Kostum Bike To Work

Pulang kantor ketemu dengan 2 orang wanita dan pria yang menggoes sepeda lipatnya di tengah kemacetan dan keruwetan jalan Salemba, Jakarta Pusat. Hm, ada yang berbeda dengan dengan para biker BTW yang sering saya lihat di jalanan, mereka memakai baju biasa, celana panjang, kaos, helm.

Kok jadi kepikiran  tentang kostum ya….

Jauh sebelum adanya BTW, ada seorang Bapak yang sangat memikat perhatian kami baik pulang maupun pergi ke kantor. Ya, Bapak yang menggoes sepedanya entah darimana, yang jelas beliau datang dari arah yang lebih jauh dari Pondok Bambu dan kantornyapun lebih jauh dari Lapangan Banteng. Lucunya, keluar komplek ketemu si Bapak…eh sampai di Senen ketemu lagi…wah, tujuan yg searah tp mungkin jalur yg ditempuh berbeda, waktu tempuh kami berarti tidak beda jauh…

Kembali ke masalah kostum, si Bapak menggunakan celana panjang kantor(bahannya seperti celana sering digunakan pria ke kantor itu lo), dengan atasan kaos berkerah yang dimasukkan rapi ke dalam celana, menggunakan ikat pinggang, sepatu kantor biasa juga, sepedanya juga sepeda biasa (bukan sepeda lipat, ataupun sepeda2 yang sering dipake BTW).

Terus apa hubungannya dengan kostum BTW???

Jadi kepikiran aja,

Apakah memang harus menggunakan pakaian seperti itu? kalo iya, kenapa para pengguna sepeda motor tidak berpakaian seperti pembalap??? hehehe

Atau sekedar mode dan trend saja ?

Bagaimana kalo menggunakan celana panjang (semacam training) dan kaos biasa???(tentu saja tetap harus memperhatikan standar keamanan menggunakan helm), bagi saya terlihat lebih oke, secara, tempat yg dituju kan kantor…

Kapan ya kami bisa ikut serta mensukseskan BTW???

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Umum. Tandai permalink.

2 Balasan ke Kostum Bike To Work

  1. rully berkata:

    bukan BTW mbak, tapi B2W…
    kalo menurutku, untuk menjaga dunia tetep green, gak hanya dengan B2W… malah kayaknya lebih bagus, kalo kita naik angkutan umum seperti kopaja, metromini, angkot, busway, dll…
    karena dengan kita naik angkutan umum, misal angkot, akan ada efek multiplier yang lebih besar. misal ojek, bayar angkot, beli aqua, dll… kita akan memberikan keuntungan pada supir angkot, supir angkot bisa dapet uang buat nyekolahin anaknya, anaknya jadi pinter, bisa mengangkat derajat keluarganya, dll…
    hehehe… it’s just my humble opinion…

  2. Ping balik: Pilih Nomer 8 « Belajar dari anak-anak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s