Kurikulum, haruskah dicapai targetnya?

Bingung melihat kurikulum SD, sepertinya kok amat sangat tinggi target yang harus dicapai…
Yang terjadi adalah, anak diajak berlari mengejar target, guru kebingungan karena jam ajar terbatas, pemahaman anak jadi ikutan berlari-lari. Yang jadi korban akhirnya adalah anak-anak…
Ketika memilih untuk menguatkan konsep dasar materi…korelasinya dengan nilai yang diperoleh anak.
Apakah anak harus ikutan berlari mengejar target, atau slowly but sure dengan konsekuensi perolehan nilai?

Bgmn memberikan pemahaman masalah nilai ini pada anak, bahwa yg terpenting adalah kesadaran anak untuk tetap menjadi manusia pembelajar?

Sharing dong..trims.

Tulisan di atas saya buat di Facebook, dengan fasilitas yg ada memungkinkan saya berdiskusi dengan beberapa teman-teman. Tanggapan teman2 diantaranya adalah (rata-rata mereka berprofesi dosen) :

  • menganut paham John Dewey: pendidikan adalh pemenuhan segala hak yang diinginkan oleh peserta didik. masalahnya apakah itu dapat diartikan sebagai pencapaian target? pendidikan adalah kemerdekaan bagi pendidik dan peserta didik. Saat ini sepertinya kedua belah pihak belum mencapai kemerdekaan karena regulasi yang serba gonta ganti sesuai dengan gelombang radio, kadang AM kadang FM. (Dep, maen ke yogya, ntar kita sama2 ke sekolah bentukan Romo Mangun di Kalasan).
  • pendekatan konstruksivitisme : peserta didiklah yg aktif mengembangkan pengetahuan mrk, bukan pengajar atau orang lain. artinya: anak dibebaskan eksplor, dari eksplor yg sudah dilakukan maka si anak akan blajar tg jwb. kreativitas dan keaktifan anak akan membantu mrk bediri sendiri dlm kehidupan kognitif anak. Itu seandainya saja diterapkan, …  arahnya anak diajari berhitung bukan langsung blajar angka, tapi mll benda2 di alam lingkungan. Rasa pedas misalnya bukan untul ditulis untuk dihafalkan tapi anak diajak makan rujak bumbunya ada rasa pedas dikit, nhaa anak jadi mengerti bukan menghafal. (Mila, Yogya)
  • Yup, begitulah mbak…suka pusing kalau mikirin kurikulum sekarang ini. KTSPnys sih OKE karena kalau dikaji lebih dalam guru tuh diharap mampu membuat materi dan pembelajrana yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi sekeliling anak. tapi UANnya itu lo…jadinya mau ga mau sekolahan ya kejar target itu jadinya anak deh yang sering kehilangan … masa bermain karena loaded dengan PR dan seabgreg tugas yang lain. Ortupun juga ikut sibuk hehehe…Padahal pada kenyataannya tidak semua pelajaran yang kita pelajari dulu kita pakai saat ini ya. Makanya ni juga lagi mikir plus bingung nyari sekul yang multiple intelligence based curriculum di Solo. KAlau begini, ngiri deh dengan yang HS dimana anak-anaknya bisa belajar dan mempelajari sesuatu dengan sukacita karena memang mereka yang membutuhkan sesuatu itu…Mbak Mila, salam kenal dan sekaligus mau nanya, tuh yang di Kalasan maksudnya yang sekolah Khoiriyah Toyyibah itu ya? Aku juga berencana pengin main kesana…kata temenku yang meng HS anaknya T O P B G T (Galuh, Solo)
  • ak jg bingung ma sekolah2 jaman sekarang…kadang mnrtku terlalu berat….kadang ak mikir anak sekecil itu dijejali macam2 pelajaran dan hasil ujian ditargetkan mesti bagus apa gk bikin anak2 stres….lg-an kurikulum yg fokus pada target kayaknya mengabaikan hal lain yang pada dasarnya lebih penting yaitu proses ..adakah sekolah yang tidak melulu menuntut anak untuk melakukan kewajibannya tp juga mempertimbangkan hak anak untuk tumbuh berkembang sesuai dengan bakatnya,bermain, dan menikmati proses belajar itu sendiri tanpa kewajiban untuk kejar target?…(Esti, Jakarta)
  • kalo melihat dari anakku sendiri…kok dia belum ngerti tentang prestasi…ga tau juga apa beda nilai 100 dan 80 untuk dia. belajar.. baca …bukan hal yang diminati karna dia masih pingin main2…jadi kalo dituntut untuk memenuhi target2 kok ya kasihan…tapi kalo melihat hasilnya sih tidak mengecawakan. hanya saja kadang2 materi yang diberikan sepertinya masih di luar logika anak seumurnya. jadi menurut saya…alangkah baiknya jika kurikulum itu tidak based on target yang diinginkan oleh para pendidik, namun lebih mengarah pada kemampuan minimal yang harus dimiliki anak sesuai dengan usianya….dan kemampuan ini juga bukan yang dipaksakan…karna setiap anak punya kemampuan yang berbeda…matematika tidak mendapatkan nilai 100 bukan berarti anak tidak pandai…tetapi mungkin punya kemampuan lebih di bidang yang lain…ok ibu2…jangan sedih jika anak tidak dapat nilai yang bagus untuk semua pelajaran…saya ok ok aja tuh meski hobi anak melukis….(Sri, Jakarta)
  • Td siang aku ngambil rapot tengah semester anakku Fia kelas 2 SD. Pas könsultasi terlihat banget gurunya menitik beratkan pada nilai minimal yg hrs dicapai tnp tau kesulitan anak itu dmn dan bgmn mengatasinya. Kyknya berusaha mempertahankan akreditasi sekolah. Katanya Fia kalau njawab ngawur terutama Pkn..ngawurnya dimana.? Katanya tdk sesuai di buku.. Hmm..aku jd ingat Fia waktu sekolah di Sekolah Alam Insan Mulia, anak dibebaskan jwb soal sesuai persepsi n pemahaman dia..bukan harus text book. Pas ada PR Pkn.. Menurutmu pekerjaan sbg Ibu itu bgmn? Tau ga jwbanya: Susah..! Jwbn itu aku biarkan saja pdhl kalo mnrt buku jwbanya : tugas mulia. Krn dia belum tahu istilah mulia itu deskripsinya spt apa..makanya jwbnya adalah apa yg dilihat n dirasakan sehari hari. (Wawan, Semarang)

Bagaimanapun, kurikulum sudah dibuat oleh institusi yg memiliki pakar2 dan kompeten di bidang ini, jadi kalau kita tidak setuju alias tidak sepaham, mau tidak mau kita harus punya kurikulum sendiri di rumah, dengan target dan capaian yg kita tentukan sendiri, sesuai kemampuan anak tentunya, siap dengan resiko (yg mungkin bisa saja terjadi) nilai di sekolah di bawah standar (bukan berarti anak bodoh kan?), artinya bahwa ortu harus punya komitmen yg kuat untuk memberikan pembelajaran yang harmonis dari segi akhlak dan akademis.

“Pemenang tidak harus menjadi juara, juara belum tentu seorang pemenang”

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Anak-anak, Mama, Umum. Tandai permalink.

3 Balasan ke Kurikulum, haruskah dicapai targetnya?

  1. rully berkata:

    yang jelas, pemerintah kudu dan harus bertanggung jawab atas pendidikan warga negaranya. Bukan hanya keluarga (ayah ibu), namun juga pemerintahlah yang mengemban tanggung jawab pendidikan generasi bangsa, karena pemerintah yang mempunyai wewenang untuk mengubah, menerapkan, atau mengganti sistem pendidikan yang ada.
    So, jangan lewatkan kesempatan pemilu untuk memilih pemerintah kita… Jangan biarkan orang2 yang tidak bertanggung jawab, yang hanya mengeruk keuntungan pribadi, untuk menduduki kursi pemerintah. Pemerintah bukan hanya presiden dan kabinetnya lo, tapi juga DPR. Kalo presidennya bagus, tapi DPR-nya jelek, maka sistem/UU yang dibuat juga gak bakalan bisa bener…
    Jangan golput, kalau memang bagi kita masih ada harapan 😉

  2. Ping balik: Pilih Nomer 8 « Belajar dari anak-anak

  3. Ping balik: Sekolah…pendidikan…pengasuhan… « Belajar dari anak-anak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s