Ternyata saya hanya bisa diam… hiks…

Minggu malam, kami  pergi  ke Matahari Simpang Lima mengajak anak-anak dan 3 keponakan bermain di playground yang ada di lantai 3. Sementara anak-anak asyik bermain, saya hanya menunggu di kursi tunggu, tentu saja jadi sibuk mengamati orang-orang yang ada di ruang tunggu, sambil sesekali melihat anak-anak.

Tiba-tiba jantung saya berdegup kencang, ada peristiwa yang sangat membuat saya super prihatin. Ada 2 orang asisten RT (entah statusnya pembantu atau baby sister or nanny, I don’t know) yang sedang menemani 2 anak balita (kira-kira umurnya 2 thn dan 4thn). Di depan mata kepala saya, mereka menarik-narik tangan sang anak, membentak-bentak dengan bahasa yang kasar, lalu mengancam akan meninggalkan anak itu sendirian, dan benar-benar mereka berlalu begitu saja. Sang anak menangis keras sambil berteriak-teriak pula. Jadi “emosi banget “ melihat ulah mereka yang kelewatan (versi saya). Ingin banget menegur tingkah mereka, namun masih saja pikiran ‘nanti dianggap ikut campur’ melekat dalam otak saya yang akhirnya hanya bisa membuat saya tertegun tanpa bias berbuat apa-apa sambil bergumam ‘ah, orangtuanya tau ga ya kalo anaknya diperlakukan kayak gini?’ seorang bapak di depan saya tersenyum mendengar saya bergumam sendirian.Saya tidak peduli dengan arti senyum si Bapak, namun saya jadi ikutan menarik napas sambil membalas senyumnya itu.

Apa yang seharusnya saya perbuat?

Lebih mempertimbangkan kepentingan sang anak, berani  menyatakan ketidaknyamanan saya melihat peristiwa itu kepada mereka, agar mereka juga tahu bahwa ada orang lain yang juga tidak nyaman dengan apa yang sudah mereka perbuat itu?

Atau mbatin sambil membiarkan ‘rasa tidak ingin ikut campur masalah orang’ itu tetap ada di pikiran ini?

Yang jelas, sepanjang perjalanan pulang, jantung ini masih terus berdegup kencang, entah kenapa saya merasa sangat menyesal tidak menegur mereka.

Astagfirullah…. Maafkan saya ya Allah, jika Kau anggap saya lalai, bibir ini tak kuasa mengingatkan sebuah kebaikan…

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Anak-anak, Mama. Tandai permalink.

2 Balasan ke Ternyata saya hanya bisa diam… hiks…

  1. bundagaluh berkata:

    wah kayanya aku juga hanya mampu diem aja tuh mbak hik..hik..
    btw, ttg pengasuh, memang bener susah banget nyari yang cocok dan ngerti anak-anak. Makanya nih aku lg bingung banget nyari pengasuh lagi ato tidak. Kalau enggak kok ya repot, tapi kalo iya rasa takut itu luar biasa menghantui.pernah sih dapet yang nggak bener gitu, untungnya baru 5 hari udah ketahuan. Itupun tagihan telpon jadi super membengkak…sebel nggak sih…

  2. asiah berkata:

    bener sih,,kl berada di posisi tadi kemungkinan saya akan diam saja 😦
    untuk masa sekarang ini memang sulit menemukan baby sitter yang memiliki ras kasih sayang dan menganggap anak yang ia asuh layaknya anaknya sendiri,,, tapi hal ini jadi suatu pemikiran buat kita,,siapa sih sebenarnya yang bertanggung jawab dalam mengurus anak,,karna biasanya anak akan dititipkan sejak usia balita yang nota bene adalah masa emas pertumbuhannya,,apakah kita ingin anak-anak kita dibentuk oleh seseorang yang belum tentu memiliki konsep yang baik tentang mengurus anak baik dalam hal moral maupun dalam masalah agamanya 🙂
    saya juga tidak menyangkal bahwa saat ini banyak wanita yang lebih memilih berada di luar rumah untuk bekerja dengan alasan apapun,,tapi mungkin satu yang sekarang ini menjadi pemikiran buat saya dan mungkin bisa menjadi wacana bagi kita adalah tentang hak dan kewajiban seorang wanita yang telah berumah tangga dalam pandangan agama seperti apa,,
    dalam pandangan saya, anak adalah investasi di dunia dan akhirat yang oleh sebab itu maka sudah selayaknya kitalah yang menjadikan investasi itu berdaya guna baik 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s