuang kertasnya sampai hari ke III siswa tersebut teriak papah alhamdulillah anak-anak Istiqlal jujur (siswa-siswa ‘X” bilang sombang amat anak istiqlal dikasih jawaban ko malah dibuang …..bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s