SELF BETRAYAL

Percakapan 2 orang antara atasan dan bawahan, yang sama-sama berprofesi sebagai seorang suami dan ayah…

“Hm, kebetulan anak-anak kamu masih kecil-kecil, saya mau nanya, pernah nggak pas malam, anak kamu bangun, terus nangis minta susu, atau menangis karena minta diganti popok?”

Pernah dong pak…apalagi anak saya kan 3, jadi bukan hanya sekali dua kali mereka menangis, bukan karena itu saja, ketika sudah tidak menggunakan diapers lagi, mereka suka bangun minta diantar ke kamar mandi. Kadang juga mereka menangis karena pas bangun saya tidak ada di sebelah mereka.

“OK, sekarang, pernah nggak, itu terjadi ketika kamu sedang tertidur pulas, dan kamu menolaknya, kamu menolak bangun membuatkan susu, kamu menolak bangun mengganti popoknya, atau missal kamu menolak bangun untuk menemani anak kamu ke kamar mandi.”

He .. he .. he …, sering pak. Tapi saya rasa itu wajar pak. Bisa jadi, semua laki-laki juga begitu pak”, aku saya dan sedikit memberikan pembenaran pribadi.

“Wajar, namun ketika kamu mendengar mereka menangis, sebagai seorang ayah yang sudah beranak tiga, pasti kamu sudah bisa mengerti arti tangisan mereka kan? Nah, di saat itu, pasti ada di hati kecil kamu keinginan untuk bangun dan menolong mereka. Ada sebersit keinginan untuk menolongnya, tapi kamu menolaknya.”

“Ya pak”, jawab saya, “Dengan beberapa alasan, saya rasa itu wajar pak. Itu kan tugas istri.”

“Apa yang sudah kamu lakukan, bisa jadi itu benar, tentu saja menurutmu. Tapi, sebenarnya kamu sudah melakukan apa yang dinamakan pengkhianatan hati nurani. Kamu sudah mengkhianati hati nurani kamu, ya, sudah menolak hati nurani kamu dengan tanpa melakukan tindakan apapun. Yang sebenarnya sudah terbersit dalam hati nuranimu untuk melakukannya. Berbicara tentang hati nurani, apa sih itu? Ketika manusia tumbuh semakin dewasa, dengan iman semakin kuat, niscaya hati nuraninya pun semakin tajam. Dan manusia-manusia seperti ini lebih banyak melakukan segala aktivitasnya, membuat satu keputusan, membuat satu kebijakan berdasar kepada hati nurani mereka. Apa sih hati nurani itu, apa yang ada di hati nurani, kok hati nurani bisa berbicara ?

Pada dasarnya semua orang memiliki harapan, cita-cita, keinginan, bahkan kekhawatiran, ketakutan yang sama. Di saat seperti itulah Allah membantu kita melalui hati nurani. Allah berbicara melalui hati nurani kita.

Seperti halnya ketika sholat, kita melakukan gerakan-gerakan sebagai wujud penghambaan kita kepada-Nya, kita mengucapkan bacaan-bacaan yang sebenarnya, kalau melihat artinya, adalah sebagai doa kita kepada-Nya. Intinya adalah, pada saat itu kita berbicara kepada Allah. Lalu, bagaimana Allah membalasnya? Bagaimana Allah berbicara kepada kita? Allah berbicara kepada kita melalui apa yang saya sebut tadi sebagai hati nurani. Dari sini kamu bisa menarik kesimpulan, kamu bisa memahami siapa hati nurani itu.

Kembali kepada ilustrasi tadi. Pada saat kamu melakukan tindakan atau perbuatan yang melawan hati nurani kamu, atau jika dicontohkan dengan ilustrasi tadi, kamu menolak hati nurani kamu untuk menolong anak-anak, kamu sudah melakukan SELF BETRAYAL.

Ini sangat berbahaya, tidak saja yang paling bahaya adalah kamu telah mengkhianati hati nurani yang bersumber dari Allah, tetapi dengan SELF BETRAYAL ini telah membawa implikasi-implikasi negatif dalam kehidupan kamu.

Karena ilustrasi yang kita contohkan tadi adalah peristiwa yang ada dalam keluarga kita, sekarang coba kita lihat apa implikasi-implikasi negatifnya.

PERTAMA, implikasi negatif terhadap istri kamu.

Ketika kamu menolak bangun, dengan beberapa alasan misalnya sudah capek bekerja seharian yang tidak lain adalah untuk kepentingan keluarga, sementara kamu melihat istri kamu pun tidak dengan cepat membuat action atas tangisan anak. Apa penilaian kamu terhadap istri?

Pasti akan menilai istri MALAS, akan menilai istri tidak peduli dengan jerih payah kamu bekerja seharian, akan menilai istri kamu tidak sensitive terhadap anak, bahkan bisa saja kamu akan menilai bahwa istri kamu tidak sayang dengan anaknya.

KEDUA, implikasi negatif terhadap diri kamu sendiri.

Misalkan, ketika malam-malam sebelumnya, entah sekali atau dua kali, kamu pernah bangun, ikhlas membuatkan susu, mengganti popoknya, mengantarnya ke kamar mandi atau yang lain.

Terus kamu berpikir bahwa, wajar saja kan, kalau malam ini, kamu tidak memberi reaksi atas tangisan anak-anak?

Dan apa penilaian kamu terhadap kamu sendiri, ketika ternyata tidak istri kamu pada malam hari ini pun tidak dengan cepat membuat action atas tangisan anak?

Kamu akan menilai diri kamu sendiri adalah korban, akan menilai diri bahwa kamu sudah adil, akan menilai diri kamu sendiri yang sensitive terhadap anak, akan menilai diri kamu sendiri bahwa kamulah ayah yang baik, ayah yang sayang kepada anaknya.

Tapi apa benar demikian? Positif memang, kalau diliat nilainya. Tapi kalau dilihat bagaimana kamu memberikan penilaian terhadap diri kamu sendiri, dimana penilaian tersebut justru timbul sebagai akibat SELF BETRAYAL, apakah hal tersebut bukannya penilaiannya yang sifatnya negatif.

Sekarang pertanyaannya, apa yang terjadi jika satu demi satu kamu telah melakukan SELF BETRAYAL. Apa akibatnya dalam kehidupan kamu?

Implikasi-implikasi negatif seperti ini tidak saja bisa terjadi dalam keluarga kita, contoh kecil lainnya misalnya ketika kita masuk lift, pada saat pintu lift mulai tertutup, kita melihat ada orang sedang berlari mengejar agar dia dapat pula ikut dalam lift ini. Bagaimana kebanyakan yang kamu liat? Karena telah terjadi SELF BETRAYAL terhadap orang-orang yang ada di dalam lift, pintu lift pun dibiarkan terus tertutup, yang sebenarnnya jika orang-orang tersebut memiliki hati nurani yang tajam, sudah pasti orang yang sedang berlari tadi dapat bergabung untuk bersama-sama menggunakan lift.

Bagaimana menurut Anda ? Berapa kali dalam sehari Anda melakukan SELF BETRAYAL? Berapa kali dalam seminggu, sebulan bahkan setahun Anda melakukan SELF BETRAYAL?

Apa yang terjadi jika SELF BETRAYAL tersebut telah menjadi batu yang sulit untuk dihancurkan?

Astagfirullah…..

Terimakasih ya Bos, percakapan ini semoga bisa menjadi pencerahan bagi saya…

Iklan
Pos ini dipublikasikan di ayah. Tandai permalink.

2 Balasan ke SELF BETRAYAL

  1. Pingkrit berkata:

    waow,, Ayah Yudi menginspirasi untuk lebih peka terhadap hati nurani… trimakasih mas, atas pencerahannya.. salam hangat untuk keluarga yudhistira 🙂

  2. jeepiid berkata:

    emm gtu ya..
    wahh maksih mas inpohna…
    moga aku ga lagi2 deh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s