sahabat pena masa kecil…

Pernah punya sahabat pena ??? Pengen cerita tentang kisah surat menyurat  saya semasa kelas 1 SD dulu..

Saat materi Bahasa Indonesia yang diajarkan menyinggung masalah korepondensi, bu guru menganjurkan semua murid menulis surat kepada seseorang yang datanya bisa dilihat di majalah/koran. Sebagai murid yang baik, sepulang sekolah saya ajak adik (Dian) mencari data di majalah Bobo. Dan kami berdua menetapkan pilihan masing-masing. Saya memilih seorang anak TK yang bernama ‘Umar Alfaruqi’ dari Pontianak karena mempunyai kesanaan ikut kegiatan Karate (sama-sama masih kecil tapi sudah coba-coba ikutan karate). Dian memilih “Nevy Gobel” (kalo ga salah) dari Jakarta, saya kurang tau pasti kenapa dia memilih  nama itu. Saat itu, kamipun lancar berkomunikasi via surat, meski harus menyisihkan uang jajan buat beli perangko. Yang saya ingat dulu Dian pernah menanyakan ke Nevy tentang embel-embel Gobel di belakang nama Nevy, dan ternyata kata Nevy itu adalah nama turun temurun dari kakeknya. Dan belakangan kami ketahui bahwa nama itu adalah nama orang yang super terkenal, pemilik national gobel….pantes saja dulu si nevy ini kalo kirim barang ataupun poto, keren-keren, sering keluar negeri dan rumahnya bagus banget…wah, untung kami masih kecil dan lugu, jadi gatau kalo dia cucu/anak orang penting…

Kembali ke ‘Umar Alfaruqi’ yang biasa dipanggil Kiki. Dari surat-suratnya saya jadi tahu banyak informasi tentang kota Pontianak, makanan khas, kehidupan di sana, cuaca, tugu khatulistiwa, adat, dsb. Bahagia banget loh punya sahabat dari pulau lain, meski surat2 yang saya kirim itu yang membalas tidak lain adalah ibunya Kiki, karena Kiki kecil belum bisa menulis. Sampai ketika Kiki sudah kelas 2 SD, baru dia berani menulis sendiri dan minta maaf kalo selama ini yang nulis surat mamanya. (makasih ya tante, yang rela meluangkan waktu membalas surat saya). Kami terus bertukar kabar, meski belum tentu sebulan sekali, tapi komunikasi terus berlangsung. Sampai ketika Kiki sudah beranjak SMP, mulai deh dia jarang menulis surat..ya, namanya cowok ABG, pasti dah punya kegiatan sendiri…sayapun sudah SMA, dan tidak pernah ada kabar lagi. Ketika saya kuliah, tiba-tiba saya dikejutkan sebuah surat yang ditulis oleh seorang anak kecil bernama Diah. Pas dibuka, ternyata Diah ini adalah adik dari Kiki yang masih SD…rupanya Diah ingin belajar menulis surat juga seperti kakaknya. Saya geli melihat tulisan dan isi tulisan dengan bahasa khas anak kecil, dan jadi inget mungkin dulu mamanya Kiki juga punya perasaan yang sama dengan saya pas baca surat2 saya ya). Diah ini menginformasikan bahwa dia sering ikut cerdas-cermat, juara kelas, dan menanyakan kiat2 belajar pada saya….hihihi..lucu ya…Namun lambat laun, saya mulai bosan menanggapi suratnya itu (hm, maafkan saya ya Diah, padahal saya pernah merasakan bagaimana perjuangan membuat surat). Waktu itu saya beranggapan, ngapain nanggepin suratnya anak kecil, ga terlalu penting….oh..jahatnya saya…setelah saya menjdi seorang ibu, baru deh saya merasa sangat bersalah sudah mengecilkan niat baik dan usaha Diah ini.

Setelah saya menjadi ibu dari 2 orang anak, saya diberi kesempatan untuk dinas ke Pontianak. Yang ada dalam pikiran saya, saya harus mencari dan mampir ke rumah Kiki dan Diah, paling tidak saya ingin minta maaf sama Diah. Tak tahu nomer telpon, tak tau alamat pasti mereka sekarang tinggal di mana, saya minta dijemput sahabat suami saya (Enov dan keluarganya, trims ya nov..). Kepada Enov dan istrinya saya mengutarakan maksud saya mencari Diah. Mereka heran, kok saya punya sahabat pena bisa sampai bertahun-tahun…alamat yang saya inget juga hanya jalan P. Natakusuma, Sumur Bor dan gang/nomor rumah saya lupa (itu juga karena saya sendiri yg selalu nulis di amplop, jadi masih untung ada yg keinget). Enov langsung bilang dia sangat paham daerah itu, langsunglan saya meluncur ke sana, setelah sampai dan melewati beberapa gang, saya memilih salah satu gang yg sepertinya tidak asing, gang Rencana kalo ga salah. Terus nomernya? (kalo ga salah3, ternyata emang 3)Dengan perasaan yang tidak menentu, nekat saya nanya ke ibu-ibu yang ada di depan rumah pertama dalam gang dengan menyebut nama Diah dan Kiki (paling tidak mereka tinggal di sini sejak kecil, setau saya belum pernah pindah rumah) dengan harapan mereka belum pindah, Ibu itu malah balik nanya, “anda siapa ya?”…setelah saya menjawab bahwa saya Devi, tiba-tiba ibu itu langsung memeluk saya…lo, ada apa ini…tak disangka tak dinyana, ternyata ibu ini adalah mamanya Kiki yang selalu sabar membalas surat2 saya dulu…mengharukan bener loh…saya juga kok malah nangis waktu itu…gara-gara ucapan beliau “andai papa Kiki masih hidup, pasti papa Kiki seneng banget Devi bisa sampai disini”. sambil memegang-megang wajah saya… Baru hari itu saya tahu bahwa papa Kiki sudah meninggal, saya tambah merasa bersalah pas tau kalo Diah SMA-nya masuk Taruna Nusantara di Magelang…yah, paling tidak bisa menambah saudara di pulau Jawa, apalagi nenek saya tinggal di Temanggung, 40 menit dari Magelang…Karena waktu yang terbatas, jam 09.00 saya harus sudah sampai di kantor tujuan, saya pamit dan berjanji akan mampir sore hari jika memungkinkan. Saya mendapat nomor hp Diah, dan mamanya Diah berharap saya bisa bertemu dengan Diah yang sudah jadi dosen. Sedangkan Kiki sudah menikah, dan tinggal di tempat lain.

Sorenya hujan mengguyur kota Pontianak, tidak memungkinkan saya ke rumah mereka lagi, akhirnya saya putuskan untuk menghubungi Diah dan datang ke kampusnya, janjian di deket ATM. Pas ketemu…hm, gembira banget deh…dan dia juga mengungkit masalah “ya, dulu aku kan sering kirim surat, tapi mungkin mbak Devi sudah banyak kesibukan, jadai tidak dibalas…mbak, aku ga nyangka banget bisa ketemu mbak langsung, nanti datng ya pas diah menikah???” saya hanya bisa minta maaf dan berharap bisa datang dalam acara pernikahan Diah. Namun saat acara itu berlangsung, Rafif sedang sakit, jadi kami sekeluarga tidak bisa datang.

Sepulangnya dari sana, saya cerita ke mama dan Dian tentang pertemuan  kami, mereka ikut seneng dan terharu sampai menangis loh…..segitunya ya….ketika cerita ke beberapa teman, mereka juga ikutan excited seneng mendengar cerita saya dan berasa takjub dengan kisah korespondensi kami…Saya jadi membayangkan Rahma, apa iya dia mau punya sahabat pena seperti saya dulu? hari gini, komunikasi mudah, ada HP, internet..mungkin ga via surat tapi via internet kali ya…^_^

Diah dan keluarga besar di Pontianak, semoga tali silaturahmi di antara kita tidak terputus lagi ya…amien.

Masalahnya..tetep aja penasaran sama kabarnya Kiki dan seperti apa dia sekarang…hehehe..

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Mama. Tandai permalink.

5 Balasan ke sahabat pena masa kecil…

  1. Rully berkata:

    Subhanallah…
    Aku juga dulu sering surat-suratan Mbak. tapi jadi keputus karena akunya yang males bales hiks hiks…
    Padahal ada temen penaku yang minta ketemuan jg lho… Dasar akunya maless….

  2. galuh berkata:

    Kak Rahma dan kak Rafif…yang sabar nunggu surat dari Salsa ya…udah dibikin kok…

  3. missbantul berkata:

    Sekedar menambahkan Gobel adalah salah satu nama fam dari Gorontalo. disini banyak mba, yang pake nama belakang Gobel. Nama ini diturunkan dari garis ayah. seperti halnya Lamusu, (chintya)..

  4. devi yudhistira berkata:

    +++Wah mbak galuh, kita juga tinggal ngeposin doang…maklum, kemaren ribut banget pengennya beli prangko di kantor pos, padahal kita dah punya stok di rumah..

    +++Vien, aku kemaren juga baru tahu ttg marga itu..hebat banget ya orang gto…

  5. leady octaviani berkata:

    jika qta tdk pny sahabat pasti qta sedih dan qta slalu mencari sahabat yg baik utk memmbantu qta!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s