Lomba Upacara

Mempertahankan Piala Bergilir yang sudah diraih menjadikan hal yang sangat membebani murid-murid dalam mengikuti lomba upacara bendera. Ada perasaan takut gagal mempertahankan kejuaraan itu. Kebetulan adik saya, Dian menjadi salah satu personil yang terpilih ikutan lomba itu sebagai pembaca Naskah Pembukaan UUD 1945. Seperti biasa, pak/bu guru memberikan wejangan2 setiap kali latihan yang intinya mengingatkan tentang pentingnya mempertahankan Piala itu. Sedangkan persiapan latihan di sekolah saya (kami tidak bersekolah di tempat yang sama) lebih santai dan tidak terlalu ngoyo (maklum, SMP Dian ini langganan juaranya).

Saat lomba tibalah. Karena menurut pengalaman, kesalahan dalam upacara lebih sering terjadi saat pengibaran bendera, yang kadang benderanya terbalik, maka yang bolak-balik dicek ulang oleh bu guru adalah lipatan bendera yang akan dikibarkan oleh regu  itu. Tibalah giliran mereka tampil, tentu saja antara pede bakalan jadi juara bercampur dengan rasa takut melakukan kesalahan yang bisa menyebabkan kegagalan (wuih, kasian ya..). Sebagai kakak, bagaimanapun tetep menantikan saat Dian beraksi membaca naskah Pembukaan UUD, biarpun kami kubu yang saling bersaing. Diawali pembina upacara (guru) menerima naskah Pancasila. Setelah Guru itu membuka dan membacakan naskah itu, pandangan guru tsb sangat tajam ke arah Dian. Dian yang saat itu hendak melakukan tugas jadi bingung, sambil mereka-reka maksud pandangan guru itu, dan dia hanya menduga guru itu berpesan via pandangan matanya agar Dian tidak melakukan kesalahan. Lalu Dian mulai membuka dan membaca naskah itu, sekilas sebelum membaca dia terlihat bingung. Namun dia membaca dengan sangat lancar, sebagai kakak saya ikut senang melihatnya. Setelah selesai membaca, guru itu tersenyum kepada Dian, barulah Dian mengerti apa maksud pandangan tajam sebelum dia membaca naskah tadi.

Setelah selesai…bu guru yang tadi jadi pembina upacara langsung menyalami dan memeluk Dian. Barulah terkuak arti senyum tajam itu, tidak lain adalah karena naskah Pancasila dan naskah pembukaan UUD itu sebenarnya telah tertukar, pantas pas baca naskah Pancasila, bu guru seperti agak kaget, pasti membayangkan nasib Dian dan kegagalan yang sudah kebayang di depan mata. Pancasila masih mungkin hapal tanpa baca, tapi kalo pembukaan UUD 1945 kan lumayan panjang, tanpa naskah pasti grogi…Rupanya tidak salah Dian ditunjuk sebagai pembaca naskah itu, soalnya pas SD dia kan juara lomba cerdas cermat P4, pasti aja kalo cuman naskah Pembukaan UUD 1945 sih sudah diluar kepala….meski menurut pengakuannya dia sempet kaget banget pas naskah yg dibawa itu adalah naskah Pancasila.

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Mama. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Lomba Upacara

  1. bunda bingkie berkata:

    mam, brarti dian hapal pembukaan uud dong ya? padahal itu panjang lho.
    tapi kalo sering mbaca sih lama2 emang hapal ya. dulu, jaman saya sma, ada yang salah baca pembukaan uud lho, jadi saking ‘barisnya’ banyak, sampe keblibet, ada beberapa baris yang dibaca ulang. kasian deh… kan didepan orang satu sekolah…
    hihihi… jadi nostalgia jaman saya aktif di kelompok pengibar bendera sma dulu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s