Maafkan aku, papa dan mama

Dalam suatu pelatihan yang pernah saya ikuti, ada hal sungguh luar biasa buat saya. Saat itu kami peserta pelatihan diminta membuat tulisan di selembar kerta kecil, pesan dari instruktur adalah “tulislah tentang ayah dan ibumu”

Saya dan peserta lainnya menuliskan dalam kertas tersebut…dan membaca ulang.

Kemudian setelah selesai, instruktur bertanya sambil tersenyum…bagaimana, apa yang saudara tuliskan di kertas itu?…peserta pada senyum-senyum dan ada juga yang membaca sedikit dari jawaban…

Yang paling mengejutkan….”Nah, semua pasti tau jawaban masing-masing dengan pasti…permasalahannya, jika suatu saat nanti anak anda diberi kesempatan ikut pelatihan seperti ini, kira-kira apa yang mereka tulisakan tentang anda?”…

Ups…iya ya, setelah kulihat lagi jawabanku, astaghfirullah….kenapa ya kok “keburukan orangtua” bisa tampak dengan mudah untuk dituliskan daripada “kebaikan mereka”

Rata-rata jawaban peserta…..keburukan lebih banyak daripada kebaikan…meskipun semua tahu pada intinya tujuan orangtua adalah baik dan saking sayangnya sama anak.

Penyakit yang ada di hati saya…tentang pola didik orangtua yang cukup membuat saya berpandangan bahwa papa adalah seorang yang otoriter (padahal kalo diinget-inget lagi, ada saatnya beliau sangat demokratis), pelit (padahal saya selalu bebas membeli buku bacaan dan buku pelajaran yang saya mau, sementara teman-teman saya tidak), galak (padahal saya sering juga melihat beliau menangis ketika adik jatuh dari tempat tidur, atau saat saya sedang sakit parah..hihi…saya pernah menelan uang logam 100-an yang besar dan sempet berhenti di tenggorokan), bahkan di saat pensiunnya sekarang ini saya masih beranggapan beliau ini cari uang terus mau buat siapa sih sampai malas jenguk cucu karena sibuk(padahal mungkin beliau hanya ingin mengisi masa pensiunnya dengan suatu usaha yang alhamdulillah bisa dibilang rame dan mungkin beliau tidak ingin merepotkan anak cucu, setelah dipikir-pikir harusnya sayalah yang sering menengok beliau yang sudah sepuh)…

Namun kata-kata yang saya tulis dalam tanda (…padahal…) di atas tadi lebih sering hilang dalam benak saya saat saya berbicara/bertemu/mengingat orangtua…lebih sering kata yang di depan tanda (…padahal…) yang muncul di benak saya…oalah..error sekali saya…akibatnya saya sering sekali berselisih paham, dan berbicara dengan nada meninggi…

Sekarang saya terus berdoa agar diberi kekuatan untuk mencoba selalu mengingat kebaikan mereka…harus mengikhlaskan apa yang kita anggap buruk tentang mereka…

papa, mama maafkan anakmu ini…terima kasih atas semua yang telah diberikan kepadaku, aku tidak tau dengan apa saya harus membalasnya..aku hanya bisa mendoakan papa dan mama, aku tidak akan menuntut harus bagaimana papa dan mama, tapi sudah saatnya aku yang harus selalu bersikap baik dan menghilangkan penyakit di hatiku ini…ya Allah, terimakasih Engkau beri aku kekuatan untuk ini…

Oya..pesan terakhir yang kutangkap dari pelatihan adalah “jika ingin mendidik dan mengasuh anak kita dengan baik, penyakit hati terhadap orangtua semacam yang saya punya ini harus benar-benar dihilangkan karena akan sangat mempengaruhi konsep diri kita…”

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Anak-anak, Harmony, Umum. Tandai permalink.

2 Balasan ke Maafkan aku, papa dan mama

  1. iie berkata:

    duh…jadi mo nangis deh….

    Hmm…begitu ya?hrs diilangkan dulu pikiran negatif thd ortu.. dicoba deh! thx ya…

  2. fafaahmad berkata:

    Memang yang paling sulit adalah menguasai ilmu ikhlas (seperti yang digambarkan dalam sinetron Kiamat Sudah Dekat)…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s