Tragedi sendal jepit Dian

Ukuran tubuh saya dan adik saya, Dian, sangat jauh berbeda… karena Dian sangat mungil untuk ukuran teman-teman sebayanya. Kebiasaan saya dan Dian pun sangat berbeda, dia orang yang rapi, selalu menjaga kebersihan (tapi berlebihan), teratur, sangat peduli dengan kesehatan, menjaga barang-barangnya dengan rapi, entah kenapa kok barang-barang miliknya selalu lebih awet daripada saya…sedangkan saya…(pasti kebalikannya). Usia kami hanya terpaut 1,5 tahun. Kami sering sekali berantem gara-gara kebiasaan dan karakter kami yang bertolak belakang. Kebiasaan saya yang paling tidak disukainya adalah suka sembarangan pake barang milik dia tanpa ijin…(habis kalo minta ijin ga boleh, dengan alasan takut melar..baik sandal, sepatu, baju). Jadi yang ada di benak saya adalah dia ‘pelit’ hehehe. Saya juga suka meminjamkan barang-barang miik saya ke teman, kadang kalo ada teman yang ukuran badannya sama dengan Dian mau pinjam baju ya saya pinjamin baju Dian (dan saya tidak bertanggungjawab masalah pengembaliannya yang kadang ga dikembalikan)…

Suatu saat ada kisah lucu akibat kekhawatirannya dalam hal ‘peminjaman barang’. Saat itu mama mau pergi ke Bogor mendadak naik bus. Nah, karena tergesa-gesa, tanpa sadar sandal jepit yang dipake mama adalah sandal Dian. Sandal kesayangan warna merah bergaris kuning. Pas nyadar sudah sampe terminal, bus dah mau berangkat. Wah, saya tersenyum geli membayangkan reaksi Dian kalo tahu hal itu, secara mama kan lebih besar daripada saya, lebih berat juga….pas Dian tau, dia nangis sambil ngomel membayangkan betapa melarnya nanti sendal jepit kesayangannya itu. Dian pun menantikan kepulangan mama dengan tidak sabar.

Tibalah saat yang dinanti2 Dian, mama pulang….langsung Dian menangis menanyakan alasan mama kenapa pake sendal jepitnya…tak dinyana, mama dan papa malah langsung tertawa terpingkal2 kegelian. Saya dan Dian pun malah jadi melongo kebingungan. Melihat sendal yang dipake mama pulang bukan sendal merah kesayangannya, Dian langsung menuduh sendalnya ditinggal di bogor. “Pasti ketinggalan di Bogor, pasti melar deh!” Mama bilang nggak ketinggalan kok (masih sambil senyum2 kegelian), mama mengeluarkan sebuah bungkusan dari tas, dibungkus tas plastik putih, terlihat bahwa isinya adalah sendal jepit merah yang dimaksud sambil bilang sendalmu ga melar kok Din…pas dikeluarin ternyata sendalnya memang ga melar…tapi malah jadi kecil seukuran mouse komputer standar…hihihi…mama tertawa terpingkal-pingkal…Dian yang tadinya mau kesel juga jadi ikutan tertawa karena satu sendalnya jadi mengecil gara-gara sama mama ditaruh di atas kap mesin bus ditindih pake tas….mama juga kaget pas sampe Bogor kok sendalnya dicari-cari ga ada, yang tersisa hanya sendal yang mengkeret itu…. dan buat kenang-kenangan sendal itupun dibawa pulang lagi biar si empunya puas melihat sendalnya ga melar.

Sekarang saat sudah sama2 dewasa, saya jadi berhati-hati agar tidak sembrono menggunakan barang (terutama sendal jepit) milik Dian…padahal sekarang ukuran badan kami tidak jauh berbeda (sama melarnya setelah punya anak…). Untunglah sekarang kita sudah ‘akur’ dalam hal pinjam-meminjam, pertanda kami masing-masing juga berusaha mengubah kebiasaan buruk masing-masing…

Tante Dian, besok mama mau pinjem sendal jepit ya…..Din, semoga bisa jadi hiburan kalo kamu baca ini…^_^

Iklan
Pos ini dipublikasikan di iseng, Mama. Tandai permalink.

11 Balasan ke Tragedi sendal jepit Dian

  1. Rully berkata:

    Wakakak… Aku senyum-senyum sendiri baca postingan Mbak… šŸ˜€
    Bte, gak ikut seminar tentang Glenn Doman dan hal-hal terkait anak sabtu dan minggu besok di Istora Mbak???

  2. yudhistira31 berkata:

    Aku dah pernah ikut jeng, dan ternyata aku ga berhasil menerapkan metode itu…hahaha…kalo berhasil pasti dah kutulis di blog…otomatis…suamiku lagi ke singapur, jadi gabisa ikut2 acara itu, padahal pengen banget loh.

  3. Rully berkata:

    waa.., lagi ke singapur?? oleh2nya ya Mbaak… hehehe…

  4. yudhistira31 berkata:

    wah…boro2 buatmu rul…aku aja kagak dapet…

  5. eM berkata:

    *senyum…
    cerita kenangan walau dulu terasa bete..
    bila di kenang akan menjadi cantik ya mbak.. šŸ˜€

    salam buat Dian yang udah jadi tante..
    btw ini posting 2008 lho ..?? hmm..??
    kapan posting lagi mbak..? ^_^

  6. Prima berkata:

    Hahhaahhaaha…. aku baru tau jepit bisa mengekrut kena panas…

    eh mbak, maksudnya komen di blogku apa ya? yang mbak bilang: pemisahan zone itu, aku ndak pernah denger tuh… (-_-‘)

  7. mamaray berkata:

    ini kan idenya Om NH… hahahaha…

  8. rully berkata:

    aku bingung waktu liat komen. lho, komenku kok di atas, perasaan aku baru baca. ternyata postingan 2008 toh… :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s