Hakekat Pengasuhan

Di sebuah sesi Parenting Class yang diadakan oleh Yayasan Kita dan Buah Hati, saya pernah diminta untuk menuliskan apa yang paling diingat tentang pengasuhan yang dilakukan oleh orangtua dulu, baik yang baik-baik maupun yang jelek-jelek.

Dari beberapa hal yang kutulis, ternyata, lebih mudah untuk menuliskan yang jelek-jelek daripada yang baik-baik. Kenapa demikian ya??? Padahal orangtua pasti sudah melakukan banyak hal terbaik buat anak-anaknya. Arrggghhhh, apakah itu berarti saya anak yang tidak tahu berterima kasih??? Padahal, saya bisa seperti sekarang ini juga tidak lain karena orangtua saya.

Yang menjadi pertanyaan, bagaimana ya kira-kira jika suatu saat nanti anak saya ikut sesi Parenting Class seperti yang pernah saya ikuti, dan diminta menuliskan tentang gaya pengasuhan saya????? Apakah mereka akan lebih mudah menuliskan kesalahan-kesalahan yang pernah atau sering saya lakukan dalam mendidik mereka???? Jawabannya bisa iya bisa juga tidak.

Dalam percakapan sehari-hari, tak jarang kita menceritakan tentang orangtua kita dulu.

“Mama saya dulu ya, selalu membuatkan susu setiap pagi”

Oh, kalo ibuku sih mbak, pake acara maksa biar aku mau minum susu.

“Ayahku dulu, ihhhh kalo ada temen cowok main, sering loh matiin lampu teras, on-off kayak lampu disco aja’

Masih mending mbak…kalo papaku, pasti temen cowok yang dateng disuruh pulang. Tapi ya sebenernya kalo dipikir-pikir sekarang, aku paham kenapa dulu papa begitu…tandanya papa sayang dan ga mau aku salah pergaulan’

Ya, seperti itulah kira-kira. 🙂

Menurut ibu Elly Risman (psikolog YKBH), tujuan dari pengasuhan pada hakekatnya adalah :

  1. Membentuk Kebiasaan
  2. Meninggalkan Kenangan

Sebagai orangtua, kita harus bisa menjawab/menyediakan kebutuhan anak, dengan mengetahui dan memahami bagaimana tahapan perkembangan, bagaimana perkembangan dan cara kerja otak anak, kita jadi bisa memahami bagaimana anak melihat dunianya, bagaimana dia belajar, bagaimana dia bertingkahlaku, bagaimana dia berkomunikasi.

Dengan pola pengasuhan yang baik nantinya akan membuat anak menjadi dirinya sendiri, sehingga anak mempunyai kemampuan untuk BMM (Berfikir, Memilih, Mengambil Keputusan) sepanjang hidupnya, Insya Allah anak akan bahagia.

Mari kita isi pundi-pundi jiwa anak kita dengan kebaikan. Sehingga ‘kebaikan’ pula yang akan mereka kenang sepanjang hidupnya, selama kita masih ada menemani mereka ataupun ketika kita sudah meninggalkan mereka di dunia ini.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Anak-anak, Mama, Umum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s