Berawal dari : Reading Project

Membaca…membaca…membaca…

Sudah cukupkah sekedar membaca saja??? Hasilnya bakal kayak aku gini deh (atau rata-rata orang Indonesia kali yaaaa) yang susah banget mengemukakan ide di depan umum, atau bahkan bisa dikatakan susah untuk punya ide alias tidak kreatif…pokoknya yang berkaitan dengan yang namanya presentasi, pasti bikin grogi tenan.. 🙂

Masih mending kalo dari membaca kita punya keahlian jadi ‘konseptor’ alias orang di balik layar yang selalu mengharapkan seseorang yang suka dan pandai (berani) bicara di depan publik, orang seperti inilah yang nantinya akan lebih dikenal khalayak daripada si konseptor itu sendiri. Nah kalo konseptor aja enggak…beraninya menjadi konseptor dalam hati n pikiran sendiri saja, nggak pede ngomong ke si jago bicara juga, apa nggak parah tuh saya iniiiii????

2 tahun belakangan agak lumayan, berani nulis di blog…hehehe, sebuah kemajuan meski kadang ada rasa malu ketika ada teman yang kukenal membaca tulisan di blog, tapi ya terserah aja deh…yang penting berani nulis sudah kuanggap sama menyampaikan kepada khalayak…meski tidak hebat yang kusampaikan tapi itulah kemampuanku dan itu juga memerlukan sebuah keberanian 🙂

Lho kok jadi ngelantur ya…

Back to topik, ada cerita dari temen tentang sebuah pembelajaran di Luar Negeri, yang dilakukan oleh siswa kelas 3 SD yang membuat saya takjub, dan bagi saya itu adalah ‘ide baru’ yang bisa diterapkan buat anak-anak.

Alkisah, mereka diwajibkan untuk membaca sebuah buku yang sesuai dengan minat masing-masing, dan mereka diminta membuat sebuah resume tentang buku yang sudah dibaca. Setelah itu mereka juga diberi kesempatan untuk presentasi tentang isi buku di depan teman sekelasnya. Tentu saja gaya tiap anak dalam menyampaikan berbeda-beda. Lama kelamaan, anak-anak akan menemukan gaya yang paling nyaman bagi mereka dan mereka pun mulai presentasi dengan berbagai ide yang bisa menghasilkan sebuah ‘sajian’ semenarik mungkin di depan teman-temannya.

Ada seorang anak yang membaca buku tentang cerita khayalan tentang ‘apple pie’. Ketika menceritakan kepada teman-temannya, dia punya ide untuk membagikan resep yang sudah disiapkan copy-nya, lalu membagi pie buatannya sendiri kepada semua teman-teman. Presentasinya juga dengan gambar-gambar pie…Hebat kan??? Dari sebuah cerita khayalan yang berkembang menjadi sebuah ide kreatif ttg bagaimana mengemas penyampaian ttg pie itu menjadi menarik buat teman-temannya.

Sederhana??? atau brilian??? atau biasa???

Karena dulu hanya sekedar membaca dan membaca saja, tanpa dimintai pendapat ttg apa yang dibaca (lebih tepatnya tidak biasa), jadi berpikir itukah yang membuat saya menjadi orang yang seperti sekarang ini? Susah menyampaikan ide/pendapat??? Denger cerita teman2 yg dapet beasiswa di LN juga begitu, kalo soal nilai, jangan ditanya orang Indonesia. pasti nilainya bagus..tapi soal ngomong pasti kalah ide dengan yang lain…piye tuh???

Bagi saya sih cerita tsb sangat inspiratif…mungkin buat sebagian teman-teman sudah mendengar sebelumnya, terdengar biasa, tapi buat saya yang baru denger sangat takjub…apalagi bertepatan dengan hoby baru Rahma, bikin tulisan pake powerpoint n ngomong sendiri di depan papan tulis.. 🙂

Jadi output dari membaca ada banyak…

  1. memahami bacaan.
  2. mencoba mencari kaitannya dengan apa saja (sain,matematika,bahasa,geografi,dll), yang tentu saja sangat tergantung dengan minat anak di suatu bidang tertentu.
  3. membuat pendapat ttg bacaan dan ide-ide kepada teman-teman, dengan kreasinya masing-masing, tentu saja akan membuat anak terbiasa ‘kreatif’ menyiapkan sebuah bahan presentasi yang menarik.
  4. menyampaikan apa yang telah dibuatnya kepada teman-teman.
  5. menjawab pertanyaan teman-teman.

Bagaimana menurut teman-teman???

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Anak-anak, Mama, Permainan, Umum. Tandai permalink.

8 Balasan ke Berawal dari : Reading Project

  1. ke2nai berkata:

    bagus tuh mbak.. alhamdulillah di sekolahnya anak2 juga gitu.. walopun mereka masih PG & TK. Secara berkala sekolahnya minta anak2 membawa buku favorit mereka, lalu mereka diminta u/ menceritakannya di depan kelas. Maksud & tujuannya adlh u/ menggajarkan mereka supaya berani berbicara / bercerita. Dan bener mbak, dr situ nanti keliatan kok gayanya masing2 anak kl udah cerita 🙂

    • yudhistira31 berkata:

      Iya ya mbak…semoga kita bisa menerapkan juga di rumah, kalo di Australia katanya kita bener2 ‘diwajibkan’ membacakan cerita dan membuat report ttg kesan dan tanggapan anak….pendidikan anak usia dini dipersiapkan dengan amat sangat serius…dan bukan hanya tugas pemerintah tapi yg terpenting tugas orangtua…

  2. rully berkata:

    wehehehe.. dua paragraf pertama tuh gueee bangeeet… hihihi… hmm, yah lumayanlah hasil membaca adalah bekal penting untuk bikin nota dinas hihihi…

    • yudhistira31 berkata:

      Rully…saatnya berubahhhhh…..menjadi lebih baik, berani kan???hehehe, bikin nota dinas???wkwkwkwkwk….bener banget Rul, tp bukannya copas aja yak???wkwkwk, eh nggak juga ya, di tempatmu butuh banyak analisa, kalo aku sih banyakan copas doang tinggal ganti angkanya saja (tidak kreatip)

      • rully berkata:

        iya nieee… udah masuk comfort zone. ngerti sih udah harus berubah, tapi kok malezt nya minta ampun nie.. hiks… padahal udah tahun baru… gak bikin resolusi apa2 nie…

  3. Ms. Resty berkata:

    Salam kenal mbak, jika ada waktu jalan-jalan ke blog ibu guru dari Tangerang. Mudah-mudahan ada oleh-oleh yang bermanfaat.

    Salam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s