Ajari mama seperti cara bu guru menyelesaikan masalah di sekolah!

Dari judulnya sudah bisa ditebak ke mana arah topik yang akan ditampilkan. Ingin posting masalah ini sekedar buat sharing dengan teman-teman semua.

Kenapa ingin berbagi cerita? Tidak lain karena kalimat tersebut adalah sebuah kalimat yang sanggup mengubah hari-hari kami (mama dan Rahma) menjadi lebih bersahabat. Entah apakah itu bisa dibenarkan dari sudut psikologi atau tidak…tapi itulah kalimat yang otomatis terlantar dari mulutku …tanpa pikir panjang…

Awalnya mama sedang setrika baju, ayah sedang ke bengkel, Syafa tidur. Rahma dan Rafif bermain peran di luar. Sampai akhirnya terjadilah perseteruan antar mereka…sambil memperhatikan apa yang diucapkan masing2 anak dengan cermat…sambil mbatin sedih mendengarkan nada bicara Rahma yang semakin meninggi (dan tentu saja tidak lupa menirukan cara marah mamanya)…Astagfirullah…apakah generasi berikutnya (anak-anak Rahma) bakalan masih merasakan hal yang seperti ini karena kesalahanku…terus kapan berakhirnya ya? kenapa begitu susah merubahnya????apa kemauanku kurang kuat? atau malah tidak ikhlas???..tanpa terasa air mata memburai…terisak-isak sendiri, istighfar, setelah agak tenang…kupanggil Rahma dan setelah mendekat,

Rahma : ‘Mama menangis?mama sedih?’

Ma : Ya, mama sedang sedih nak..Rahma kalo sudah dewasa ingin seperti mama ga?

R : ‘Kadang ingin, kadang enggak’ (dari gaya bicaranya sepertinya dia lebih cenderung ke enggak)

Ma : Kenapa?

R : Aku ga mau kalo dewasa nanti marahnya seperti mama…hm, tapi aku juga mau hiasin bekal sekolah seperti mama.

Ma : Ya, mama tidak ingin Rahma kalo sudah jadi ibu cara marahnya seperti mama, karena itu tidak benar dan tidak  disukai Allah. Kira-kira kita bisa bekerjasama ga?

R : Ya ma, bisa, gimana caranya ya ma?

Ma : Kalo di sekolah, setiap ada masalah bagaimana cara bu guru menyelesaikan dan mengingatkan teman-teman yang lupa peraturan? Rahma tau caranya ga? Rahma suka ga diingatkan bu guru?

R : Aku tahu ma…bu guru enggak pernah marah, hanya mengingatkan saja tanpa berteriak…

Ma : Kalau begitu, ajari mama seperti cara bu guru menyelesaikan masalah di sekolah. Rahma mau kan? mama juga pengen belajar lewat kakak, kan kakak yang lebih sering melihat bu guru di sekolah. Bagaimana kalo mulai sekarang, setiap ada masalah diselesaikan dengan cara seperti bu guru?terus kalo mengingatkan adik2 boleh juga seperti bu guru? biar mama bisa melihat dan tau kak..

R: Iya ma, aku bisa kok kasih tau mama, kita bekerjasama ya ma.

Ma : Terima kasih kak, mama bangga sama kakak, semoga kakak menjadi anak yang sholehah. Maaf ya kak, mama masih harus belajar enggak marah-marah. Kakak jangan lupa mengingatkan mama kalo mama lupa.

R : Iya ma, terima kasih ya ma, kakak sayang mama (sambil meluk), kakak juga bangga punya mama seperti mama, biarpun mama suka marah, soalnya aku suka lupa peraturan, maaf ya kalau kakak punya salah…

Sejak itu, alhamdulillah, jika terjadi masalah antara anak-anak, Rahma akan tampil memukau dengan gaya dan bahasa seperti guru di sekolah (meski kadang masih muncul copy-an mamanya)…Subhanallah….banyak kalimat-kalimat indah yang tidak pernah kuucapkan saat menyelesaikan masalah dan saat mengingatkan mereka…suasana jadi lebih damai…tinggal mamanya nih yang harus terus belajar dan belajar, harus mau berubah demi kebaikan selanjutnya….

Yang menjadi pertanyaan dalam benakku, apakah semua itu akan membebani Rahma ya (dari sisi psikologis)????Egoiskah aku dalam hal ini???

Boleh dong masukannya….

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Anak-anak, Kakak Rahma, Mama. Tandai permalink.

3 Balasan ke Ajari mama seperti cara bu guru menyelesaikan masalah di sekolah!

  1. erva berkata:

    vi.. kadang anak-anak sering tidak kita duga kedewasaannya. seperti Mba Rifa sekarang lebih menjadi teman sharingku dan yang selalu mengingatkan kalo aku berbuat salah. Dia membuatku selalu sabar dalam menghadapi kenyataan. Katanya kalo yg suka marah2 itu syetan jadi mending ibu kalo ngasih tau itu suaranya tidak kencang-kencang dan kalo berbuat salah harus minta maaf trus langsung deh bacain hadist2 pendek seperti hadist jangan marah, hadist jangan malas dan hadist2 lainnya. Aku juga tdk menyangka kok bisa ya anak2 dewasa seperti itu (apa tidak sok tua gitu). Kita orang tua kan berusaha menjalani kehidupan dengan benar dan anak2lah yg dapat membuat hidup ini lebih benar karena anak2 menyerap ilmu yg benar dan langsung mempraktekannya.

  2. Dewi berkata:

    Mbak..inilah salah satu poinku buat nerusin sekolah Detya di Istiqlal..sekarang kami juga begitu..saling mengingatkan ketika nadaku sudah meninggi..
    Bener-bener bikin ngenes ketika Detya sudah copy gaya bicaraku ketika main peran sama adik-adiknya..dan akhirnya..wisam pun juga mulai gampang meninggi nada suaranya…
    Jadi semuanya bermula dari diriku sendiri dan mulai menular ke 3 anakku..
    kalau ga demi mereka…kapan lagi aku belajar mengendalikan emosi..? (ga bisa lagi berlindung pada kalimat..”sudah bawaan dari sononya..”)

  3. apiqquantum berkata:

    Pengalaman yang sangat menarik!

    Tuhan Islam berbeda dengan Tuhan yang lain.

    Dalam Asmaul Husna Allah memiliki nama Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Lembut. (Nama-nama Jamaliah)

    Tetapi Allah juga memiliki nama Maha Perkasa, Maha Mengadili, Maha Menghukum. (Nama-nama Jalaliah)

    Kita juga menyerap nama Jamaliah mau pun JalaliahNya. Tinggal proporsi dan konteks yang tepat itu menjadi penting.

    Bicara proporsi harus dihitung pakai matematika kayak nya ya???

    Salam
    angger

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s