Krisis Paruh Baya

Whats???? Paruh baya identik dengan tua bukan???

Jadi bertanya pada diri sendiri, apakah sedang/akan/bakal mengalami krisis paruh baya…lebay nggak??? masih 35 tahun 🙂

Ups….cuman bener juga kalo dipikir-pikir, rata-rata sampai berapa sih usia kebanyakan manusia diberi kesempatan ‘hidup’ ??? kurang lebih 35 th termasuk dalam hitungan paruh baya …whaaa…berarti bisa aja dong kena krisis ini….

Tapi boleh dong menghibur diri ketika melihat tulisan di artikel tentang paruh baya “Life begins at 40”

Berbagai artikel menyebutkan bahwa yang disebut krisis paruh baya = puber kedua, namun saya pribadi lebih setuju dengan pandangan yang menyebutkan bahwa krisis paruh baya “bukan” puber kedua, melainkan pada masa itu banyak peristiwa besar yang dapat menimbulkan gangguan psikologis berupa :

  1. stres
  2. kecemasan
  3. depresi

Pada usia paruh baya, banyak peristiwa besar yang dapat menimbulkan masa-masa penuh stress dan depresi seperti meninggalnya orang yang dicintai (orang tua ataupun pasangan hidup), kemunduran dalam karir, anak-anak yang mulai meninggalkan rumah (untuk hidup mandiri), gejala penuaan secara umum (munculnya keriput, uban, kulit berkurang elastisitasnya, berkurangnya vitalitas, menopause, dan lain-lain). Akibatnya, menurut satu kajian, 15% dari mereka akan mengalami “midlife turnmoil” yang mungkin saja berupa keinginan untuk membuat perubahan yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan seperti karir, perkawinan, atau hubungan romantis.

Beberapa kajian juga mengindikasikan bahwa beberapa jenis budaya lebih sensitif terhadap fenomena ini dibandingkan budaya lainnya (Annual Review of Psychology, Vol. 55. 2004) Contohnya: jarang ditemui kasus krisis paruh baya dalam budaya Jepang dan Indian dan sangat menghormati sosok orang tua. Sebaliknya, kentalnya “culture of youth” di dunia Barat nampaknya mempengaruhi banyaknya kasus krisis paruh baya di sana.

Yakobus Sniechowski Ph.D (www.webmd.com) mengatakan bahwa kemerosotan produksi hormon ikut berperan dalam krisis paruh baya. Pada lelaki paruh baya, produksi hormon testosteron mulai untuk menyusut,bersamaan dengan itu semangat dan daya tahan mereka juga menurun. Pada wanita juga terjadi kemerosotan produksi hormon estrogen. Tetapi seiring dengan itu, menurut Judith Sherven pada wanita terjadi peningkatan persentase hormon testosteron. Akibatnya banyak wanita yang mengatakan mereka merasa lebih berenergi, berambisi dan memiliki inisiatif lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Perubahan ini juga mungkin disebabkan kesadaran tentang diri yang berubah pada wanita. Utamanya pada ibu rumah tangga yang biasanya tinggal di rumah untuk merawat suami dan anak-anaknya, ketika tanggung jawab dalam rumah tangga telah berkurang (anak sudah besar atau sudah berumah tangga sendiri) mereka memiliki keinginan untuk melakukan hal-hal baru. Robert Tan dari University of Texas menemukan banyak di antara wanita paruh baya ini yang kemudian melanjutkan sekolah lagi, membuka bisnis sendiri, atau melakukan hal-hal produktif lainnya.

(yulianti, krisis-usia-paruh-baya)

Jadi…. pencetus krisisnya banyak ya…

  1. pandangan budaya
  2. perubahan hormon
  3. perkawinan tidak bahagia
  4. tidak menikah
  5. suami mengalami krisis
  6. tuntutan perkembangan anak
  7. priorits karier
  8. kehilangan yang berurutan
  9. memenuhi impian
  10. menilai ulang masa lalu

Namun, apakah semua orang mengalami krisis di usia paruh baya???? Ada jawaban yang cukup melegakan, “Itu Hanya Mitos”…yang ada adalah masa peralihan berkaitan dengan perubahan status, peran, kedudukan sosial, perubahan interaksi keluarga, dll. Jauh lebih banyak orang yang melalui masa ini dengan tenang, aman dan damai daripada yang penuh gejolak…..

Kalau ditelaah lebih lanjut, pada usia tertentu, yang boleh disebut sebagai titik balik, kita sering berpikir akan kehidupan yang sudah kita lalui, apa yang sudah kita capai dan apa yang belum kita capai, ambisi, cita-cita, impian…ketika kita menyadari sisa usia kita yang ternyata tidak lama akan membuat kita merencanakan “banyak hal” yang akan dilakukan istilah kerennya ‘dapet pencerahan diri kali ya’…nah perubahan-perubahan yang akan dilakukan inilah yang nantinya akan menjadi pemicu apa yang menjadi mitos tentang paruh baya, karena banyak sekali faktor-faktor yang akan kena efek domino dari setiap perubahan yang akan kita lakukan dalam hidup kita selanjutnya…dan jangan meremehkan impian-impian terpendam yang ‘sangat dominan’ pengaruhnya dalam memicu perubahan tsb…

Jadi…apakah anda atau bahkan saya sedang mengalaminya????

(ilustrasi kecil : ketika kita menemukan seorang teman SD di fesbuk, dia menjadi pengusaha garmen,  padahal menurut saya sebenernya saya lebih hebat dari dia (soal ketrampilan menjahit misalnya) gitu loh, kok dia bisa jadi pengusaha hebat???ini bisa menjadi perbincangan, bahkan mungkin kita tidak habis pikir atau yang lebih parah bisa gabisa tidur karena sewot memikirkan keberhasilannya….atau teman SD yang biasa saja, bahkan naik kelas aja juga sudah untung, ehhhh  sekarang sudah S3 dari Harvard…ga tidur berhari2 gara2 resah, cemas mikirin yang beginian…wkwkwk)

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Mama, Umum. Tandai permalink.

18 Balasan ke Krisis Paruh Baya

  1. Mama Aksa berkata:

    Pertama……..
    Yap…betul………, tapi segera sadar bahwa masa depan anak2 kita diatas segala-galanya……

  2. Mama Aksa berkata:

    wahahaha… ceritanya lagi ngiri niee….
    disyukuri apa yang ada sekarang mbak… plus instrospeksi, mungkin masih banyak potensi diri yang belum kita gali, belum kita manfaatkan, belum kita optimalkan.. karena kita udah masuk zona nyaman, yang bikin kliyengan hehehe… kepikiran S2? ato punya usaha sendiri? ato kursus toefl? ato liburan ke belitong? ato bikin LSM?
    hehehe… who knows…

    NB: aku juga mengalami hal yang sama dengan yang mbak devi rasakan selama ini. cuman karena masih mikir, mau selamanya jadi working mom ato full time mother, jadi bingung nglanjutin arah ke depan? any suggestion?

  3. Mama Aksa berkata:

    ohya, ada sedikit cerita tambahan, ada temenku, udah punya anak tiga dengan jarak waktu yang berdekatan. mungkin usianya udah diatas 35, karena dia lulus stan tahun 90an. kupikir dia sudah cukup nyaman dengan kehidupannya. setahun yang lalu, dia ambil beasiswa s2. aku ampe kaget. kirain udah gak ada pikiran untuk hal2 seperti itu. aku gak bermaksud merendahkan, hanya kupikir beliau ini udah gak berorientasi untuk melanjutkan jenjang pendidikan, beasiswa pulak… kan nambah masa ikatan dinas hehehe…

    • Devi Yudhistira berkata:

      La itu tuh Rul….piye yo…pada ibu2 mungkin (hanya dugaan sementara) ada saat di mana zona nyaman tercapai, puas mengasuh anak-anak dan sudah mulai terlihat hasilnya, anak-anak sudah semakin tidak tergantung dengan ibunya, kadang jadi berubah pikiran untuk mengejar sesuatu yang pernah dicita-citakan..(ups, ini sih bukan dugaan, tapi kadang aku juga kepikiran seperti ini), bisa cari kesibukan di luar, ikut berbagai komunitas, dan sekolah lagi, ataupun mulai fokus dengan karier. Kupikir titik balik cuman sekali ya rul…kayaknya berkali-kali nih….hehehe…ada titik balik pengen jadi super mom, ada titik balik mengejar ketertinggalan, nah yg ini yang kudu disikapi biar ga keblinger…
      Btw, emang ada yak beasiswa internal jurusan Psikologi???? ini juga nih yg jadi salah satu biang…hehehe

      • rully berkata:

        kayaknya ama pak sesditjen gak bakal diijinin kalo ambil s2 jurusan psikologi, apalgi sub spesialisasi paud hihihihi…

  4. rully berkata:

    sori, dua comment di atas seharusnya atas nama rully. kok bisa atas nama mama aksa ya.. hehehe… maaf ya mama aksa… maaf ya mbak dev…

  5. nh18 berkata:

    Tiga Hal Ibu …
    #1.
    Tentang stres – kecemasan – depresi
    Saya sudah 46 … entah ini sudah lewat krisis paruh baya atau belum …
    Namun terus terang saja … salah satu alasan kenapa saya ngeblog adalah supaya tidak stress – cemas maupun depresi

    #2.
    Saya suka ilustrasi di paragraf terakhir bu …
    Jujur … I’ve been there dimana saya diliputi perasaan nelangsa … “buat apa saya rangking satu dulu ?” buat apa saya belajar setengah mati …
    ketika melihat kenyataan bahwa … kawan yang (maaf) dulu naik saja sudah syukur … malah jadi pres dir sekarang …
    Namun Alhamdulillah sekarang tidak “BT” lagi … karena saya tau … kebahagiaan itu letaknya bukan di jabatan … Dan Mereka itu juga pasti punya masalah sendiri-sendiri

    #3.
    Bagi saya pribadi … apa yang disebut krisis paruh baya itu adalah proses wajar pencarian jati diri seorang manusia …
    Manusia tidak boleh berhenti belajar bukan ??
    Termasuk belajar bagaimana mengendalikan dirinya sendiri

    Salam saya ibu …
    (saya suka sekali tulisan ibu yang ini …)

    • Devi Yudhistira berkata:

      Wah…bener-bener ya pak NH18…bukan paruh baya lagi.. tapi sudah baya???hehehe maaf bercanda…
      Memang nge-blog menjadi sesuatu yang amat menyenangkan, di dunia maya jarak/batas/apa ya namanya, antara sesama blogger sangat atau bahkan bisa dikatakan tidak ada, mau orang penting, mau orang biasa, mau pejabat, mau guru, penulis hebat, dll semuanya menjadi teman dan berasa akrab, kita juga bebas berkomentar ini itu tanpa sungkan…(seperti saya ini, ngobrol haha-hihi-hehe dengan bapak yang notabene seorang trainer TOP…iya ga???). Bagi saya, ini mampu membantu krisis PEDE loh…berasa punya banyak teman dari berbagai kalangan 🙂
      Ttg ilustrasi…ya mmg seharusnya tdk perlu dicemaskan, tapi ya itu memang timbul begitu saja..jadi mikir aja apakah yg seperti itu yg kadang juga jadi pemicu krisis ini.
      O iya, bener…pencarian jati diri…cuman mungkin saat usia tidak muda lagi, pencarian itu akan berubah menjadi “sesuatu yg harus segera diwujudkan” karena merasa sisa umur yg tidak lama lagi atau bahkan kadang merasa telat jadi ingin segera mengejar ketertinggalan…ibarat lari ya sprint, makanya suka lupa bahwa di sekeliling kita ada orang lain, orang yang juga butuh kita yang mungkin susah mengejar lari kita yg tiba-tiba itu pak….
      Masih kurang tulisan di topik ini, ttg bagaimana cara mengatasinya…bersambung berarti ya….

  6. e-k-o berkata:

    betul. paruh baya sering disandingkan dengan kesan tua. tapi ngomong2, saya masih mudah (31th) tapi kok serasa sudah tua yach ha..ha..ha.. 🙂 apa kiatnya supaya awet mudah? 😀

  7. Iyet berkata:

    Krisis paruh baya..?!kayana itu cm salah 1 dr fase hidup yg kudu d lewatin,trgantung ama qta nya kan..kalo udah nyampe usia itu..kudu bnyk ikhlas,sabar,tawaqal kali..jgn sampe kena pñyakit ‘sms’..senang melihat org susah..susah melihat org senang…

  8. lilo berkata:

    Wah… harusnya kita ikut bahagia bila kawan kita, keluarga kita, atau siapapun yang kita kenal mendapatkan suatu anugerah/karunia/kebahagiaan…dll. Eh… siapa tahu suatu saat kita bisa “nebeng” dikit aja ama keberhasilannya…. Gimana….???? Cocok…???

  9. Daku lebih setuju bahwa “paruh baya” kini merupakan mitos. Karena sedikit banyak dipengaruhi oleh faktor psikologis yg tentu saja kalau kita geser/ubah mindset-nya, karena seperti yg telah dituliskan di atas, “krisis paruh baya” ini lebih banyak dipengaruhi oleh perubahan status, peran, kedudukan sosial, perubahan interaksi keluarga, dll.

    Lalu bagaimana jika pada usia 35-50 ini tidak terjadi perubahan status, peran, kedudukan sosial, perubahan interaksi keluarga, dll? Atau bagaimana jika ternyata pada umur 25-35 telah terjadi perubahan status, peran, kedudukan sosial, perubahan interaksi keluarga, dll? Karena kenyataannya sekarang banyak sekali anak muda yang telah sukses di usia 25 (atau kurang).

    BTW, mitor “krisis paruh baya” ini rupanya telah bergeser. Kalau tidak salah dulu banget umur “paruh baya” ini 50, kemudian jadi 40. Dan mungkin sekarang sudah menjadi 35? Atau akan berkurang terus?

    Sorry ya Mbak, daku nulisnya kepanjangan. Salam.

    • Devi Yudhistira berkata:

      trims atas wacana barunya mas, boleh kupake buat nambahin tulisanku kan?

      bener juga ya…bisa aja umur 25 juga udah ‘matang’

      boleh kok kalo mau nulis lebih panjang lagi, diterima dengan senang hati.
      (lagi mentok ide mau ditambahin apa lagi bahannya)

      *makasih banyak mas dewo*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s