KISAH TEKO si WADAH ILMU (II)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari Kisah Teko si Wadah Ilmu

1. KEMAUAN UNTUK MENINGKATKAN WADAH ILMU

Di bagian awal sudah disebutkan bahwa sebuah teko hanya akan mampu menerima sejumlah air yang sama kapasitasnya dengan kapasitas teko. Lantas, ibarat sebuah teko, bagaimana jika wadah ilmu yang kita miliki pun memili kapasitas yang kecil? Kecilkah kapasitas ilmu yang kita miliki? Jika demikian, bagaimana dengan sebuah firman Allah dalam QS. Al-Nahl (16) : 78,

“Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur (menggunakannya sesuai petunjuk Ilahi untuk memperoleh pengetahuan)”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah telah mengkaruniakan kepada kita empat sarana yang dapat kita manfaatkan dengan baik untuk meraih ilmu yang bermanfaat guna menjalankan fungsi kekhalifahan kita bumi. Dengan demikian, kapasitas wadah ilmu yang dimiliki pun bergantung kepada masing-masing individu. Apakah dengan sarana yang telah dikaruniakan Allah, ia memiliki naluri ingin tahu yang besar akan segala ciptaan Allah yang terdapat di langit dan bumi. Yang dengan demikian dapat menjadikan wadah ilmunya sebagai wadah yang akan terus berkembang menyesuaikan dengan kapasitas ilmu yang ingin diraihnya.

Lain halnya dengan anak-anak, termasuk juga kita para orang tua, yang tidak memiliki naluri ingin lebih mengetahui terhadap berbagai ilmu yang sudah, sedang maupun akan dipelajari. Sehingga, sebanyak apapun ilmu yang telah diberikan oleh guru sudah pasti akan berhamburan kemana-mana karena wadah ilmu yang kita miliki kecil kapasitasnya, karena kita tidak memiliki naluri ingin tahu yang besar terhadap ilmu yang sedang dipelajari / diberikan oleh guru.

Banyak cara agar dapat menjadikan wadah ilmu kita senantiasa berkembang sesuai dengan kapasitas ilmu yang akan kita raih. Dalam hal ini, kami ingin mencoba berbagi sebatas pada pengetahuan kami yang masih sedikit untuk menyiapkan wadah ilmu bagi anak-anak kami agar kelak senantiasa berkembang mengikuti perubahan jaman. Bisa jadi, pengetahuan kami tersebut tidak terbatas implementasinya bagi anak-anak sejak usia dini, remaja maupun yang sudah menginjak dewasa. Namun boleh jadi juga dapat bermanfaat implementasinya bagi kita orang tua dalam menuntut ilmu.

Akal yang telah dianugerahkan Allah kepada kita, kepada anak-anak kita yang dengannya dapat menjawab naluri kita, naluri anak-anak kita untuk meraih pengetahuan yang sebanyak-banyaknya tidaklah semata-mata untuk mendapatkan nilai-nilai yang bagus, tidak pula untuk meraih gelar sebanyak-banyaknya, ataupun setinggi-tingginya. Bukankah Allah tidak akan menanyakan berapa nilai yang kita dapatkan di bangku sekolah? Juga bukankah Allah tiak akan menanyakan gelar pendidikan yang telah kita raih?

Inilah yang seharusnya kita tanamkan kepada mereka sejak dini. Bahwa tujuan mereka belajar adalah agar mereka kelak menjadi khalifah yang dapat memberi manfaat seluas-luasnya kepada bangsa, negara dan seluruh umat dengan berbagai ilmu yang telah, sedang dan akan mereka raih. Dan meskipun ilmu yang sedang dipelajari bukanlah ilmu agama, kita pun harus senantiasa menanamkan kepada anak-anak kita bagaimana agar pemanfaatan ilmu tersebut dapat memberi manfaat seluas-luasnya kepada bangsa, negara dan seluruh umat untuk meraih kenikmatan akhirat kelak.

Sudah barang tentu, agar ilmu yang diraih dapat bermanfaat bagi bangsa, negara dan seluruh umat, hingga membawa kita kepada kita, kepada anak-anak kita kenikmatan akhirat, ilmu tersebut haruslah dapat kita pahami dengan benar. Demikian pula anak-anak kita, mereka harus memiliki pemahaman yang baik dari setiap ilmu yang mereka pelajari. Terlebih bagi anak-anak kita yang masih berada pada level sekolah dasar. Mereka harus memiliki pemahaman yang baik dari berbagai konsep dasar mata pelajaran, yang apabila berbagai konsep dasar tersebut telah dipahami dengan baik akan memudahkan mereka melanjutkan ke jenjang ilmu yang lebih tinggi.

Jika tujuan yang ingin diraih adalah memberikan pemahaman yang baik dari berbagai konsep dasar ilmu kepada anak-anak kita, sudah pasti kita akan lebih menekankan kepada proses pembelajaran mereka baik di kelas, maupun di luar sekolah, bukan pada nilai-nilai mereka, atau beragam prestasi yang sudah mereka raih. Anak-anak, dengan berbagai karakter uniknya, memiliki pula berbagai cara belajar yang dapat membuat mereka memahami berbagai konsep dasar ilmu yang sedang mereka pelajari. Terlebih jika kita memberikan kesempatan dan apresiasi yang tinggi kepada mereka untuk dapat membangun pengertiannya sendiri terhadap berbagai konsep dasar ilmu yang diberikan dengan berbekal pengetahuan yang sudah pernah diperolehnya. Bahkan, jika penekanan model pembelajaran kepada anak-anak kita adalah kepada proses pembelajarannya itu sendiri, banyak sekali konsep-konsep dasar yang dapat kita sisipkan kepada anak-anak kita disamping konsep dasar utama yang sedang kita berikan.

Dengan memberikan pemahaman kepada anak-anak kita tentang makna belajar yang sesungguhnya, diharapkan anak akan memiliki motivasi intrinsik, motivasi yang timbul dalam dirinya sendiri bahwa AKU HARUS MEMILIKI SEMANGAT untuk BELAJAR TENTANG apa saja, KAPAN saja dan DIMANA saja. Hingga demikian, mereka pun memiliki motivasi untuk senantiasa meningkatkan kapasitas wadah ilmu mereka agar dapat menampung berbagai ilmu dengan tingkat pemahaman yang baik agar dapat bermanfaat bagi bangsa, negara dan seluruh umat untuk meraih kenikmatan akhirat.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di ayah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s