Kisah Teko si Wadah Ilmu

Bismillahirrahmaanirrahiim

Teringat  dengan sebuah lagu yang didapat saat sekolah di  RA Istiqlal

Aku teko kecil yang mungil

Ini gagangku,

Ini corongku,

Bila air mendidih

Aku menjerit, Owww

Lalu angkat dan tuangkan

Cuuurrrr

Lagu tersebut dikenalkan kepada anak sambil memperagakan bahwa mereka adalah sebuah teko. Tangan kiri sebagai gagang dan tangan kanan sebagai corong. Ketika mendidih, anak pun memperagakan si teko sedang menuangkan airnya.

Saat masih TK pun Rahma juga senang memperagakannya di depan kami. Disusul kemudian oleh Rafif, sedangkan Syafa, meski belum waktunya untuk merasakan kebahagiaan belajar sambil bermain di RA Istiqlal, kami sudah mengenalkannya.

Selain membuat mereka senang, lucu juga melihat ekspresi mereka ketika memperagakan sebagai teko.

Lagu ini juga yang telah menginspirasi kami tentang makna sebuah teko. Apakah anak-anak kita seperti teko ?

Buat kami, ya ! Anak-anak adalah teko-teko kecil yang mungil, yang seiring dengan perkembangan usia, mereka pun akan berubah menjadi teko-teko besar, bahkan hingga dewasa pun sebagaimana para orang tua hingga kakek nenek pun sudah seharusnya menganggap sebagai sebuah teko, teko raksasa.

Teko adalah sebuah wadah, tepatnya sebuah wadah untuk menampung air, kemudian dengan “kemampuannya” menahan panas dari kompor, menahan titik didih air hingga air pun menjadi matang.

Dengan corongnya, si teko menuangkan air yang sudah matang – lebih aman untuk diminum – kepada satu bahkan lebih wadah-wadah kecil.

Lantas makna apa yang dapat kita ambil dari lagu ini?

Jika air kita perumpamakan sebagai suatu ilmu, sudah pasti teko adalah wadah untuk menampung ilmu. Jika air tersebut masih mentah, maka si teko pun merebus air yang diumpamakan sebagai ilmu tersebut agar ilmu tersebut menjadi lebih bermanfaat.

Dan satu diantara beberapa dalil di dalam Al Qur’an yang menjelaskan keutamaan ilmu,

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberap derajat.”

QS. Al-Mujadillah :11.

Banyak diantara kita para orang tua saat ini, pernah belajar dari TK, SMP, SMA, Perguruan Tinggi, bahkan hingga banyak pula yang sudah meraih gelar Doktor. Namun sudahkah, ilmu-ilmu yang pernah kita pelajari bermanfaat bagi orang lain? Sebagaimana si teko telah mengubah air yang tadinya masih mentah menjadi air yang dapat memberi manfaat bagi manusia. Berapa banyak ilmu-ilmu yang pernah kita pelajari tersebut justru sia-sia? Berapa banyak dari kita yang tidak dapat memperbesar wadah atau mengganti wadah tersebut dengan yang lebih besar, menampung berbagai ilmu yang sudah diberikan oleh guru kita, hingga ilmu tersebut luber, berhamburan kemana-mana, hingga menjadi tidak bermanfaat?

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Hafizh al-Iraqi, Nabi saw bersabda,

“Sebaik-baik manusia ialah seorang Mukmin yang alim, yang apabila dibutuhkan oleh orang lain, maka ia berguna. Dan jika tidak dibutuhkan, maka ia tetap bermanfaat bagi dirinya sendiri.”

Dalam riwayat lain, Nabi saw juga bersabda :

“Manusia yang paling keras siksanya pada hari Kiamat kelak, ialah seseorang yang berilmu, namun Allah tidak memberikan manfaat apa-apa pada ilmu yang dimilikinya.” Hadits Riwayat Ath Thabrani.

Ada empat hal yang dapat kita garisbawahi dari perumpaan si teko ini.

Pertama, sebagaimana sebuah teko, ia hanya akan mampu menerima sejumlah air yang sama kapasitasnya dengan kapasaitasnya sebagai teko.

Kedua, sebagaimana sebuah teko, yang berfungsi sebagai penampung air, dan sesuai dengan sifat air, wadah tersebut haruslah rapat dan tidak ada kebocoran di dalamnya. Selain itu juga, bahwa si teko pun haruslah terbuat dari bahan yang kuat menahan api panas dari kompor, disaat si teko akan merebus air.

Ketiga, sebagaimana sebuah teko, jika air tersebut lama dibiarkan, baik dalam kondisi belum direbus, ataupun sudah direbus, tidak dituangkan atau dipindahkan ke wadah lain, lama kelamaan air dalam tekopun menjadi basi.

Keempat, yang justru prasyarat pertama yang harus dipenuhi bahwa sebagaimana sebuah teko, yang berfungsi sebagai sebuah wadah untuk menampung air minum, sebelum diisi dengan air, sudah menjadi kebiaasan kita untuk memastikan bahwa teko dalam keadaan bersih.

Keempat hal tersebut adalah prasyarat yang keempat-empatnya harus dapat dipenuhi, agar teko dapat bermanfaat secara maksimal sebagaimana fungsinya.

(bersambung)

Iklan
Pos ini dipublikasikan di ayah. Tandai permalink.

2 Balasan ke Kisah Teko si Wadah Ilmu

  1. Ping balik: KISAH TEKO si WADAH ILMU (II) « Belajar dari anak-anak

  2. info ternak berkata:

    wah bagus nih informasinya, terimakasih ya mas udah sharing sama kita-kita
    jadi tambah ilmu baru nih. yuk kalau ada waktu luang sobat, mampir jalan-jalan ke blog sederhana saya, sekedar silaturahmi [info ternak]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s