Belajar Bilangan Jam

Main tebak-tebak angka masih terus menjadi trend sepanjang perjalanan, bergantian dengan rubik dan berantem tentunya…(hueran, yang namanya berantem di mobil kok pasti ada aja tiap harinya..)

Mama dan ayah sih seneng-seneng aja kalo mereka main tebak-tebakannya sekalian menambah kemampuan aljabar mereka. Tambah, kurang, kali, terus aja begitu. Kami hanya jadi pengamat permainan.

Perjalanan panjang (tak terduga, hampir 5 jam berangkatnya doang tuh) yang kami tempuh ke Sukabumi dalam rangka menghadiri pernikahan Bu Mila, rupanya membuat mereka bosan akan operasi angka yang mereka mainkan. Sampai akhirnya mereka memutuskan ganti topik, dapet ide dari Rahma yang bolak-balik menanyakan sudah jam berapa…sudah jam berapa…sudah berapa jam nih…nanti pestanya selesai.

‘Dah ah fif, kita belajar jam aja ya. Kamu tau nggak jam 13 itu jam berapa?’

‘satu lah, iya kan?’

‘Iya betul…kalo 15? … terus kalo 17? …terus kalo 20?’

‘Berarti gini aja, kalo 5+8 berapa dong kalo pake angka jam?’

‘kan 5+8=13, berarti 1 ya kak’ (agak kesulitan…lama berpikirnya)

‘Iya, tapi jangan lama-lama, tau kan caranya?’ <wedew, keluar deh watak  anak pertamanya…hihihi, kami terus pasang telinga>

‘Kak, aku kesusahan niihhhh’

<saatnya mengambil alih kalo sudah begini, karena biasanya mereka terus berantem, yang satu ngotot mengeluarkan teorinya, satu lagi kesel dianggap nggak bisa>

Jadinya, Rafif main tebakannya sama ayah, Rahma sama mama. Rafif meneruskan dengan penjumlahan sederhana, tetap bilangan jam.

Rahma sangat antusias, terus bergantian membuat soal perkalian.

10×3 =6

‘Aku tau ma, itu kan selalu dikurangi dengan kelipatan 12 !’

Alhamdulillah, sudah menemukan konsepnya sendiri …selamat ya kak.

Kami lalu mencoba bermain dengan peng-andaian, andai jam cuman ada angka 1 sd 5 gimana kira kira ya kak.. dan dia mulai asyik bermain dengan andai-andai angka yang lain.

Sepertinya sepele ya, bermain tebak-tebakan angka…namun jika kita tuliskan, itu sudah berapa soal, yang penting anak2 tetap gembira dan menganggap mereka sedang bermain-main, tidak merasa kalo sedang mengerjakan soal sebegitu banyak 🙂

Dalam pembelajaran anak-anak, kami hanya terus belajar bagaimana menstimulasi anak-anak agar mereka menemukan konsep dengan cara mereka sendiri. Karena dari situ mereka akan terlatih untuk selalu berusaha mencari tahu, mencoba membuat pola, lalu kemudian menemukan sebuah konsep dengan cara pandang mereka sendiri, cara yang paling nyaman dari mereka sendiri.

“In reality, no one can teach mathematics. Effective teachers are those who can stimulate students to learn mathematics…students learn mathematics well only when they construct their own mathematical understanding”  (National Research Council,1989, @ Principles of teaching Mathematics)

Dalam hal ini, kami berpendapat (amat yakin), bahwa soal menemukan konsep sendir itu bukan dalam belajar matematika saja,  tapi belajar apa saja. Bagaimana menurut anda?

***Bu Mila, adalah bu guru Rahma dan Rafif yang mengundang kami ke pernikahannya di Sukabumi, tgl 16 Maret yang lalu.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Abang Rafif, Anak-anak, Kakak Rahma. Tandai permalink.

2 Balasan ke Belajar Bilangan Jam

  1. Yudhi berkata:

    Kalo bilangan senam gimana?

    Tadi pagi para satpam, senam sambil menghitung :

    Satu, Dua, Tiga, Satu,
    Satu, Dua, Tiga, Dua,
    Satu, Dua, Tiga, Tiga,
    Satu, Dua, Tiga, Satu
    Satu, Dua, Tiga, Dua,
    Satu, Dua, Tiga, Tiga,

    Dst.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s