Adversity Quotient

Dalam sebuah kesempatan di Rumah Parenting, bu Elly Risman ‘sekilas’ mengulas tentang Adversity Quotient (AQ). Jadi browsing tentang AQ yang bru pernah saya dengar (telat banget yaaa…tapi gapapa deh, daripada ga pernah denger…menghibur diri-mode on). Hebat ya yang namanya internet, langsung nemu beberapa tulisan tentang AQ ini.

AQ adalah : kecerdasan yang dimiliki seseorang dalam mengatasi kesulitan dan sanggup untuk bertahan hidup.

Namun ada satu yang pengen saya kutip dalam tulisan saya, yang tidak saya dapatkan dari internet,  melainkan dari buku “Quantum Quotient : Cara praktis melejitkan IQ, EQ, dan SQ karya Ir. Agus Nggermanto”  yang ditulis beliau tahun 2001 (hiks, sengaja saya cantumkan tahunnya, agar nyadar betapa saya ketinggalan informasi ttg AQ ini..)

“IQ dan EQ belum memadai untuk menjamin kesuksesan belajar seseorang,” kata Paul G. Stoltz, Ph.D dalam bukunya Adversity Quotient : Mengubah rintangan menjadi peluang. Dia melengkapi dengan kecakapan jenis ketiga yaitu AQ. Kesuksesan belajar dan kerja Anda dalam hidup sebagian besar ditentukan oleh AQ Anda. AQ menjadi demikian penting karena :

  1. AQ menunjukkan seberapa baik Anda dapat bertahan menghadapi kesulitan dan mengatasinya. Penelitian menunjukkan bahwa orang sukses adalah orang yang tetap gigih berusaha meskipun banyak rintangan atau bahkan ‘kegagalan’. Tidak ada orang mencapai sukses sejati tanpa merasakan kegagalan sebelumnya. Tidak kurang dari 33 penerbit pernah menolak naskah Chicken Soup for The Soul. Para editor beranggapan bahwa kumpulan cerita tersebut tidak laku dijual. Tetapi berkat kegigihan sang penulis, akhirnya naskah tersebut dapat diterbitkan. Nahkan menjelang 1998 berhasil terjual 30 juta buku dan diterbitkan lebih dari 30 bahasa.
  2. AQ merupakan alat ukur yang dapat digunakan untuk memprediksi siapa yang akan mampu mengatasi kesulitan dan siapa yang jatuh. Dimens-dimensi AQ merupakan faktor signifikan penentu kesuksesan atau kegagalan seseorang. Sebagai contoh, dimensi kontrol (kendali), orang yang memiliki kendali baik ia akan mampu bertahan dalam kesulitan, kemudian mengaturnya untuk mndapatkan peluang berikutnya.
  3. AQ memprediksi siapa yang akan mencapai kinerja sesuai harapan dan potensi dan siapa yang gagal. Semua orang mempunyai potensi yang besar untuk menjadi sukses, tetapi hanya sedikit yang meyakini potensi dirinya.
  4. AQ memprediksi siapa yang akan menyerah dan siapa yang akan menang.

Orang yang memiliki AQ tinggi tidak akan pernah takut dalam menghadapi berbagai tantangan dalam proses pendakiannya. Bahkan dia akan mampu untuk mengubah tantangan yang dihadapinya dan menjadikannya sebuah peluang.

Maka berdasar AQ, terdapat tiga kelompok manusia, yaitu :

  1. Quitters. Adalah orang yang langsung berhenti di awal pendakian. Mereka cenderung untuk selalu memilih jalan yang lebih datar dan lebih mudah. Mereka umumnya bekerja sekedar untuk hidup, semangat kerja yang minim, tidak berani mengambil resiko, dan cenderung tidak kreatif. Umumnya tidak memiliki visi yang jelas serta berkomitmen rendah ketika menghadapi tantangan dihadapan.
  2. Campers. Adalah orang yang berhenti dan tinggal di tengah pendakian. Mendaki secukupnya lalu berhenti kemudian mengakhiri pendakiannya. Umumnya setelah mencapai tingkat tertentu dari pendakiannya maka fokusnya berpaling untuk kemudian menikmati kenyamanan dari hasil pendakiannya. Maka banyak kesempatan untuk maju menjadi lepas karena fokus sudah tidak lagi pada pendakian. Sifatnya adalah satisficer, merasa puas diri dengan hasil yang sudah dicapai.
  3. Climbers. Orang yang berhasil mencapai puncak pendakian. Mereka senantiasa terfokus pada usaha pendakian tanpa menghiraukan apapun keadaan yang dialaminya. Selalu memikirkan berbagai macam kemungkinan dan tidak akan pernah terkendala oleh hambatan yang dihadapinya. Mundur sejenak adalah proses alamiah dari pendakian, dan mereka senantiasa mempertimbangkan dan mengevaluasi hasil pendakiannya untuk kemudian bergerak lagi maju hingga puncak pendakian tercapai.

( sumber : http://prayudi.wordpress.com/2007/05/10/adversity-quotient-aq/ )

Kebanyakan tulisan tentang AQ dikaitkan dengan manajemen, pemberdayaan pegawai dan kecerdasan. Kira-kira, apa ya kaitannya dengan parenting????

Siapapun, setiap orangtua di dunia ini pasti ingin anaknya mempunyai kecerdasan dalam mengatasi kesulitan hidup, hm, apa ya istilahnya..mungkin bisa dikatakan punya daya juang agar dapat bertahan hidup dalam segala situasi.

Bagaimana caranya agar kita tidak melakukan kesalahan dalam pengasuhan sehingga bisa menjadikan anak-anak mempunyai  kemampuan untuk membal (bounching back) dari masalah yang dihadapi dan masalah tersebut menjadikan mereka manusia yang lebih kuat (resiliensi), membuat mereka punya kemampuan untuk melihat semua kesulitan sebagai tantangan yang harus dihadapi dan dikalahkan???

Pernah denger tentang Peter Pan Syndrom dan Cinderella Complex?? Hal ini tidak lain adalah sebuah fenomena yang menggambarkan anak-anak yang tidak memiliki AQ.

Tanpa disadari, pola pengasuhan kita sering kali terlalu/bahkan  selalu melindungi, membiarkan anak bermanja-manja secara berlebihan,  tidak membangun jiwa BMM (Berfikir-Memilih-Mengambil Keputusan) yang menjadi ‘penyebab utama’ mengapa anak-anak tidak mempunyai AQ tinggi.

Mengapa bisa demikian ?

  • Ortu tidak siap menjadi ortu
  • Ortu yang kehidupannya dahulu sangat susah, sehingga kini memiliki ’dendam positif’ ingin memanjakan anak dengan berbagai kemudahan
  • Ayah – Ibu dengan pengasuhan bertentangan. Ayah mau A, Ibu mau B. Tidak pernah kompak, sehingga anak menjadi bingung.
  • Ortu yang lama sekali baru dikaruniai seorang anak.

Selalu memahami perasaan anak, memahami masalah siapa, kapan kita harus mendengar aktif dan kapan kita haru melakukan pesan saya.  Mari kita isi pundi-pundi jiwa anak kita dengan kebaikan yang karena pada intinya pengasuhan itu adalah sebuah ‘pembentukan kebiasaan dan peninggalan kenangan’. Kita tidak pernah tau sampai berapa lama  kita bisa mendampingi mereka karena umur kita yang tidak tentu. Jangan tinggalkan generasi yang lemah di belakang kita. Tetap semangat!!!!!

Artikel terkait :

Gizi dan Adversity Quotient

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Anak-anak, Mama, Umum. Tandai permalink.

11 Balasan ke Adversity Quotient

  1. rully berkata:

    wah, aku malah baru tau ada AQ :))
    dan aku kayaknya masuk tipe quitters… harus bener2 memotivasi diri dengan kuat sebelum bisa climbers… :((
    semoga fani bisa jadi climbers sejati.

  2. apiqquantum berkata:

    Artikel yang bagus.
    Semangat mendaki… dan mendaki…!

  3. lilo berkata:

    Artikel yang bagus, perlu kita terapkan pada diri kita dan anak2 kita. Terutama pada BMM, karena semua akan berujung pada pengambilan keputusan yang benar pada saat yang tepat. Menurut saya, itu penting sekali karena keputusan yang kita ambil haruslah yang bermanfaat pada saat kita memilih…
    Bagus… bagus…lanjutkan!!!!!

  4. Trisulo berkata:

    Nyaamm nyamm nyaamm..
    santapan otak yang segar….sumber inspirasi

  5. ly berkata:

    top tulisannya… istilah AQ aku juga baru tahu, hihihi… penjelasannya sangat menggugah dan menginspirasi.

    *ssstt, ini komen pertamaku lho selama aku hibernasi hihihi…

  6. zenimtr berkata:

    keren… hummm…. g tw kbetulan q nemunya orang tua yang seperti ini ato sebenernya emang banyak… sering bbrapa kaidah mengenai posisi orang tua yang tinggi n thormat justru jadi pembenaran atas tindakan mereka yang sering kali mengebiri hak anak…. klo ngeliyat gt… pas ada hari ibu.. rasanya jadi miris aja…. [maap rd g nyambung hehehe]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s