Ku-“dengar” Kasih Sayangnya

Sepanjang hidupku, semasa pertumbuhanku menjadi dewasa, aku tidak pernah mendengar ayahku mengucapkan kata-kata “Aku Sayang Padamu”. Apabila seorang ayah tidak pernah mengucapkan sewaktu anaknya masih kecil, maka dengan bertambahnya usia si ayah akan semakin sulit saja baginya untuk mengatakannya. Terus terang saja, aku benar-benar tidak ingat kapan terakhir kalinya aku mengucapkan kata-kata itu kepadanya. Karenanya pada suatu kali aku memutuskan untuk menyingkirkan perasaan gengsi dan melakukan langkah pertama. Dalam percakapanku dengan ayahku melalui tepelon, setelah agak sangsi sejenak, aku mengucapkannya “Ayah…..aku sayang padamu!”

Sejenak tak terdengar apa-apa, lalu ayah menjawab dengan kikuk, “Yah…sama-samalah!”

Sambil tertawa geli kukatakan, “Ayah, aku tahu Ayah sayang padaku, dan aku juga tahu bahwa jika Ayah merasa sudah sanggup, Ayah akan mengucapkan apa yang hendak Ayah katakan.”

Limabelas menit kemudian ibuku menelepon. Ia bertanya dengan nada gelisah, “Kau baik-baik saja kan, Paul?”

Beberapa minggu setelah itu, Ayah mengakhiri percakapan kami melalui telepon dengan kata-kata “Paul, aku sayang padamu.” Saat itu aku sedang bekerja. Airmataku menetes ketika akhirnya aku “mendengar” kasih sayang Ayah. Kami sama-sama menangis, kami berdua menyadari bahwa saat istimewa ini telah menjunjung hubungan ayah dan anak ke suatu tingkat yang baru.

Tidak lama setelah saat istimewa itu, ayahku menjalani operasi jantung yang nyaris saja merenggut nyawanya. Sejak itu aku sering merenung.

Andai saja aku tidak memulai dan Ayah meninggal dunia setelah operasi, aku takkan pernah bisa “mendengar” kasih sayangnya.

(A Cup of Chicken Soup for the Soul, Gramedia Pustaka Utama 2009)

“Jangan pernah berpisah tanpa ungkapan kasih sayang untuk dikenang. Mungkin Saja perpisahan itu ternyata untuk selamanya” (Jean Paul Richter).

Dad, I love You

Dad, I love You

Tak karuan rasa hati ini membacanya, teringat Papa… berusaha mengingat kembali, sepertinya aku belum pernah mengucapkan kata sayang kepada beliau…hiks….sedih banget jadinya…nyesek…

Padahal sudah berulangkali Papa (tentu saja mengalahkan rasa gengsinya) selalu membisikkan “Papa bangga sama kamu Nak” setiap kali aku pamit meninggalkan rumah saat mudik (dan setiap kali itu pulalah aku selalu menahan diri untuk tidak menampakkan airmataku yang  tumpah karenanya). Berjanji pada diri sendiri, aku harus segera mengatakannya pada kesempatan pertama….

“Papa, aku juga bangga menjadi anak Papa, aku juga sayang sama Papa”…semoga Allah mempermudah lisanku…amien.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Harmony, kata Bijak, Kisah APIK, Mama. Tandai permalink.

8 Balasan ke Ku-“dengar” Kasih Sayangnya

  1. jepitan rambut berkata:

    hiks..hiks..
    hebatnya diluar negeri
    “klo liat pilm2” anak2-ortu kayak dah biasa ngucapin “i lop you mam, i miss you dad”
    hks..hiks..aku juga blm pernah..

    • devi yudhistira berkata:

      mari…mari…dicoba…dicoba….meski dah 3 kali lebaran berlalu…masih kelu juga lidah ini…Astaghfirullah…..baru bisa lewat tulisan macam ini, mafkan aku ya pa…
      semoga kali ini aku dipermudah untuk melakukannya…Insya Allah.

  2. Ny.LaluFahany berkata:

    sbelum puasa ak sempet bilang sayang k bpk tp g gamblang mbk. sama, dalam keadaan menangis..

    • yudhistira31 berkata:

      Alhamdulillah deh kalo sudah berhasil…..semoga aku bisa melakukannya…
      Di rumah, yg tiap lebaran nangis bombay cuman aku doang lo….pertanda aku dosanya banyak kali ya…sedih deh…

  3. rina berkata:

    hix..hix..hix..*speechless*

  4. nina berkata:

    ternyata…untuk bilang kata S A Y AN G…..sulit.. sulit..sulit.. ,kyknya hrs d biasakan…y Yah..

  5. Jadi ingat masa kecil. Dulu papah & ibu selalu membiasakan diri mencium anak2 sebelum pergi & pulang untuk menunjukkan kasih sayang. Bahkan ciumannya lengkap: pipi kiri-kanan, dahi dan janggut. Demikian juga anak2 sebelum berangkat ke sekolah, harus mencium papah & ibu dulu.

    “Sini disayang dulu,” itu artinya dicium dulu. Cium penuh kasih sayang. Setelah kami dewasa, ibu selalu menambahkan tanda salib di dahi sebagai tanda berkat bagi anak-anak.

    Dan kini tibalah giliranku mengajarkan pada anak2. Hehehe…

    Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s