Atiku Nelongso

Sabtu kemaren, kami sekeluarga mengunjungi sebuah mall besar di negeri ini…(lebay deh…, tapi memang iya kok, setidaknya menurut kami). Jarang sekali kami berkunjung ke mall yang notabenenya masuk dalam jajaran “Mall besar, mewah, berkelas, papan atas, mall-nya selebritis, mall-nya orang berduit banyak, dan sejenisnya”.

Kalaupun kami pernah berkunjung ke sana, alasannya antara lain :

  1. memburu toko buku Gramedia yang baru dibuka di sana karena bisa dipastikan ada tulisan “diskon 30% all item”.
  2. akan beli barang yang memang ada di sana (dari rumah sudah jelas barang yang mau dibeli, jadi ga perlu berlama2 di sana).
  3. survey tempat kursus membuat kerajinan tangan (bingung juga, kenapa biasanya ada di mall besar itu).
  4. memenuhi undangan teman.

Ada kejadian yang cukup membuat kami sedih, sedih sesedih-sedihnya…

Anak-anak minta main di Playground yang menyediakan berbagai mainan yang cukup menawan dan menantang. Udah semangat 45 tuh ngantri di loket…eh pas sampe gilirannya, cukup kaget, karena harus jadi member dulu n bayar Rp.50.000, baru nanti bisa naik mainan-mainan itu, itu juga masih bayar lagi tiap mau naik. Dasar ndeso ya, ga pernah main di tempat macam beginian…langsung deh otak berhitung…itungannya kok jadi nggak masuk akal gitu ya…<tepatnya nggak masuk di akal kami, tidak dalam batas wajar tanpa syarat>.

Yang bikin sedih, melihat reaksi anak-anak …ah, ga tega banget…hati ini menangis…sedih banget. Tapi mau bagaimana lagi, kami benar-benar nggak ‘tega’ mengeluarkan sejumlah uang yang ‘tidak sedikit’ hanya untuk bermain di situ, meski anak-anak pengen banget….

Diskusi kecil untuk menyamakan pendapat dengan anak-anak…hiks..meski lebih tepatnya mungkin, sedikit memaksa anak untuk setuju dan membenarkan alasan saya…(hiks..maafkan mama dan ayah, ya nak). Dengan senyum yang dipaksakan hadir, plus setengah menahan tangis, Rahma dan Rafif mulai menghitung bahwa dengan uang yang sama, mereka bisa main di Giant deket rumah dan dapet ratusan koin. (Ya iyalah nak, wong mainannya aja beda jauuuhhhh). Nelongsooooo banget deh….secara, Rahma dan Rafif jarang banget minta ini-itu, giliran mereka pengen main aja kok gabisa menuhin keinginan mereka.

“Maafkan mama ya Nak, maafkan ayah ya Nak”

Arrgghh…pelajaran yang sangat berharga.

Kali lain, kami akan melihat-lihat tempat seperti apa yang akan kami kunjungi, apakah nyaman atau tidak di kantong kami, nyaman ato tidak di mata anak-anak…

Akhirnya kami mampir ke Giant deket rumah, berhubung tepat dengan waktunya makan siang, kami menawarkan makan siang..tambah nelongso lagi, Rafif minta makan siang Nasi Goreng di depan Giant Pondok Bambu, yang bertuliskan “Nasi Goreng 5000” pada spanduk segede gambreng… Rahma bilang ‘di situ aja ma, murah!’. Siang itu kisah kami berakhir di Giant Pondok Bambu dengan sukses, mereka main sepuasnya, kakak beli sendal, mama belanja beberapa keperluan. Semoga bisa menghapus kekecewaan sebelumnya.

Terimakasih ya Kak, terimakasih ya bang, sudah mengerti ….

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Abang Rafif, Anak-anak, Kakak Rahma. Tandai permalink.

12 Balasan ke Atiku Nelongso

  1. Dewi berkata:

    sudahlah mba…jangan terlalu nelongso. Ini penting buat mereka agar bisa menilai mana kebutuhan mana keinginan. mengajarkan mereka juga untuk ‘gemi’

    mereka jarang minta ini itu karena semua yang mereka butuhkan sudah terpenuhi. kalaupun akhirnya mereka minta, bisa dipastikan yang diminta itu adalah keinginan. jadi tinggal menunjukkan, jika memang punya keinginan mesti ada prioritas…penting apa engga…mampu apa engga…

    aku aja yg dari dulu ketat banget masalah keinginan dan kebutuhan, menurut Bapakku masih belum ngajari anak-anak untuk ‘gemi’…hiks… ga tau mesti gimana lagi…

  2. Baru mampir, salam kenal 🙂

  3. bundagaluh berkata:

    xixixixixiixi..untuk urusan yang ini suama banget dengan aku mbak…malah Salsa dan Royan mpe skrg tuh boleh jajan (Rp 1000.-) cuma di hari Jum’at. MEmang sih sering ‘miris/nelongso’ belum lg klo pas ada sodara/temen yg bilang ‘tegane karo anak’ uhhhh, nelongsone tambah. Tp yah, insyaallaah itu baik buat mereka kok, bisa belajar banyak tentang keinginan, kebutuhan dan keuangan…

  4. bundagaluh berkata:

    oiya mbak satu lagi, tyt dengan hanya jajan di hari Jum’at, salsa dan Royan bisa belajar skala prioritas. maksudnya gini, pasti setiap hari (selain jumat) mereka punya keinginan pengin beli ini itu kalau Jumat datang, eh begitu jumat tiba, mereka aku suruh pilih mana di antara keinginan mereka itu. Dan alhasil mereka hanya membeli yang bener-bener mereka inginkan/butuhkan saat itu.
    Cuma pas belanja bulanan mereka aku kasih kesempatan untuk membeli sesuatu yg paling mereka inginkan (dengan batasan harga tentunya) sebagai reward karena mereka mampu memndam keinginan jajan di hari selain jum’at

    • devi berkata:

      Siippp deh mbak…boleh juga dicoba kiy…selamat dah aktif lagi kan surfing internet, dah kangen ama cerita2nya..kasian rumahnya tuh, kelamaan dianggurin…tar ada penunggunya loh 😛

  5. trisulo berkata:

    Tenang aja Rahma….nanti nek ono reja-rejaning jaman kita beli semua Mall ama mainannya itu yah…dan kita gratiskan orang yg mau main itu yah….

  6. nh18 berkata:

    Saya bisa bayangkan wajah nelangsa …
    mulut menganga …
    soroy mata kecewa
    sekaligus … tidak mengerti …
    mengapa untuk bermain saja mesti membayar …

    Jujur bu … (tidak bermaksud lebay atau yang semacamnya …)
    Mata Saya berkaca-kaca membaca postingan ini …
    (sekali lagi membayangkan sorot mata anak-anak itu …)(ditambah lagi celetukan mereka … disitu aja mah … Murah … )(ah anak-anak itu …)

    Salam saya Bu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s