Kecanduan Games Online

Anak saya, usia 16 tahun. Bersekolah di sebuah SMA. Sejak kecil, kami selalu memfasilitasi dia untuk bebas bermain games di rumah. Dengan bermain games, dia bakal anteng dan diam, sementara saya bebas mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Saya melarang anak saya bermain di tempat-tempat penyewaan PS, karena di sana saya tidak bisa mengawasi dengan siapa dia bermain dan permainan apa saja yang dimainkan.

Kalo sudah main games bisa seharian penuh dia di depan TV atau komputer. Waktu itu, kami pikir games-games itu akan melatih motoriknya, juga bisa menambah kecerdasannya, daripada nonton TV mendingan membiarkan dia main games. Waktu berlalu, jaman pun berubah, games biasa tidak lagi menarik hatinya, dia mulai mencoba game online, di warnet, akhirnya, kamipun kembali memfasilitasi, dengan memasang jaringan internet di rumah.

Di mata kami, tingkah lakunya sangat santun, namun ada satu hal yang kami kurang menyadarinya, dia menjadi sosok yang super pendiam, jarang berbicara. Dia hanya bicara jika akan berpamitan pergi dan saat mau makan karena lapar. Kami pikir itu karena memang bawaannya adalah pendiam. Sampai akhirnya, suatu saat kami mendapat surat panggilan dari sekolah, anak kami terancam tidak naik kelas karena sering membolos dan nilainya juga amburadul.

Bagaikan petir di siang bolong, shock sekali kami mendengarnya, dan masih tidak percaya bahwa anak kami demikian perilakunya.  Setelah kami tanya, kemana saja dia menghilang jika tidak pergi sekolah…ternyata dia main games online di warnet!!!

Sakit sekali hati ini mendengarnya, kami langsung mencari informasi mengenai apa yang terjadi dengannya, dan kami menyimpulkan bahwa dia “kecanduan games online”. Tak mengira apa yang telah kami berikan, membiarkan games menemani hari-harinya, justru menjadi penyebab rusak dan kadang tidak konek-nya otak anak yang kami cntai itu. Sedih sekali, menyesal sekali…..

Andai saja waktu bisa diulang kembali, pasti saya akan meluangkan watu lebih banyak lagi untuk bermain dengannya, daripada mementingkan pekerjaan rumah saya. Tapi waktu tidak akan bisa terulang.

Menemui 2 orang yang kepadanya kami berharap bisa menemukan solusi untuknya, namun hasilnya nol. Lalu saya ke psikolog dan beliau menyarankan bahwa saya harus datang ke beberapa orang yang ahli dalam bidang ini, dan terapinya sangat sulit, biayanya juga sangat mahal.

Namun apa itu berarti kami harus menyerah ?

Tangis tak pernah berhenti kala berbicara dengan-Nya. Peristiwa ini lebih mendekatkan saya kepada-Nya. Ketenangan demi ketenangan saya peroleh dengan berbicara kepada-Nya. Perlahan-lahan, kepercayaan diri kami juga tumbuh, sampai akhirnya saya berkeyakinan bahwa “saya yang bisa membantu anak saya, saya ibunya, saya harus mencoba”

Selama itu, belum terjadi perubahan yang berarti, anak kami-pun tidak naik kelas. Pelajaran yang berharga buatnya. Karena momen itu jugalah yang membuat saya berbicara dari hati-ke hati dengannya. Ketika itu, saya tidak bisa bicara apa-apa lagi selain menangis, sambil terus berdoa agar diberikan kekuatan dan kemudahan terhadap lisan saya, dibukakan hati untuk anak saya agar mau mendengarkan apa yang saya utarakan, agar naseha saya tidak numpang lewat di telinganya.

Saat kekuatan itu datang, yang terucap dari mulut saya,

“Bang, mama sedih sekali bang dengan semua kejadian ini. Mama minta maaf ya bang, kalau mamalah sebab dari semua kejadian ini, karena mama membiarkan kamu mengenal dan keasyikan main games”

(…anak saya…seperti biasa, diam saja, sambil bengong, entah mendengar atau tidak…)

“Nak, mau kan kamu memaafkan mama”

(…masih diem…akhirnya dijawab dengan anggukan…)

“Abang tahu kan kalo mama sayang sama abang??”

(…diem, menggeleng…,terdengar lirih dia berkata “Mama nggak pernah bilang”…)

“Nak, apa perlu mama bilang kalo setiap saat mama mendoakan untuk kebaikan kamu, kesembuhan kamu, bahwa setiap kali mama menangis jika teringat kesalahan mama akan kejadian ini Nak??? Mama sedih sekali Nak” (terurai lagi airmata )

(…Maafkan abang ma, harusnya mama bilang kalo mama sedih gara-gara ulah abang, abang nggak mau kalo mama sedih, abang janji, abang mau berubah, tapi tolong abang ya ma, tolong abang…)

Alhamdulillah, sejak hari itu, terlihat benar semangatnya untuk berubah, berusaha mengurangi kecanduannya terhadap games.

(semoga ybs tidak keberatan ceritanya saya share di sini, dari sisi ilmu psikologi, apakah ini sesuatu yang benar dilakukan atau tidak saya juga tdk begitu paham,namun setidaknya apa yang dilakukan ibu tsb sudah membuahkan hasil yang positif . Masih banyak lagi kisah mahasiswa yang pada akhirnya DO gara-gara hal ini, mereka sibuk mendatangi kota-kota lain hanya untuk bertanding dan berkenalan dengan partner bermain games atau bahkan dengan orang-orang yag dianggap jagoan dalam permainan tsb)

Bagaimana menurut teman-teman, apa yang bisa kita pelajari dari kisah ini ???

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Anak-anak, Mama, Umum. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kecanduan Games Online

  1. nh18 berkata:

    Yang perlu dipelajari ?
    Hanya satu hal …
    Komunikasi …

    Dan saya pikir ini bukan dari lembaran rupiah saja …

    bisa jadi hanya berbentuk belaian kecil …
    pijitan dipunggung …
    merapikah kerah bajunya …
    mengantarkannya untuk membeli sepatu kesukaannya …
    dan tatapan sayang jauh kerelung matanya …

    atau as simple as …
    duduk makan siang disebelahnya …

    Ini pelajaran yang sangat berharga bu Dev …
    Semoga teman bu Dev sekeluarga baik-baik saja

    Salam saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s