Thank’s BOS

Lagi-lagi thank’s Bos…,

Saya pernah punya penilaian yang negatif dengan pimpinan yang justru telah berdampingan dengan beliau dalam kurun waktu lebih dari sepuluh tahun.

Waktu yang cukup lama, mungkin rekor dibanding dengan sekretaris-sekretaris yang mendampingi atasannya dengan catatan atasan tersebut adalah orang yang sama.

Bagi beberapa orang, bisa jadi penilaian negatif ini wajar terjadi. Karena penilaian saya terhadap pimpinan tidak lain juga karena penilaian orang lain terhadap pekerjaaan sehari-hari saya.

Beberapa orang mengatakan, diantaranya berasal dari level yang tinggi, bahkan ada pula yang berasal dari senior atasan saya tersebut.

Mayoritas mereka menggatakan,

“Kok kamu masih disini? Ngapain kamu lama-lama disini? Sedangkan teman-teman kamu satu angkatan sudah ada bahkan sudah banyak yang mendapatkan jabatan. Malahan adik-adik kelas kamu pun sudah banyak.”

“Apa yang kamu kerjakan disini? Kenapa kamu nggak sekolah aja?”

Ada juga yang mengatakan, “Kamu sekolah aja, kamu pilih aja dimana kamu akan mengambil S2?” Secara implisit, yang saya tangkap saya saat itu adalah beliau sanggup membiayainya.

Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, timbullah penilaian negatif tadi, temen lain, yang juga pernah menjadi sekretaris, bahkan dalam waktu yang tidak lama telah mendapatkan jabatan lebih tinggi, lebih-lebih lagi ada pula yang mendapat jabatan dua kali lebih tinggi.

Kenapa juga atasanku sendiri tidak pernah memberikan tawaran untuk meneruskan S2.

Saking cukup seringnya pejabat-pejabat tersebut melayangkan pertanyaan-pertanyaan yang sama, timbul rasa malas jika harus bertemu dengan mereka. Timbul pula rasa malas, jika harus berbicara dengan mereka. Bukannya tidak ingin menghormati mereka, tetapi lebih karena ada rasa tidak enak dengan atasan.

Mungkin tanpa sepengetahuan mereka, sangat banyak yang sudah saya dapatkan dari beliau. Lebih berarti ketimbang jabatan-jabatan yang lebih tinggi, lebih berarti dan bermanfaat ketimbang tawaran untuk melanjutkan ke jenjang S2.

Dan ini lebih terasa ketika apa yang sudah diajarkan oleh beliau ternyata sungguh memberi manfaat yang luar biasa buat saya. Dari yang sudah diajarkan oleh beliau ini saya memiliki ide-ide kreatif untuk menciptakan inovasi-inovasi baru. Ide-ide inipun semakin megalir lagi setelah saa mengikuti training matematika kreatif yang diselenggarakan oleh  APIQ, sebuah lembaga yang penuh dengan orang-orang kreatif dengan banyak inovasi baru untuk mencetak generasi-generasi yang cerdas, kreatif dan inovatif.

Lebih lanjut tentang kreativitas, ada informasi yang saya peroleh dari web http://www.itpin.com  (sebuah web yang memuat banyak tulisan tentang inovasi dan berpikir holistic). Khususnya satu tulisan yang menjelaskan 3 komponen kreativitas, ternyata sudah saya dapatkan.

Pertama, bahwa kreativitas terkait dengan keahlian. Jika seseorang tidak sesuai dengan jenis pekerjaan yang diberikan atasannya. Sulit bagi orang tersebut untuk menghasilkan ide-ide kreatif. Di harus bekerja sama dengan orang lain yang memiliki keahlian yang diinginkan atasan tersebut.

Pengalaman saya ketika itu, dan terjadi beberapa tahun yang lalu. Saya mendapatkan tugas membuat desain sebuah topi, kemudian memodifikasi bebarapa picture galery yang ada sesuai dengan keinginan beliau. Reaksi saat itu, tidak masuk akal. Mana mungkin modifikasi tersebut bisa dilakukan.

Dan ternyata bisa. Tidak ada pemecahan masalah dari beliau ketika itu. Pokoknya beliau ingin ada beberapa item dalam picture galery tersebut dirubah sesuai dengan selera beliau (yang saya akui memap TOP BGT).

Disinilah saya baru sadar bahwa beliau telah menerapkan komponen kedua dari kreativitas. Yaitu, kemampuan untuk berpikir kreatif.

Kedua, bahwa kreativitas terkait dengan kemampuan untuk berpikiri kreatif. Hal ini dapat dijelaskan berdasarkan pengalaman saya saat itu. Bahwa modifikasi terhadap picture galery adalah sebuah tantangan. Tantangan buat saat untuk mencari bagaimana saya dapat memodifikasinya. Dan alhamdulillah, saya diberikan kebebasan untuk menemukan cara mencapai tujuan tersebut. Dengan otodidak saya berhasil memodifikasnya dengan menggunakan COREL DRAW. Berhasil dengan tantangan pertama, ternyata timbul tantangan selanjutnya untuk mengasah kemampuan membuat satu presentasi yang menarik, membuat desain buku yang menarik, membuat berbagai desain undangan, dan terakhir yang cukup melelahkan adalah membuku buku tuntutan buka sholat dan doa yang full design, full warna dengan harga yang TOP BGT.

Selesai dengan tantangan demi tantangan, akhirnya saya belajar bagaiamana editing film, dari saat pengambilan gambar hingga proses akhir mengemasnya dalam bentuk CD. Terus berlanjut beliau memberikan tantangan lain hingga akhirnya saya pun dipaksa untuk kreatif belajar dengan Adobe Flash. Dari berbagai ilmu otodidak tersebut, bahkan saya pernah membuat satu presentasi yang melibatkan keluarga sebagai objek dalam pembuatan film. (Yang ini belum sempet diliat oleh Bos, karena keduluan lengser).

Ketiga motivasi. Dijelaskan lebih lanjut oleh itpin bahwa motivasi terkuat untuk kreatif adalah motivasi intrinsik. Motivasi yang muncul dalam diri sendiri. Singkatnya ketika kita termotivasi secara intrinsik, kita tidak mencari pengakuan dari luar dalam bentuk pujian atau materi. Kita melakukannya semata-mata demi kepuasan kita, demi aktualisasi diri kita.

Dan hal ini pun saya rasakan saat itu, karena semua yang saya lakukan adalah untuk kepentingan presentasi beliau, kepentingan kegiatan beliau, dan kepentingan-kepentingan lain yang hampir kesemuannya tidak beliau lakukan semata-mata untuk mendapatkan penghasilan. Kepuasan itu pun saya dapatkan, saya puas karena saya dapat menguasai satu ilmu dengan belajar otodidak, secara tidak langsung saya pun berhak untuk puas karena hasil karya digunakan untuk memberikan manfaat kepada orang lain.

Bukankah dengan uang, kadang justru membuat motivasi intrinsik seseorang untuk berkarya menjadi surut karena digantikan oleh keinginan untuk mendapatkan uang tersebut. Uang juga tidak bisa membeli GAIRAH yang dibutuhkan untuk mengatasi hambatan-hambatan besar yang muncul selama proses kreatif.

Bagaimana menurut Anda ?

Iklan
Pos ini dipublikasikan di ayah, Umum. Tandai permalink.

2 Balasan ke Thank’s BOS

  1. Dewi berkata:

    Mbak, jadi bisa edit film niy…..tolong dong…aku pengen edit rekaman detya pas observasi kemaren…cuman ga sempet2 blajar…padahal dah ada bukunya..

    Maksudku..kalo udah final, aku pengen bagi buat temen2 sekelasnya yang ada di film itu….

    BTW…mengenai artikel di atas….berlaku buatku pas ngerjain ekskulku ini…biarpun seringkali puyeng dan bete, tapi karena gairah untuk belajar…semua proses kreatif muncul….

    Bener2 deh….untung banget aku ga nyerah seperti temanku…jadi banyak banget yang bisa kupelajari….

  2. devi yudhistira berkata:

    Mbak Dewi, yg bisa Pak Yudi mbak…
    tar aku bilangin deh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s